Kisah tentang dua orang lawan jenis yang menjalin suatu hubungan persahabatan.
Menghabiskan waktu berdua, saling bertukar gombalan, dan perhatian satu sama lain membuat hidup mereka seakan saling bergantung.
10 tahun mereka selalu bersama tetapi sam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rintik gerimis membasahi bumi, menciptakan semerbak bau khas tanah basah.
Katanya hujan itu kuat, ia rela jatuh berkali-kali hanya untuk memberikan tetesan demi tetesannya pada bumi.
Tetapi dibalik itu semua, yang kuat pasti akan mengalami lemah. Andaikan hujan bisa berbicara pasti ia akan berkomentar kepada cacian yang keluar dari mulut insan, yang mengatakan hujan adalah pembawa sial.
Manusia memang biangnya maha benar.
"Duh duh duh kok malah gerimis sih," keluh Naya merasa kesal karena mengganggu perjalanan mereka.
"Nepi dulu aja gimana, Nay? Dari pada seragam kita basah," saran Fanny.
Mereka sedang berada diperjalanan menuju SMA Athala menggunakan motor, ditengah perjalanan tiba-tiba hujan mengguyur tubuh mereka.
Tidak bisa disangka memang kapan hujan akan turun, pada di situasi langit cerah sekalipun.
"Mending basah dari pada telat, Fan. Tutupin mata gue biar ngga kena hujan"
"Gini?" Fanny benar-benar menutup kedua mata Naya dari belakang sesuai perintah gadis itu.
"GUE MANA BISA LIAT?!"
"Ya lo tadi nyuruhnya nutup mata lo,"
"Teduhin mata gue."
"Bulmat lo kan diciptakan udah ada tugasnya," balas Fanny dengan asal membuat Naya benar-benar geram.
Padahal Naya hanya menyuruh Fanny untuk meduhkan matanya menggunakan tangan Fanny agar ia bisa melihat jalanan, pasalnya gerimis kian menjadi deras dan hujan hari itu terasa menyakitkan bila terkena mata.
Dan juga, mereka tidak mengenakan helm dengan alasan jarak dari rumah mereka ke sekolah dekat.
Tapi, pada akhirnya Fanny melakukan suruhan dari Naya. Menjadikan tangan kanannya sebagai payung untuk mata Naya, sedikit kesulitan memang dan gadis itu juga harus merelakan tangan kanannya basah karena terkena air hujan.
Sesampainya di sekolah hujan telah reda, Fanny dan Naya bernafas lega karena tidak terlambat. Namun, ada yang membuat mereka bertanya-tanya.
Mengapa banyak murid yang berada di halaman upacara?
"Nez, ada apaan sih?" Ucap Naya saat Inez datang menghampiri gadis itu di depan gerbang masuk sekolah.
"Pengumuman buat tour"
Mata Naya berbinar "Seriusan?"
"Ngga percayaan amat sama gue, udah ayo ikut ngumpul disana." Ajak Inez dengan menarik lengan kanan Naya tanpa menghiraukan Fanny yang juga berada di sana dan gadis itu hanya bisa mengikuti langkah mereka dari belakang tetapi saat melihat ada ketiga temannya, ia pun memilih bergabung bersama mereka bertiga.