Hilman tak mau putus asa. Dan sekelebat ide pun tiba-tiba terpikir olehnya. Siapa tahu kalau sekarang Razaq sudah kembali ke mushola dan sedang menunggunya.
Ia segera berlari kembali menuju mushola tadi secepat ia bisa. Ia sangat sangat berharap sekali Razaq berada disana.
Namun setibanya di mushola, Hilman tidak menemukan sosok Razaq. Harapan yang ia rajut supaya bisa hidup berdua bersama Razaq seperti baru saja hancur.
Hilman berjalan mendekati pintu mushola dan duduk bersila di samping pintu. Ia melirik jam dinding yang ada di dalam mushola. Pukul empat kurang lima menit. Hilman merasa sangat sedih dan takut. Tapi ia mencoba untuk bersabar. Mungkin saja Razaq akan datang ke sini sebentar lagi.
Hingga akhirnya tiga puluh menit berlalu, terdengar suara adzan Subuh yang berkumandang dari mushola itu. Razaq tak juga kembali. Airmata Hilman mulai mengalir menyadari Razaq sudah tega meninggalkan dia sendirian di tengah rasa takut yang hebat.
Hilman tak mampu membendung airmatanya lagi. Ia menekuk kedua lututnya sambil merangkulnya. Dan tangisnya terdengar makin pilu ketika Hilman menyandarkan kening pada kedua lututnya.
Bagaimana sekarang? Apa yang harus ia lakukan? Apa yang bisa ia lakukan? Apakah ia harus kembali ke rumah Pak Cokro? Tidak!! Ia tidak boleh kembali kesana!!
Tapi Hilman juga tidak punya arah dan tujuan yang jelas. Ia tidak tahu arah. Ia bingung, sedih, gundah. Semua perasaannya campur aduk menjadi satu dan memaksanya untuk menangis.
"Kamu kenapa menangis?" tanya seseorang secara tiba-tiba sambil memegang lengan kanan Hilman hingga ia terkejut sambil menegakkan punggung. Awalnya ia kira itu adalah Razaq. Namun ternyata bukan.
Di depan Hilman, kini tampak seorang anak laki-laki berwajah tampan dan berambut pirang. Sepertinya ia seumuran dengan Razaq. Tapi Hilman tidak tahu. Ia tidak pandai menerka usia seseorang.
"Kamu kenapa menangis?" tanya anak itu sekali lagi. Hilman segera menghapus sisa-sisa airmata di pipinya.
"Aku kehilangan kakakku. Dia setinggi kamu, memakai tas cokelat kumal, berkemeja biru tua lengan panjang, dan celana panjang hitam. Ia juga pakai sepatu hitam. Apakah kamu pernah melihatnya?" tanya Hilman dengan penuh harap.
Anak itu merenung memikirkan sesuatu sambil mengusap-usap dagunya lalu membalas pertanyaan Hilman dengan sebuah gelengan pelan.
Hilman kembali menitikkan airmata. Kemana sih perginya Razaq?
"Kamu jangan nangis dong. Aduh, aku jadi bingung," kata anak itu sambil mengusap punggung Hilman, berusaha menenangkan.
Tak lama, seorang wanita bertubuh tinggi dan ramping tiba-tiba keluar dari dalam mushola.
"Lucas, kamu sudah sholat Subuh?" tanya wanitu itu memanggil anak di depan Hilman dengan nama Lucas. Sepertinya ini adalah ibunya.
"Belum, Ma. Tapi adik ini sepertinya tersesat dan kehilangan kakaknya," jawab Lucas sambil mengarahkan jari telunjuknya pada Hilman dengan polos. Ibu Lucas mengernyitkan alis lalu duduk berlutut di samping kanan Hilman.
"Namamu siapa, Nak?" tanya ibu Lucas.
"Nama saya Hilman, Tante," jawabnya sambil menahan sesenggukan.
"Rumah kamu dimana?"
Hilman terdiam sejenak.
"Aku tidak punya tempat tinggal, Tante."
"Tidak punya tempat tinggal? Lalu orangtua kamu?"
"Kedua orang tua saya sudah meninggal, Tante. Saya tidak punya siapa-siapa lagi kecuali kakak saya. Namanya Kak Razaq. Saya datang ke sini bersama Kak Razaq. Tapi sekarang saya tidak tahu dia ada dimana," balas Hilman sambil bercucuran airmata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guardian Angel (boyxboy)
RomantikPerasaan yang sudah hampir itu tumbuh kembali dan menggeser posisi spesial di palung hati setelah laki-laki yang paling dicintai tiba-tiba muncul seperti sebuah keajaiban. WARNING!!! Marning, kuning, pening! Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Namun...
