Part 8

61.6K 925 1
                                        

Jangan lupa mampir ke ceritaku yang lain, ya, berjudul: Saddam & Kayla. Akan sangat berarti jika kamu membacanya, juga memberikan vote dan comment. Terimakasih banyak :)

*********

Hari ini adalah hari sabtu. Hari dimana para penikmat satu malam berkumpul di Club Aldys. Biasanya dari pagi sampai subuh mereka semua berpesta dan menikmati suasana dunia malam.

Beberapa orang yang sudah hadir disini tengah menikmati lagu yang dimainkan oleh DJ. Beat yang berdentum dengan keras dan musik yang tiba-tiba drop membuat semua orang melompat serta berteriak dengan semangat.

Jam kini menunjukan pukul sembilan malam. Bagi mereka yang tengah asyik berpesta, jam sembilan masih terbilang pagi. Area bar sepi, sepertinya para pelanggan setia Aldys masih dalam perjalanan menuju Club.

Lana yang baru saja hadir mengampiri Bagas. "Tequila one shot, gas." pinta Lana setelah duduk di kursi tinggi bar.

Bagas yang mendengar langsung membuat minuman untuk Lana. Dituangnya botol ber-alkohol tersebut dan memotong lemon untuk memberikan hiasan. Setelah memberikan garam di pinggiran mulut gelas, Bagas menyerahkan minuman asal meksiko itu pada Lana, "Berapa hari ini?"

Mata Lana menyipit dengan alisnya yang sedikit naik karena baru saja meminum tequilanya, "Dua."

Bagas tuang alkohol ke dalam jigger, lalu menuangkan minuman tersebut ke dalam shaker, diikuti dengan perasan jeruk nipis segar dan sirup manis. Tangannya lalu menutup shaker rapat, menggenggamnya kuat, sebelum akhirnya mengoyangkannya cepat.

"Tumben, biasanya hampir empat jika lagi ramai," ujar Bagas setelah dirinya berhasil menuangkan minuman yang sudah di buat ke dalam gelas bening. Kemudian Bagas menyerahkan kepada pengunjung yang memesan.

Setelah selesai memberikan pesanan, Bagas menggeser badannya ke samping untuk mendekati Lana dengan mimik wajah yang terlihat sendu, "Aku sebenarnya khawatir padamu, Na..."

Lana yang tengah memandang lantai dansa kembali memandang Bagas dengan menunjukkan ekspresi heran, "Khawatir kenapa?"

"Bukankah ini saatnya kamu berhenti?" tanya Bagas pelan. Membuat air muka Lana berubah. "Ini sudah hampir tiga tahun. Apa kamu tidak khawatir dengan—"

Belum sempat menyelesaikan pembicaraannya, Lana memotong, "Aku tahu! Tanpa diberitahu, aku yang paling tahu akan diriku!"

Bagas tertegun mendengar jawaban itu. Rasa sedih dan empati terhadap sahabatnya membuatnya tak sanggup untuk menanyakan lebih lanjut pada Lana.

Sebenarnya, sudah berulangkali Bagas memberitahu Lana untuk berhenti dari pekerjaan yang tak pantas itu, namun sama sekali tak pernah digubris. Padahal, Bagas melihat Lana sudah berkecukupan, seperti— rumah, mobil dan beberapa barang branded sudah Lana miliki. Lantas, apa yang menjadi alasan Lana untuk tak bisa berhenti dari pekerjaannya, itu.

Meski berat, Bagas tetap berusaha memberikan masukan tanda dia peduli pada wanita tersebut. "Inget, Na. Gak selamanya hidup itu berjalan mulus terus."

Lana bangkit dari duduknya. Perkataan Bagas saat ini tak bisa ia terima dengan lapang dada. Raut wajah yang kesal terlihat pada diri Lana. "Aku gak butuh nasehat! Nasehat gak bikin aku jadi kaya."

"Na.."

"Udahlah, gas. Aku jadi gak mood. Aku pergi dulu," ungkap Lana meninggalkan Bagas yang terdiam.

THE S*X TAPETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang