Lana menekan buku jarinya kuat. Genggamannya yang sangat erat, seolah direkatkan oleh lem tak kasat mata, hingga tidak mudah untuk dilepas.
Sejenak, wanita itu menundukkan kepala. Tak sadar rasa kantuk mulai menguasai dirinya. Ia menguap beberapa kali sembari mengusap matanya yang telah berair. Sepertinya ia membutuhkan kopi untuk membuatnya lebih terjaga.
Lana berusaha berdiri, namun sebuah tangan menghentikannya.
"Mau kemana?" pertanyaan retoris itu keluar dari mulut pria yang saat ini masih meringis kesakitan. Noah memijit kening berusaha menetralisirkan rasa pusing yang menjalar.
Bukannya menjawab, Lana dengan cepat mendorong badan Noah agar pria itu tetap berbaring di kasur. Lana memegang kening Noah yang sudah tidak panas itu, "Do you feel better?"
Noah mengangguk. Melihat tatapan Lana yang sangat khawatir, membuat Noah menarik lengan Lana untuk menenggelamkan ke dalam pelukannya. Sepertinya, sebuah pelukkan bekerja dengan sangat baik. Suhu panas dari badan Noah sedikit berkurang.
"I am sorry.." ucapnya setelah berhasil mengecup pucuk kepala Lana.
Lana yang memainkan jarinya di atas dada Noah mengernyit bingung, "Untuk apa?"
"Karena kita jadi tidak dinner di luar malam ini."
"Tidak masalah, Noah. Kita bisa makan di rumah," balas Lana, yang kini berusaha melepaskan pelukkan Noah.
Noah mendeham tanda setuju. Ia mulai mendekap Lana, dan meraih dagu wanita itu, sebelum akhirnya memberikan kecupan kecil di bibir. Noah pun melanjutkannya dengan memberikan ciuman yang lebih dalam. Ia pelan-pelan mengulum bibir wanita itu, yang entah mengapa terasa manis baginya.
Lana yang juga membalas membuat napas Noah kian memburu. Bibir keduanya saling berpagut, menghisap setiap lapisan yang candu. Lidah yang kini masuk membuat Lana membuka mulutnya secara otomatis.
Kini Noah mengabsen setiap deretan gigi Lana. Lidahnya sesekali bertemu dengan lidah Lana. Ciumannya kini turun ke arah leher. Sengaja Noah mencumbu leher Lana dalam-dalam, dengan maksud memberikan tanda merah di akhir sebagai bentuk kepemilikkannya.
Embusan napas mereka dapat dirasakan masing-masing. Bunyi jarum jam yang terdengar seakan menjadi latar belakang musik mereka.
Hawa badan keduanya mulai terasa hangat akibat ciuman yang intens. Namun, karena tahu permainan akan berlanjut lebih lagi, membuat Lana mendorong tubuh Noah pelan.
Ia sengaja menghentikan permainan ini karena Noah masih sakit.
"Kamu harus istirahat dulu, sayang."
Mendengar hal itu Noah mendesah pelan, "Tapi aku sudah merasa lebih baik."
"Tidak, Noah. Besok kamu masih ada pekerjaan. Apa lagi dengan bisnis baru yang akan launching di bulan selanjutnya, kamu pasti akan lebih lelah."
Baru ingin menyela perkataan kekasihnya, Lana dengan segera mencium bibir Noah cepat. "You need some rest. Mau aku buatkan teh, atau susu?"
"Susu," Noah melirik payudara Lana, membuat wanita itu mendengus kesal. "Iya, iya, aku bercanda." balas Noah terkekeh kecil.
"Jadi, mau apa?"
"Teh, saja." Lana mengangguk mendengar jawaban Noah. Setelah itu, Lana pergi meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju dapur.
Noah kembali memijat keningnya pelan. Demamnya sudah lebih baik dari sebelumnya. Kelelahan bekerja membuatnya jadi jatuh sakit.
Padahal, Noah tiap kali selalu minum vitamin penambah daya tahan tubuh. Akan tetapi biar bagaimanapun, tubuh tetap perlu beristirahat.
Sebenarnya, Noah bisa saja ke rumah sakit ketika sebelumnya pingsan di lantai. Akan tetapi, ia benci rumah sakit. Aroma khas serta pemandangan dinding putih yang monoton sangatlah membosankan.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE S*X TAPE
RomanceKalian bisa follow aku lebih dulu agar bisa membacanya. Rated: (18+) ******** Ingin rasanya Lana berkeluh kesah akan perjuangannya dalam mencari pekerjaan demi bertahan hidup. Seandainya saja ada tempat bersandar bagi Lana, mungkin gadis itu tidak m...
