Part 23

20.9K 332 4
                                        

Lana menepis tangan Mas Kio yang menahan lengannya. Ia tersenyum kikuk sembari melangkah perlahan.

"Bagaimana, Lana? Apakah kamu bisa hari ini?"
Mas Kio masih saja setia membuntuti langkah Lana. Padahal, gerak-gerik Lana sudah mengisyratkan ketidaknyamanan.

Akan tetapi sepertinya laki-laki itu tidak peduli. Entah kenapa Mas Kio, yang sebelumnya terlihat culun dan gugup ketika berbicara itu, kini lebih percaya diri dan lugas.

"Maaf, Mas." Lana mengucapkan kata maaf yang seharusnya tidak ia ucapkan. "Saya sudah tidak bekerja lagi."

"Oh, ya?" Mas Kio kemudian berusaha meraih lengan Lana lagi, namun dengan cepat Lana menundurkan langkahnya.

"Kalau begitu, saya permisi dulu, Mas. Ada hal mendesak yang harus saya lakukan di supermarket ini."

Mas Kio terlihat mengeraskan rahangnya dari balik punggung wanita yang sudah berjalan melaluinya. Sementara kekasih dari Noah ini berusaha tak mempedulikan apa yang ada di belakangnya.

Pelan-pelan Lana meraih ponselnya, mengirimkan pesan singkat kepada Noah.

Lana Carroline
Baby, aku takut.

Send.

Setelah pesan tersebut dikirim, Lana dengan terburu-buru pergi ke stall perlengkapan bayi. Ia meraih tiga kotak susu dengan brand yang cukup terkenal itu. Tak lupa Lana meraih diapers untuk Owen, yang sudah mulai habis stocknya di rumah.

Langkah Lana melambat saat ia menuju area daging. Matanya menyapu rak demi rak, berusaha menemukan daging ayam cincang. Saat itu, Jasmine memintanya menyiapkan bubur untuk Owen. Memasak untuk seorang toddler adalah pengalaman baru baginya.

TRING!

Noah Baskara
Why?

Lana membaca pesan itu berulang kali. Sekalipun ia tahu, pesan itu tak akan bertambah lagi karena Noah hanya membalasnya dengan kata "kenapa?".

Ia memahami bahwa dirinya juga telah mengirimkan pesan singkat kepada Noah, sehingga ia tak bisa berharap banyak dari balasan pesan itu. Akan tetapi, setidaknya Lana mengharapkan balasan yang lebih, atau setidaknya menghubunginya untuk memastikan.

Tanpa menunggu Noah menghubunginya lebih dulu, Lana langsung menekan tombol panggilan. Kepekaan seorang laki-laki memang kerap kalah dibandingkan perempuan. Karena itu, Lana memilih untuk langsung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya tadi.

Lana menghimpitkan ponsel diantara telinga dan pundaknya. Ia sembari berjalan perlahan menuju stall minuman beralkohol. Panggilan telepon terus berdering tanpa diangkat sama sekali. Lana mencoba untuk menghubungi Noah kembali, setelah sebelumnya berhasil meraih kaleng dengan kadar alkohol rendah itu.

Tak lupa Lana juga meraih wine, yang biasa Noah minum. Ketika dirasa semua belanja telah cukup, Lana berjalan menuju kasir. Ia meraih ponselnya dan mematikan panggilan.

Perempuan itu menyerahkan semua belanjaannya kepada kasir, lalu menyerahkan black card milik Noah.

"Apakah ada lagi yang bisa saya bantu, Ibu?"

"No, thank you." Lana memberikan senyuman kecil, lalu meraih tas belanja dan mulai mendorong stroller milik Owen.

Sesampainya di parkiran, Lana menyalakan mobil dengan fitur remote start. Mobil itu pun dengan otomatis menyala dan menghidupi sistem pendingin. Lalu, diraihnya Owen dan menggendongnya perlahan. Bersyukurnya anak balita itu masih tertidur, yang kemungkinan kelelahan karena habis menangis.

Sesudah memastikan Owen duduk di atas car seatnya, ia berjalan menuju bagasi belakang, guna menaruh semua belanjaan miliknya. Tangan Lana menutup pintu bagasi, tanda apa yang ia kerjakan telah selesai.

THE S*X TAPECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang