Kisah tentang dua orang lawan jenis yang menjalin suatu hubungan persahabatan.
Menghabiskan waktu berdua, saling bertukar gombalan, dan perhatian satu sama lain membuat hidup mereka seakan saling bergantung.
10 tahun mereka selalu bersama tetapi sam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Fanny memandang langit-langit kamarnya. Percakapannya tadi dengan Naufal masih melekat manis baik dihati maupun dipikiran Fanny, ia tersenyum saat mengingat Naufal memberikan semangat untuknya. Ternyata mempunyai hubungan dengan kakak kelas tidak seburuk yang ia duga.
Namun, senyumnya luntur secara perlahan saat ia kembali mengingat Alfin. Kabar lelaki itu bagaimana, ya?
Semenjak berbeda kelas, mereka jarang bertemu apalagi bertegur sapa. Bahkan, Alfin tidak lagi berhenti di depan rumahnya seperti rutinias sebelumnya. Padahal, Fanny masih berharap kebiasaan itu terus ada.
"Woelah kak kesambet lo nanti!"
Fanny mendengus kesal saat ada sepupunya perempuan yang tiba-tiba datang ke kamarnya dan mengejutkannya.
"Ganggu banget!"
"Lia kan baik ngingetin."
"Iya Lia iya, ngapain lo ke sini? Sama siapa? Om Ito?"
Lia menggeleng. "Sendiri."
"Kangen lo ya sama gue," Fanny mengubah posisinya dari tidur terlentang kini duduk manis berhadapan dengan Lia—sepupunya.
"Bisa nggak sih kak jangan PD banget jadi orang," Lia memutar bola matanya malas.
Lia ini usianya tidak begitu jauh dengan Fanny, hanya terpaut satu tahun. Namun, Lia dulunya terlambat memasuki Sekolah Dasar sehingga membuat tingkat kelas gadis itu terpaut dua tahun dengan Fanny.
"PD itu artinya bersyukur, kenapa ngga boleh PD kalau asalkan ngga jatuhin harga diri orang lain?"
"Iyain aja biar fast." Lia mengangguk malas sedangkan Fanny tertawa karena merasa berhasil memojokkan Lia.
"Disuruh ke bawah tadi."
"Disuruh siapa?"
Lia menghembuskan nafasnya kasar. "Ya Ibu lo lah kak!"
"Kalem dong, ngegas terus!"
Akhirnya Fanny memutuskan untuk menghampiri Felcia sesuai dengan apa yang diucapkan sepupunya sedangkan Lia mengikuti dibelakang Fanny namun berpisah saat di ruang tamu, Lia yang duduk di sofa dan Fanny berada di dapur.
"Kenapa Bu manggil Fanny?"
Fanny sedikit mengintip dengan apa yang tengah Ibunya persiapkan karena penasaran sedangkan Felcia memutar kepalanya 90 derajat kemudian menatap putrinya.
"Ini loh Ibu buat kue bolu anterin ke rumahnya Mama Sita, ya?"
"Udah sore Bu astaga," Fanny mengusap wajahnya pelan namun Felcia justru tertawa.
"Bilang aja kalau males." Cibir Felcia, Fanny yang merasa tersindir pun akhirnya mengiyakan perintah dari Ibunya dari pada harus beradu mulut.
Senyum Fanny merekah kala mengingat ada tamu di rumahnya tetapi harapan itu seketika lenyap saat si tamu dengan cepatnya menolak sebelum diajak.
"No no no, gue ngga mau ikut." Bantah Lia sembari mengibaskan tangannya, senyum Fanny luntur perlahan diikuti decakan kesal lalu memilih untuk segera mengantarkan bolu itu sebelum matahari tenggelam.
Di perjalanan menuju rumah Mama Sita, Fanny bersenandung ria walaupun suaranya tidak begitu bagus. Lagi pula, ia bernyanyi untuk menghibur dirinya sendiri bukan untuk menyenangkan orang lain. Suka tidak suka orang yang mendengarkan suara Fanny, gadis itu tidak ambil pusing.
Hanya membutuhkan waktu sekitar 2 menit untuk sampai ke tempat tujuan. Semoga Alfin tidak di rumah, harapnya.
Ia berhenti sejenak kemudian memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam, dalam hati Fanny berharap agar wanita paruh baya itu sedang tidak ada di rumah. Sungguh, hal itulah yang membuat Fanny sedikit enggan menerima perintah dari Felcia.
Namun senyum lega tercetak jelas di wajah Fanny saat melihat ada sesosok lain di rumah tersebut, sepertinya Tuhan mendengar permintaan dari hati kecilnya itu.
Langkah kaki Fanny berjalan dengan ringan menghampiri Mama Sita yang tengah menyirami bunga di depan rumahnya.
"Assalamu'alaikum tante."
Terlihat Mama Sita memutar tubuhnya 180 derajat. "Eh ada anak cantik, wa'alaikumussalam." Buru-buru Mama Sita menghentikan kegiatannya.
"Ini ada bolu dari Ibu buat tante." Ujar Fanny dengan tersenyum manis.
"Dalam rangka apa nih?" Goda Mama Sita yang justru membuat Fanny tertawa pelan.
"Fanny juga ngga tau, tante."
Mama Sita juga tertawa. "Yaudah bilang makasih ya sama Ibu, bolunya udah mendarat dengan selamat di rumah tante."
"Siap tante, kalau gitu Fanny permisi mau pulang."
"Ngga mau mampir dulu?" Ucap Mama Sita dengan ekspresi bingung membuat Fanny tersenyum lalu menggelengkan kepala.
"Ngga dulu tante lain kali aja,"
"Alfin ada loh di dalem."
Fanny memaksakan senyumnya. "Udah sore tan, nanti Fanny di marahin Ibu cuman sini sana aja lamanya kaya ke luar negeri."
Keduanya kompak tertawa sejenak kemudian Fanny berpamitan untuk pulang. Mama Sita yang memandang punggung Fanny yang kian menjauh hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan, batinnya berkata ada yang salah dengan anaknya.
Mama Sita menggelengkan kepalanya pelan. "Buat ulah apa lagi kamu, nak. Bikin menantu Mama sedih aja."