Part 2

121K 1.3K 0
                                        

Sore telah berganti malam. Langit-langit yang semula tampaknya terang kini menjadi gelap karenanya.

Di sudut kamarnya, seorang wanita dengan rambut gelombangnya yang cokelat panjang tengah bersiap untuk pergi bekerja; mencari pelanggan setianya untuk meniduri tubuhnya itu.

Hanya menggunakan dress minim berwarna hitam pekat, Lana akhirnya pergi keluar rumah dengan menggunakan mobil, lalu menjalankannya di tengah keheningan malam.

Kalau bisa di bilang, dia bukanlah jalang kelas rendahan, tetapi kelas atas. Ya, walaupun pada dasarnya semua jalang memang sama saja, yaitu sama-sama rendah mengingat mereka menjual tubuhnya.

Baiklah, kembali ke awal.

Karena Lana jalang kelas atas, dapat di pastikan semua pelanggannya adalah bos-bos kaya, serta pejabat tinggi sekalipun. Hanya dengan melenggokkan pinggul, wanita cantik berdarah campuran Indonesia-Australia itu mampu membuat kaum pria bertekuk lutut akan kemolekkannya.

Kini mobil Lana telah sampai di sebuah hotel berbintang lima. Pelangan setianya, Bimo Rantoyo, memanggil Lana untuk datang ke Hotel mewah, yang dimana akan menjadi tempat mereka bergumul satu sama lain.

Setelah memakirkan mobilnya di basement. Lana pun tak lupa mengambil tape sex-nya yang berada di jok belakang.

Setelah menemukannya, dia menaruh tape tersebut ke dalam tas. Lana pun akhirnya turun dari mobil, mengunci pintu dengan benar, lalu kemudian melangkah menuju lift yang memang terletak di ruang bawah tanah ini.

Sembaring berjalan, para pria yang sempat di lalui Lana memandangnya dengan tatapan lapar, seakan siap menerjang gadis itu.

Lana pun telah sampai di depan lift. Ia memencet tombol ke atas, karena ruangan yang di pesan Bimo berada di lantai 20. Setelah berjalan masuk ke dalam, ia menekan kembali lantai yang ingin di tujunya.

Awalnya Lana mengira dia telah sampai, tapi ternyata lift berhenti di lantai 5. Kini seorang pria ikut masuk untuk mencapai lantai atas.

Pria tersebut segera bergeser ke samping Lana dengan maksud ingin memencet tombol lantai yang di inginkan. Dengan sopan, Lana mundur perlahan agar pria tersebut dapat lebih mudah memencet tombol itu, yaitu angka 18.

Sambil menunggu, Lana mengetukan jarinya di antara tiang penyanggah lift. Dia pun melihat ke kanan-ke kiri agar dirinya tidak bosan selama menunggu. Entah kenapa kini tatapan Lana telah beralih ke pria yang di sampingnya saat ini. Lana sempat tersenyum sebentar sebelum akhirnya ia harus mendatarkan kembali sudut bibirnya itu akibat pria yang berada di sampingnya sangat acuh.

Sombong, pikir Lana dalam hati.

Tak mau menyerah, Lana segera bergeser ke arah pria tersebut. Bukannya malah terangsang akibat buah dada Lana yang seakan ingin mencuat keluar, Pria tersebut justru hanya memandang Lana sebentar, lalu mendengus sinis.

Kemudian pria tersebut memasukan tangan ke dalam kantong celananya, "Murahan!" Gumam pria itu yang dapat terdengar jelas di telinga Lana.

Lana menatap pria itu tak percaya, "Apa kau bilang?!" Tanya Lana dengan muka geram. Sementara pria tersebut tetap diam dan tak menanggapi pertanyaan Lana barusan.

Lana tau pekerjaannya ialah pekerjaan murahan. Tapi tetap saja dia tidak mau di bilang seperti itu. Lagipula-, hei! Asal pria itu tau saja, Lana ini di bayar mahal tau. Para junior maupun seniornya yang sudah lama mengenalnya pun iri padanya.

Merasa tak di tanggapi serta di acuhkan. Lana pun akhirnya hendak meraih lengan pria itu dengan maksud agar si pria yang tak di ketahui namanya ini menengok ke arah Lana.

THE S*X TAPETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang