Lana kini berhasil menidurkan Owen kembali. Melihat anak kecil yang tertidur pulas itu membuatnya tersenyum tipis. Keinginan Lana yang dulu ingin mempunyai anak sepertinya harus segera dilupakan. Sejujurnya, hal ini dikarenakan Lana yang tidak mau semua orang tahu, bahwa anaknya mempunyai seorang Ibu yang bekerja sebagai jalang.
Walaupun semenjak pacaran dengan Noah, Lana sudah lama tidak pernah menerima pelanggan lagi. Noah akan selalu memberikan apa yang ia inginkan dan ia butuhkan. Pernah kala itu Noah langsung memberikan ponsel keluaran terbaru tanpa persetujuan dari Lana.
Padahal Lana sudah mengatakan kalau ponselnya masih bagus, sekalipun model lama. Namun Noah bersikeras memberikan ponsel keluaran baru tersebut. Mengingat hal itu, membuat dadanya berdesir hangat.
Tak bisa dipungkiri ada perasaan rindu pada Noah. Sudah dua hari berlalu, tapi dunia masih terasa sepi tanpa kehadiran kekasihnya. Segera Lana mengambil ponsel yang berada di atas nakas dan mencari kontak yang dituju.
Calling....
Noah sepertinya tidak mengaktifkan ponsel. Sudah beberapa kali Lana mencoba namun pria itu tak mengangkatnya. Masih berusaha penuh untuk mencari keberadaan Noah, langsung saja Lana menekan tombol angka nomor sahabatnya.
"Halo?" Suara dari seberang sana terdengar. Sepertinya ada yang mengganggu dari arah belakang, namun hal itu tak dipedulikan Lana.
"Kamu liat, Noah?"
"Apa?? Sorry, Na. Suaramu kecil sekali!"
"BAGAS! APAKAH ADA NOAH DISITU?" Kali ini sengaja Lana mengeraskan suaranya lebih kencang.
"No, bos tidak ada disini!"
"Kemana??"
"Mana ku tahu, kau kan pacarnya!"
"Bagas! Aku serius!"
"Aku dua rius," balas Bagas yang tak terdengar lucu bagi Lana, "Eh, aku ingat! Sepertinya bos mau ketemu jeniffer!"
Lana mengernyit bingung, "Memangnya dia ada perlu apa?"
"Aku tidak tahu kalau kini aku merangkap menjadi assisten pribadi bos?" Lana mendecih membuat Bagas terkekeh, "Sudah, ah. Aku ingin kerja dulu."
"Baiklah, thank you, Bagas." Kemudian Lana mematikan ponselnya. Segera ia mengirimkan pesan kepada Noah untuk menghubungi dirinya.
Sementara itu, Noah yang sudah mengganti bajunya dengan setelan jas berwarna hitam itu sedang sibuk memantau laporan keuangan bersama Jeniffer. Ia memijat keningnya pelan. Setiap perhitungan dalam pengeluaran, profit serta kerugian dilakukan dengan hati-hati dan teliti.
Hal ini membuat kepala Noah sedikit pening, sekalipun sebenarnya Noah sudah terbiasa melakukan pengawasan bersama auditor di 5 tahun terakhir. Sepertinya yang membuat Noah menjadi kelelahan dan lebih pusing dari biasanya karena sebagian pikirannya tertuju kepada Lana.
Ia rindu. Walaupun hanya dua hari berlalu. Tapi rasanya ada perasaan sesak jika ia tidak melihat Lana saat ini. Noah bangkit berdiri membuat para auditor dan Jeniffer memandang kepadanya.
"Lanjutkan, saya ingin keluar sebentar," kata Noah dengan memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana. Mereka yang berada di dalam ruangan pun mengangguk.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE S*X TAPE
RomanceKalian bisa follow aku lebih dulu agar bisa membacanya. Rated: (18+) ******** Ingin rasanya Lana berkeluh kesah akan perjuangannya dalam mencari pekerjaan demi bertahan hidup. Seandainya saja ada tempat bersandar bagi Lana, mungkin gadis itu tidak m...
