Part 21

27.5K 445 3
                                        

Seharusnya, Lana tidak perlu melihat isi pesan tersebut. Karena yang terjadi saat ini malah membuat hatinya semakin sakit.

Betapa sulit untuk menanyakan kepada Noah, akan apa yang di dengar tadi. Rasanya ingin memberikan runtutan pertanyaan dengan perasaan gelisah yang kian menekan hati, namun Lana menahannya.

Cemburu.

Satu kata berjuta makna itu menghinggapi batin Lana. Tak bisa dipungkiri setelah mendengar suara perempuan tersebut, membuat dadanya memanas. Tanpa terasa, sebuah air menetes di pipinya. Sebagian jari-jarinya meremas seprai kasur dengan cukup kencang, sedangkan jari lainnya mengusap air mata yang telah jatuh itu.

Apakah ini yang dinamakan karma? Setelah sebelumnya meniduri banyak laki-laki untuk mendapatkan uang—yang dimana tak peduli apakah mereka sudah beristri atau tidak—,  membuatnya tak pantas untuk dicintai?

Tiba-tiba, bayangan flashback menguasai pikirannya. Pertemuan Lana dengan Noah terasa seperti kisah dari negeri dongeng—si buruk rupa yang bertemu pangeran tampan, yang datang membawa cinta tanpa syarat. Setiap kekurangan Lana tak pernah menjadi soal bagi sang pangeran. Bahkan masa lalu yang kelam pun tak membuatnya berpaling; Noah tetap menerimanya apa adanya.

Namun, ini bukan sekedar cerita cinta.

Ini adalah kisah tentang kesadaran—
kesadaran si buruk rupa akan cinta yang seharusnya tidak ia terima. Seharusnya, ia tahu. Tahu akan posisinya, tahu akan keberadaannya, dan sadar bahwa dirinya tidak pantas berdiri di sisi sang pangeran.

Lana menghapus air matanya kembali dengan kasar. Ia beranjak dari kasur untuk pergi ke kamar mandi. Saat ini, yang Lana akan lakukan adalah menunggu. Ia tidak mau mendesak Noah, sekalipun rasanya ingin.

Membuka keran air di wastafel, Lana pun mulai membasuh muka di wajahnya. Ia berusaha menghilangkan bekas tangisan kecil di matanya yang memerah tersebut. Dia tidak mau terlihat sehabis menangis.

"Sayang, are you there? Pad thai sudah selesai dibuat. Ayo kita makan bersama."

"Okay, give me five minutes!" teriak Lana sembari mengusap kembali air di wajahnya. Setelah memastikan keadaannya yang sudah lebih baik di kaca kamar mandi, ia pun berusaha menarik bibirnya ke atas. Senyuman yang dipaksakan berhasil dibuat oleh Lana.

"Kenapa lama sekali? Aku sudah lapar sayang." Ajak Noah sembari menggandeng tangan Lana untuk membawanya ke dapur.

********

Keesokan harinya, Noah ada janji temu dengan beberapa investor yang akan datang ke club miliknya. Kali ini setelan jas cokelat muda sudah terpasang baik di badan sixpack pria yang hampir menginjak usia 30an itu.

Berhasil memakai rolex watch di tangan kiri, Noah memasukkan dua ponselnya ke dalam saku celana.

"Kamu tidak memakan breakfastmu, Noah?"

"Sepertinya tidak. Hari ini aku harus segera bertemu dengan investor." Noah melihat ipad miliknya untuk melihat schedule hari ini. "Mereka hampir sampai dari perjalanan Perth menuju Indonesia. Setelah business ini fix, kemungkinan aku tidak akan pulang selama beberapa hari."

"Kenapa?" tanya Lana yang berusaha merapikan kerah kemeja Noah yang terlipat.

Setelah selesai memastikan kemeja Noah rapi, suara tangisan anak kecil terdengar.

Rupanya, Owen sudah bangun dari tadi. Karena Lana tidak ada di kamar, membuat Owen menangis.

Lana buru-buru mengambil Owen di kamar milik anak balita tersebut. Ia menggendong Owen di pinggang, lalu berjalan menghampiri Noah.

THE S*X TAPETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang