Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

- 40

30 2 0
                                        

"Nih ada bolu dari tetangga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Nih ada bolu dari tetangga." Ucap Sita sembari meletakkan makanan tersebut di pangkuan Alfin, yang dimana lelaki itu tengah menonton televisi.

Kening Alfin berkerut menatap bingkisan yang berada dipangkuannya kemudian memandang wajah sang Mama yang berdiri disamping tempatnya duduk. "Dari siapa Ma?"

"Te.tang.ga." Ucap Sita dengan menekan ucapannya lagi-lagi membuat Alfin bingung, tidak seperti biasanya Sita megucapkan kata tetangga karena jika ada yang bertamu pasti Sita akan menyebutkan nama orangnya.

Alfin berdecak pelan. "Siapa sih, Ma? Jangan bikin Alfin bingung."

"Fanny."

"Terus kenapa dibilang tetangga?"

"Emangnya mau dibilang apa? Menantu Mama?" Ucap Sita dengan bersedekap membuat Alfin terdiam seribu bahasa.

Lalu Alfin memutar bola matanya malas. "Kan biasanya Mama tinggal sebut siapa namanya ngga kayak ini pakai teka-teki segala."

Sita mencondongkan tubuhnya membuat Alfin spontan memundurkan tubuhnya, jari telunjuk Sita tepat berada di depan wajah anaknya. Sedangkan Alfin menelan salivanya.

"Jujur sama Mama, kamu apain anak Mama yang cantik itu, hm?"

"Ng-ngga Alfin apa-apain kok Ma."

Baru kali ini Sita berekspresi seperti itu membuat Alfin merasa takut dengan Mamanya sendiri, terlebih lagi menyangkut putri kesayangannya yang tidak lain adalah—Fanny. Walaupun tidak satu keluarga namun Sita sudah menganggap Fanny seperti anaknya sendiri karena mengingat anak dari wanita paruh baya itu, dua-duanya adalah seorang laki-laki.

Sita menarik tubuhnya kembali kemudian menunjukkan ekspresi sedihnya. "Tapi anak Mama tadi ngga mau mampir ke sini."

"Ya jangan salahin Alfin lah Ma, lagian terserah Fanny mau mampir atau ngga kenapa jadi Alfin yang kena." Protes Alfin tidak terima, sebenarnya siapa anak dari Mama Sita pikir lelaki itu.

Tatapan Sita mengintimidasi. "Ada masalah, ya?"

"Ngga ada Ma."

"Bohong!"

"Ngga, Alfin ngga bohong."

"Mama ngga percaya." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Sita berjalan menjauh membuat Alfin menghembuskan nafasnya kasar karena Mamanya tengah berada di ngambek mode on.

Alfin meletakkan bolu pemberian dari Fanny tadi di meja ruang tamu kemudian berjalan menghampiri Mamanya, aset berharganya bisa ditahan oleh Papanya jika Mamanya mengadu yang tidak-tidak padahal Alfin tidak melakukannya.

"Ma," ucap Alfin namun hanya dibalas deheman oleh Mamanya.

"Yaudah Alfin cerita ke Mama tapi Mama ngga boleh ngadu ke Papa kalau Alfin bikin ngambek Mama."

Sita melihat anaknya dengan tatapan tajam. "Kamu ngancem Mama?"

"Ya Allah ngga Ma, kan kita impas." Ucap Alfin dengan cengengesan.

Fanny (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang