Noah menatap layar presentasi dengan pandangan yang serius. Ia pun mengangguk pelan ketika dirasa meeting hari ini berjalan dengan baik.
Kini ia memandang Lana yang tengah asyik menatap layar presentasi di depan. Pelan-pelan tangan Noah menyentuh paha dari Lana, yang membuat wanita itu terhentak. Baru saja berniat menepisnya, tapi tangan Noah lebih kuat.
Perlahan tangan Noah merambat ke atas menyingkap sedikit dress yang Lana kenakan. Perempuan itu melirik Noah seakan memberi tahu bahwa Noah harus fokus terhadap jalannya meeting.
Akan tetapi Noah tetaplah Noah. Sekalipun di depannya ada beberapa orang, tak membuat Noah menghentikan permainan di balik bawah meja.
Tangan Noah perlahan mulai naik ke bagian lebih atas, hawa lembap dan hangat terasa di jarinya. Pelan-pelan ia membuka paha Lana dengan maksud mempermudah jarinya untuk masuk ke dalam vagina Lana.
Sementara itu, Lana berusaha sekali untuk tidak mendesah. Laki-laki itu malah terlihat santai menatap layar seakan yang orang tahu bahwa Noah saat ini sedang fokus terhadap jalannya rapat.
Noah menyunggikan senyuman ketika dua jarinya sudah berhasil masuk. Jarinya sangat lihai dalam memasukkan, mengeluarkan, dan memasukkan kembali ke dalam vagina Lana.
Lana menutup mulutnya, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara apapun. Tapi jari Noah malah semakin menjadi. Ia mempercepat tempo permainan itu hingga Lana tak kuasa menahannya untuk mendesah.
"Aaahhh, sial!"
Semua orang menoleh kepada Lana. Wanita itu hanya terkekeh kecil, "Maaf. Aku baru teringat ponselku tertinggal di dalam mobil. Aku permisi."
Baru saja Lana bangkit dari duduknya, salah seorang pegawai sudah lebih dulu berdiri, "Biar saya saja, Ibu."
Lana mengangguk pasrah. Melihat Noah yang tersenyum menggoda itu membuatnya kembali duduk perlahan.
Tanpa menunggu lama, jari Noah kembali merambat ke dalam bagian gundukkan lemak itu. Ia memainkan jarinya namun dengan tempo yang pelan. Lana yang seperti tersiksa dengan tingkah laku Noah itu berbisik pelan, "Lebih cepat, Noah."
Noah terkekeh kecil. Segera jari itu masuk lebih dalam lagi dan memainkan vagina Lana dengan cepat. Suara kecil dari permainan jari, yang sangat mungkin terdengar, telah basah berair.
Lana menggigit bibir bawahnya karena tak kuasa menahan desahan. Dua jari Noah kini bergerak lebih cepat. Akhirnya, cairan hangat keluar dari vagina Lana.
Wanita itu berusaha mengatur napasnya yang naik turun. Sementara Noah mengambil tissue untuk mengelap kedua jarinya.
"Kami rasa itu saja yang dapat kami sampaikan mengenai keuangan hari ini. Untuk itu kami undur diri, Bapak, Ibu," kata sang auditor yang menatap ke arah Lana dan Noah.
Noah mengangguk. Satu demi persatu orang-orang yang berada di dalam rapat pamit undur diri. Kini tersisa hanyalah Noah dan Lana.
"Kamu sudah makan?" tanya Noah sembari mengambil ponsel dan memasukkannya ke dalam saku celana.
Noah melihat Lana menggeleng, "Kamu yang bilang akan makan malam bersama. Kita sudah menunggumu dari tadi."
"Kita?" Keningnya mengkerut seakan bingung dengan maksud Lana. Namun, Noah akhirnya teringat, "Oh, ya. Dengan owen."
Lana mengangguk pelan, "Maafkan aku jika kehadiran Owen membuat kita sedikit merenggang."
Noah memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Di ruangan meeting, beberapa lampu telah dipadamkan hingga menyisakan bantuan cahaya dari balik ventilasi. Laki-laki itu jelas sekali terlihat menetralisirkan perasaannya dengan menarik napas dan membuangnya pelan.
