Kisah tentang dua orang lawan jenis yang menjalin suatu hubungan persahabatan.
Menghabiskan waktu berdua, saling bertukar gombalan, dan perhatian satu sama lain membuat hidup mereka seakan saling bergantung.
10 tahun mereka selalu bersama tetapi sam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah kejadian kemarin, untungnya Alfin dan Fanny tidak berhenti saling berkomunikasi. Meskipun Fanny nampak canggung mengobrol dengan Alfin saat lelaki itu bertanya tentang Sita-mama Alfin yang berkunjung ke rumahnya tadi malam, Alfin hanya bertanya ada urusan apa Sita ke rumah Fanny sedangkan Fanny menjawab tidak tahu apa yang dilakukan Felcia dengan Sita.
Itupun Fanny menjawabnya dengan penuh keberanian.
Oh astaga ataukah kedua Ibu mereka membicarakan perjodohan yang dibuat-buat oleh tetangganya?
"Woe Fan! Tumben banget lo nglamun, nglamunin apa lo serius amat." Ucap Raina sembari meletakkan soto pesanan mereka dimeja kantin. Ya, saat ini mereka sedang berada dikantin karena jam olahraga sedang berlangsung.
Loh kok bisa? Karena guru olahraga mereka sangat baik hati jadilah sering kali ada mata pelajaran olahraga, mereka hanya disuruh melakukan kegiatan bebas. Jadi ya disinilah Fanny dan Raina berada.
"Gue nggak nglamun cuma lagi mikir."
Raina mendengus, "Beda tipis!" tungkasnya.
Fanny dan Raina sibuk dengan sotonya masing-masing, entah mengapa istirahat sebelum waktunya itu terasa nikmat terlebih lagi jika tidak harus bersusah payah bolos. Mereka berdua tampak sangat menikmati, hingga tiba-tiba..
BRAK
Fanny terlonjak kaget sedangkan Raina tersedak, gadis itu kemudian meraih minum dengan asal tidak menyadari bahwa yang ia minum adalah milik Fanny. Sang pemilik minum membelalakkan matanya saat Raina meneguk minumnya hingga tandas.
"Bunga bangke!" Umpat Raina kesal saat melihat gerombolan most wanted girl mendudukki salah satu kursi kantin dengan tidak santainya, kenapa harus ada acara menggebrakkan meja. Sebenarnya angkatan mereka selalu damai, hanya saja mungkin Raina terkejut juga hingga mengucapkan kata demikian.
"Lagi PMS mungkin Rain, udah lanjut makan aja." walaupun Fanny juga sama kesalnya tetapi sebisa mungkin mereka harus menghadapinya dengan kepala dingin, pasalnya mereka hanya menggebrak meja kantin bukan Fanny ataupun Raina yang menggantikan posisi meja itu.
"Lo kenapa sih? Dari tadi pagi gue perhatiin diem terus, ya walaupun lo emang pendiem. Tapi serius Fan gue tanya lo kenapa?" Ucap Raina sembari menyodorkan minumnya ke depan Fanny setelah ia menyadari bahwa yang Raina minum tadi adalah milik Fanny. Acara makan merekapun harus tertunda karena perbincangan yang serius itu.
"Kalau misalnya ada cowok yang bilang sama lo kalau dia mau jagain lo dari orang-orang yang nyakitin lo, itu—artinya apa?"
Raina memiringkan kepalanya. "Jangan gue yang jadi perumpamaan! Gue bingung," ucapnya dengan mendengus kesal batinnya berkata apakah begitu susah Fanny mengatakan secara to the point.