Kisah tentang dua orang lawan jenis yang menjalin suatu hubungan persahabatan.
Menghabiskan waktu berdua, saling bertukar gombalan, dan perhatian satu sama lain membuat hidup mereka seakan saling bergantung.
10 tahun mereka selalu bersama tetapi sam...
LAST PARTT!! THANK U BANGET YANG UDAH BACA CERITAKU DARI AWAL SAMPAI HABIS LUV U FULL🥹💗
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Fanny termenung diteras rumah, sendirian. Ia hanya ingin menenangkan pikirannya sejenak, bersama senja sore itu.
Fanny menghembuskan nafas pelan, ingatannya kembali memutar peristiwa beberapa hari yang lalu. Kejadian yang membuat hubungan dirinya dan Fino semakin renggang, tapi bukan karena kepentingan OSIS.
Masalah mereka jauh lebih serius.
Ia memandangi ponselnya berulang kali, memastikan apakah ada notif chat dari Fino untuk meminta maaf padanya.
Namun nihil. Sejak kejadian itu, Fino justru tidak menghubunginya sama sekali.
Menyakitkan.
"Gue putusin dia kapan, ya?"
~~
"PANAS BANGET ANJIR, GABISA DIATUR KECEPATAN 2x KAH!?"
Fanny hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum gemas melihat tingkah Dea yang seperti cacing kepanasan.
"Rey, Pak Yusuf kemana sih? Kita udah latihan dari jam 9 pagi lohh, ini udah mau jamiss." Protes Dea lagi.
"Lo cuma kebagian nyanyi Indonesia Raya aja kebanyakan protes," sahut Rey.
Kelas XII IPA 2 terpilih menjadi petugas upacara untuk hari Senin mendatang, maka dari itu saat ini mereka sedang latihan. Namun, latihan mereka belum bisa dikatakan clear ketika belum dilihat oleh Wali Kelas.
Rey mengamati gadis yang berdiri disampingnya, senyum tipis terpancar diwajah lelaki tersebut. Seolah-olah ini adalah moment yang sangat ia nantikan.
"Gue ngga perlu susah payah buat hubungan mereka kandas," ucap lelaki itu dalam hatinya.
Ia melindungi kepala gadis itu dengan tangan kirinya supaya tidak terpapar sinar matahari yang semakin menyengat.
Gadis itu terpaku sejenak sebelum kepalanya menoleh kesamping secara perlahan.
"Biar lo ngga kepanasan," Rey tersenyum.
Aksi dari ketua kelas tersebut rupanya menyita perhatian dari teman-teman mereka, tidak sedikit yang menyoraki mereka.
"Ng-ngga perlu sampai segitunya," ucap Fanny dengan nada gugup.
"Gue cuma takut lo pingsan, yang baca Janji Siswa siapa kalau lo ngga ada."
Rey sebagai pembaca UUD 1945 sedangkan Fanny membaca Janji Siswa, pembagian tugas tersebut tentunya dipilih oleh Wali Kelas dan apesnya Fanny bersebelahan dengan Rey.
"Fan,"
"Ya?"
"Gue boleh minta nomor lo?"
Fanny terkejut namun masih bisa mengendalikan mimik wajahnya, "di grup kelas ada kok."