"I think i need your help, bro. Someone is following Lana. I can't go now because i got a problem in my office. Okay, thanks Vin."
Noah mematikan telepon dan menaruhnya ke dalam saku jas. Baru saja ingin memejamkan mata untuk beristirahat sebentar, ia mendengar Bagas yang meninggikan suaranya. "Apa yang terjadi?!" tanya Noah dengan gusar.
Sementara itu Bagas sedikit menunduk dan mengepalkan jarinya di kemudi setir dengan kuat. "There is a new competitor, Bos."
"What do you mean?"
"Saya baru saja menerima panggilan dari Jeniffer. Salah satu dari pelanggan VIP kita sudah pindah ke Club yang baru tersebut."
Noah berusaha memproses apa yang Bagas katakan. Mendengarnya membuat tubuhnya mendidih. "SHIT! HOW THE FUCK COULD THIS HAPPEND??!!" Amarahnya memuncak ketika mendegar regular high spendernya beralih ke club lain.
Dari semenjak Aldys di bangun hingga sekarang ini, banyak dari anggota VIP nya sangat nyaman dan setia di Club milik Noah. Sekalipun ada beberapa tempat malam yang baru, tidak membuat para VIP berpindah.
Namun, jika mereka akhirnya pindah ke tempat lain, pasti ada yang tidak beres dengan Club tersebut. Tak mungkin mereka akan cepat populer jika tidak ada sesuatu yang disembunyikan.
"Boss, apakah boss ingat waktu beberapa orang mendatangi Aldys Club dan meminta persetujuan dari kita? Mereka ternyata anak buah dari Heras Club."
Noah yang sepertinya teringat sesuatu langsung menanggapi pertanyaan Bagas, "I know! Mereka yang awalnya minta persetujuan pembangunan untuk mall, namun ternyata untuk club?"
Bagas mengangguk, "Benar, bos. Mereka ternyata menbangun club yang bahkan letaknya hanya beberapa meter dari kita. Kami sudah mencari tahu, namun masih sedikit informasi yang kami dapat. Saya akan usahakan untuk mencari tahu kembali tentang heras, boss."
Noah berusaha menghiraukan masalah yang terjadi. Ia melirik arlojinya untuk melihat waktu. Perlahan dia menarik napas dalam-dalam, sebelum akhirnya membuangnya dengan gusar. Informasi yang ia dapatkan dari Bagas menambah hari sial Noah.
Sepertinya semesta kali ini tidak berpihak padanya. Dari pagi hingga sore, tidak ada rencana yang berjalan mulus seperti apa yang ia harapkan. Dimulai dari Sabrina yang membuat Noah memundurkan jadwal meeting, kekasihnya yang diikuti oleh orang lain, hingga kini usahanya yang menjadi beban permasalahan.
Waktu menunjukkan pukul enam sore. Noah akhirnya sampai di sebuah hotel mewah di bilangan Jakarta. Kakinya perlahan memasuki lobby mewah dengan interior lampu menjulang tinggi. Lantainya dilapisi marmer mengilap, dindingnya berlapis granit, hingga meja resepsionis berlapis emas yang menonjolkan kemewahan hotel.
Bagas sudah mengambil kunci kamar President Suite, yang akan dipakai Noah untuk stay dan juga meeting dengan investor. Setelah menyerahkan kepada Noah, Bagas pamit undur diri untuk pulang.
Setelah itu Noah masuk ke dalam lift. Ia memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana, sedangkan yang satu lainnya sedang membuka handphone. Sepertinya sudah saatnya ia mencari sekretaris, mengingat Noah sudah cukup repot untuk mengerjakan beberapa dokumen.
Kemudian Noah telah sampai di lantai yang akan menjadi tempat meeting nanti. Ia mengambil kartu akses, menempatkannya di gagang pintu, sebelum akhirnya mendengar bunyi tanda ia bisa masuk ke dalam ruangan. Tanpa menunggu lama, Noah langsung masuk dan segera menempatkan kartu tersebut ke tempat listrik dinyalakan.
Langkah kaki Noah menelusuri ruang makan, area minibar, dan melewati ruang kerja yang akan digunakan nanti.
Noah kini menaruh suitcasenya. Ia kemudian mengambil kemeja putih serta bawahan celana bahan hitam. Setelah semua yang dibutuhkan selesai, ia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE S*X TAPE
RomanceKalian bisa follow aku lebih dulu agar bisa membacanya. Rated: (18+) ******** Ingin rasanya Lana berkeluh kesah akan perjuangannya dalam mencari pekerjaan demi bertahan hidup. Seandainya saja ada tempat bersandar bagi Lana, mungkin gadis itu tidak m...