Kehadiran Owen di dalam hidup mereka sedikit membuat jarak diantara keduanya. Bukan karena Noah tidak suka anak kecil, akan tetapi fakta bahwa Owen adalah anak dari mantan Lana. Pikiran Noah sempat negatif dan berasumsi bahwa Owen adalah anak dari Lana dan Jaxon, akan tetapi Noah segera menepisnya.
"It's okay, sayang," kata Noah dengan meraih lengan Lana untuk memeluknya. "Dengan atau tidak adanya Owen tidak membuatku berhenti untuk mencintaimu."
Lana mengangguk di balik dada bidang Noah. Kemudian Lana ingat kejadian tadi ketika rapat. Langsung saja ia mendorong tubuh Noah dan memukulnya, "Kamu! Apa yang tadi kamu lakukan ketika rapat? Asal kamu tahu, aku berusaha penuh untuk tidak mendesah."
Noah terkekeh kecil, "Maafkan aku. Melihat wajahmu tadi entah kenapa membuatku terangsang, sayang."
"Noah!!"
"Iya, iya, maaf," Noah tersenyum lalu mengecup bibir Lana pelan. "Sekarang, kamu ingin membersihkannya atau kita lanjutkan disini?"
"Noah! Are you out of your, mind? Kalau ada cctv bagaimana? Tiba-tiba orang masuk?"
Noah yang gemas itu memeluk tubuh Lana yang terasa kecil di depannya. Lalu ia melepaskan pelukan itu dan menatap dalam-dalam. Seandainya saja waktu berhenti di hari ini, Noah akan senang. Ia tak sanggup membiarkan Lana sendirian di dunia ini tanpanya.
Berusaha untuk tidak berlarut dalam pikirannya, Noah menangkup tubuh Lana untuk duduk di atas meja. Ia menatap Lana dengan menggoda, "Jadi, jika tidak ada cctv disini, apakah kamu mau?"
Lana kembali berteriak, "NOAH!"
"Okay, okay. Aku bercanda," kemudian Noah memeluk Lana dan menenggelamkan kepalanya di pundak Lana. "You are mine and I love you somuch..."
"I love you too, sayang," balas Lana yang berada dibalik punggung Noah. Badan Noah yang tinggi membuat seluruh tubuh Lana tenggelam dibalik badan kekasihnya itu.
Kemudian Noah melepaskan pelukannya. Ia menatap mata Lana dengan sendu. Sinar matahari yang sudah redup itu membuat cahaya di ruangan ini menjadi sedikit gelap. Akan tetapi Lana dapat melihat jelas tatapan Noah yang sulit diartikan.
Bunyi jarum jam seakan menjadi latar belakang suara yang mereka dengar. Lana menangkup pipi Noah dengan salah satu tangannya, yang langsung dirasakan oleh Noah dengan hangat.
"Kamu kenapa?" Lana bertanya kepada Noah yang sedang memejamkan matanya itu. "Tidak biasanya kamu terdiam seperti ini."
Noah tidak menjawab. Laki-laki itu tetap memilih untuk berdiam diri. Lana mulai memajukan wajahnya kepada Noah dan melihat bibir Noah yang sedikit lebih pucat dari biasanya.
"Noah," panggilnya berharap dapat jawaban dari kekasihnya. Lana langsung saja memeriksa kening Noah yang saat ini mulai panas. Ia langsung mendudukan Noah ke kursi.
"Noah," panggilnya sekali lagi memastikan bahwa Noah masih dalam keadaan baik saja.
Noah membuang napasnya pelan, "Hmm?"
"Kau membuatku takut!" Lana kemudian membiarkan Noah untuk istirahat sejenak di kursi. Baru saja ingin mengambil air mineral, tubuh Noah terhuyung jatuh ke lantai.
"NOAH??! TOLONG!!!"
Aku berharap, semua akan baik-baik saja.
********
Halo, para kesayangan readersku. Bagaimana kabar kalian hari ini? :)
I hope you still enjoy ya untuk baca ceritaku yang updatenya lama banget ini hihiii. Ditunggu part selanjutnya :).
FNB
23 Agustus 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
THE S*X TAPE
RomanceKalian bisa follow aku lebih dulu agar bisa membacanya. Rated: (18+) ******** Ingin rasanya Lana berkeluh kesah akan perjuangannya dalam mencari pekerjaan demi bertahan hidup. Seandainya saja ada tempat bersandar bagi Lana, mungkin gadis itu tidak m...
