Sebelas

3.1K 250 12
                                        

Semua lampu di dalam rumah sudah dimatikan. Semua tampak gelap. Namun hanya lampu di dalam kamar Hilman saja yang masih menyala terang.

Di dalam kamar, Hilman masih berkutat dengan laptop di meja kerjanya. Ia masih harus membereskan beberapa data bahan makanan di restorannya yang stoknya mulai menipis.

Tak lama, tiba-tiba sepasang lengan kokoh melingkar pada leher Hilman, dan wajah Lucas yang tampan muncul di sisi kiri wajahnya. Lucas mencium pipi Hilman dengan cepat lalu menempelkan pipinya di pipi Hilman. Aroma tubuh Lucas yang bertelanjang dada sangatlah harum dan maskulin, langsung mernyeruak di hidung Hilman.

"Kamu tidak mengantuk?" tanya Lucas. Hilman menoleh ke kiri hendak menjawab, namun bibir Lucas malah mengecup bibir Hilman sambil mendengung mesra. Ketika Lucas menarik kepalanya, Hilman memegang pipi kiri Lucas dan membelainya.

"Aku sangat mencintaimu. Dan aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa. Kalau nanti waktunya telah tiba dan kita berdua telah siap, aku pasti akan melamarmu dan kita akan menikah di luar negeri," ujar Lucas dengan tutur bahasa yang sangat romantis, membuat Hilman tidak tahan lagi dan langsung mencium Lucas tanpa berkata apa-apa lagi. Sedangkan Lucas membalas ciuman Hilman dengan lebih agresif.

Dengan satu hentakan cepat, Lucas menggendong tubuh Hilman tanpa melepas ciuman mereka, lalu merebahkan tubuh Hilman di atas tempat tidur.

Perlahan, Lucas memposisikan tubuhnya di atas tubuh Hilman dan menindihnya. Sedangkan kedua tangan Hilman bertumpu pada punggung Lucas yang hangat dan menggairahkan.

Sesaat, tiba-tiba terlintas sosok Razaq di benak Hilman yang membuatnya menyudahi pergumulannya dengan Lucas. Hilman menggeser tubuhnya dan segera berdiri dari tempat tidur.

"Kenapa kamu berhenti?" tanya Lucas dengan ekspersi kecewa.

"Err... Um... aku.. aku mau ka kamar mandi dulu. Aku kebelet pipis. Tunggu sebentar ya!" tukas Hilman kemudian langsung melesat pergi keluar kamar, meninggalkan Lucas yang tampak mengerutkan kening dengan guratan kekecewaan yang tampak jelas di wajahnya.

Sedangkan Hilman langsung berlari ke arah kamar mandi belakang. Ia segera masuk dan mengunci pintu kamar dari dalam. Napasnya terengah-engah. Hilman berjalan ke arah wastafel dan langsung mencuci wajahnya berkali-kali. Di tatapnya wajahnya sendiri pada cermin di depannya yang penuh dengan guratan dilema.

Rasanya ingin menangis. Kenapa takdir memperlakukan dia seperti ini? Semakin Hilman merenungkan masalahnya, semakin ia membenci dirinya sendiri.

Hilman menghembuskan napas dengan berat, seperti menghembuskan asap debu dari rongga dadanya.

Ia tidak boleh terpuruk seperti ini. Hilman harus bisa memilih salah satu di antara Lucas dan Razaq. Tapi ia harus pilih siapa?

Ketika pikirannya semakin kacau balau, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dengan cepat. Hilman tampak terkejut melihat Razaq yang berdiri di depan pintu dan memandangnya dengan raut wajah yang sulit ditebak. Ia sudah bisa berjalan tanpa tongkat kruk lagi sekarang, walaupun jalannya masih sedikit pincang.

Mereka berdua terdiam beberapa saat. Hingga Razaq masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dari dalam. Jantung Hilman berdetak kencang ketika Razaq berjalan mendekatinya dengan perlahan hingga berhenti tetap di hadapan Hilman. Hilman mendongak menatap Razaq yang jangkung dengan agak bingung.

"Katakan padaku, Hilman. Apa yang sekarang kamu rasakan," pinta Razaq dengan tatapan penuh iba. Hilman menunduk.

Apa yang ia rasakan sekarang? Apa yang bisa ia rasakan? Ia pun tidak mengerti. Seperti masuk ke dalam sebuah pusaran air yang tak berujung. Dibawa berputar-putar oleh kebimbangan dan dilema tanpa henti.

"Aku tidak tahu. Hanya ada gelap yang bisa ku lihat sekarang. Entah kapan gelap itu berubah menjadi terang. Seperti digantung di antara dua pilihan yang tak bisa ku pilih salah satu. Dan jika aku pilih salah satunya, maka sisi hatiku yang lain pasti akan remuk," jawab Hilman dengan nada sendu.

"Kamu tidak usah memikirkan aku. Berbahagialah bersama Lucas. Aku akan selalu menjadi Razaq-mu yang dulu. Selalu menyayangi dan melindungimu," tutur Razaq.

"Tapi aku juga mencintaimu. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu lagi?!" tanya Hilman dengan suara agak keras. Pada saat yang sama, Razaq langsung merengkuh tubuh Hilman dengan erat, dengan pundak yang berguncang. Razaq menangis dalam diam.

Hilman balas memeluk Razaq sambil membenamkan wajahnya di dada Razaq. Tak ada yang lain yang lebih dia butuhkan sekarang kecuali pelukan dari Razaq dan rasa nyaman di dada Razaq.

"Aku bahkan tidak bisa jauh darimu. Aku ingin kamu selalu ada di pelukanku. Selalu aku jaga. Dan aku sudah lalai. Sekarang kamu sudah punya seseorang yang bisa melindungimu dengan rasa sayang yang lebih daripada yang aku miliki untukmu," ucap Razaq yang membuat Hilman ikut menangis di dekapan Razaq.

Mereka melepas pelukan. Razaq memandang wajah Hilman. Mengelus-elus wajahnya seperti harta benda paling berharga yang ia miliki.

Dengan segenap hati, Razaq merunduk dan mencium bibir Hilman. Kedua mata mereka terpejam. Bibir mereka beradu dengan panasnya.

Tangan Hilman diam di pundak Razaq, sedangkan kedua tangan Razaq memeluk tubuh Hilman. Dengan cepat, ia mengangkat tubuh Hilman dan melingkarkan kaki Hilman di pinggangnya tanpa melepas ciuman mereka. Kini kedua siku Hilman bertumpu di bahu Razaq.

Mereka berciuman sangat lama hingga akhirnya mereka melepas ciuman mereka dengan segera ketika pintu kamar mandi terbuka dengan tiba-tiba. Tampak Lucas berdiri di sana dengan wajah merah padam menahan gejolak amarah. Hilman terbelalak dan segera turun dari gendongan Razaq dengan malu.

Tanpa banyak bicara, Lucas berjalan masuk dan melayangkan sebuah tinjuan yang mendarat dengan keras di pipi kiri Razaq hingga ia tersungkur. Ketika Lucas akan menghajar Razaq lagi, Hilman segera menahan tubuh Lucas.

"Kak! Sudah cukup, Kak! Cukup!" teriak Hilman.

"Kamu berani-beraninya berciuman dengan orang lain. Kamu sudah lupa sama aku?!" tanya Lucas setengah berteriak.

Tampak Razaq yang tengah berusaha berdiri sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah.

"Maafkan aku, Kak. Aku.. aku khilaf."

Lucas menggaet tangan Hilman dan menariknya keluar kamar mandi, meninggalkan Razaq yang tampak bersalah.

Lucas membawa Hilman ke kamar dan mengunci pintunya dari dalam kamar. Ia menghimpit tubuh Hilman di belakang pintu.

"Apa yang kurang dariku? Aku sudah memberi semua perhatianku padamu. Semuanya, Hilman. Tapi kenapa kamu masih menginginkan yang lain?" tanya Lucas dengan nada rendah yang tajam. Hilman menunduk terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Semuanya terjadi begitu saja. Ia kehilangan kendali.

"Apakah kasih sayang yang aku berikan padamu masih kurang? Katakan, Hilman. Atau mungkin kamu ingin keperjakaanku? Akan kuberikan. Akan ku berikan semuanya untukmu! Tapi aku juga tahu kalau itu hanya akan menyakiti ragamu, Hilman!" kata Lucas sambil meraih tangan kiri Hilman dan meletakannya pada gundukan celana Lucas yang terasa keras. Hilman segera menarik kembali tangannya. Ia merasa sangat malu. Ia bodoh. Ia bodoh sekali.

"Aku minta maaf," kata Hilman sambil menahan airmata.

Lucas tampak sedikit mencair ketika mendengar Hilman meminta maaf. Ia merangkul Hilman dengan erat, menaruh kepala Hilman di dadanya. Kini Hilman menangis sendu.

Apakah kata-kata yang Lucas ucapkan tadi terlalu kasar? Lucas seperti ingin menarik kembali kata-katanya. Ia tidak bermaksud begitu. Ia hanya cemburu.

"Aku mencintaimu, Lucas. Aku minta maaf," kata Hilman di sela-sela tangisannya.

"Kamu sendiri juga tahu, bagaimana rasa cintaku. Kita baru satu bulan pacaran. Ku pikir wajar kalau ada cobaan seperti ini yang menimpa hubungan kita. Kita harus kuat," balas Lucas sambil mempererat pelukannya.

Tanpa mereka ketahui, Razaq tengah menyandarkan punggungnya di depan pintu kamar Hilman dengan raut wajah putus asa. Ia sudah mendengar semuanya.

Matanya menerawang jauh. Seperti tak ada lagi alasan untuk ia hidup.

[Bersambung...]

Give your vote + comment ^_^
Thanks

Guardian Angel (boyxboy)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang