Kisah tentang dua orang lawan jenis yang menjalin suatu hubungan persahabatan.
Menghabiskan waktu berdua, saling bertukar gombalan, dan perhatian satu sama lain membuat hidup mereka seakan saling bergantung.
10 tahun mereka selalu bersama tetapi sam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tidak terasa kini SMA Athala memasuki Ulangan Akhir Semester 2, kini mereka sedang disibukkan dengan belajar dan belajar supaya nilai mereka memuaskan untuk bisa naik kelas.
"Buru-buru banget sih jalannya, ngga bisa santai aja apa." Protes Naya yang terlihat bersusah payah mengimbangi langkah kaki sahabatnya—Fanny.
Fanny memutar bola matanya malas. "Gue mau belajar,"
"Semangat banget padahal ngga sekelas sama Fino." Cibir Naya membuat Fanny mendengus kesal, sahabatnya itu terlalu banyak bicara.
Sangat disayangkan memang, Fanny tidak lagi satu ruangan dengan kekasihnya. Memang seperti itu, setiap diadakan test pasti selalu di acak.
Tanpa ucapan perpisahan karena berbeda tujuan, mereka menuju ruang test masing-masing. Fanny di lantai 1 sedangkan Naya dilantai 2.
Fanny duduk diteras depan ruang testnya karena sepertinya ketiga temannya belum ada yang datang.
"Fan,"
Fanny menoleh ke sumber suara, ia meyakini bahwa Adit-lah yang memanggilnya tadi.
"Nanti seperti biasa," ucap lelaki itu sembari mengedipkan matanya sebelah.
Tanpa persetujuan dari gadis itu, Adit duduk begitu saja disamping Fanny. Tanpa memikirkan jika mereka menjadi objek untuk beberapa orang yang sudah datang ke sekolah.
"Jangan gitu Dit, lo ngga liat apa Adel ngawasin gue terus."
"Ngga usah dipikirinlah, orang dia bukan siapa-siapanya gue."
Fanny menghembuskan nafas pelan, "lo masih suka sama Ana?" Ucap gadis itu tanpa menatap lawan bicaranya, hanya fokus membaca buku yang mata pelajarannya akan diujikan pagi itu.
"Masih, tapi yaa lo bisa nyimpulin sendiri kalau dia ngga suka sama gue."
Dari nada bicara Adit, bisa Fanny simpulkan bahwa lelaki itu terlihat hampir putus asa.
"Mungkin prioritasnya Ana bukan cinta-cintaan Dit, lo support aja ngga usah terlalu sebegitunya ngejar-ngejar Ana." Ucap Fanny mencoba menasehati Adit, mengingat betapa cueknya Ana kepada Adit ketika lelaki itu berusaha maju selangkah demi selangkah demi mendapatkan hati dan perhatian Ana.
"LO APA-APAAN SIH!?"
Dengan gerakan spontan Fanny melihat ke arah sumber suara yang ia yakini bahwa teriakan barusan adalah suara kekasihnya, karena ia tau kekasihnya masih di gedung yang sama walaupun berbeda ruang kelas.
Fanny melihat ada Naya dan Lita—temannya berada di depan ruang test Fino, terlihat bahwa kekasihnya itu tampak sangat kesal entah apa yang sudah dilakukan oleh Naya.