6 - Unbelievable

108K 9.9K 333
                                        

Sampai pulang sekolah tadi Indah masih mendiamkan Shinta. Mereka tidak saling bicara walau jarak mereka hanya selebar bangku dan meja. Itu sungguh sangat mengganggu Shinta. Mungkin itu juga yang dirasakan Indah karena gerak gerik mereka begitu risih satu sama lain. Rasanya udara diantara keduanya begitu sesak.

Sebenarnya Shinta ingin meminta maaf. Ia sudah ingin meminta maaf ketika kata-kata yang menyinggung itu terlontar. Tapi Shinta tidak tau harus memulai dari mana. Dan sikap Indah yang diam itu mempersulit Shinta untuk memulai pembicaraan.

Shinta sangat payah dalam urusan bicara. Terbukti dengan alasan Indah marah sekarang. Ia cenderung pendiam dan mendengarkan. Itulah kenapa ia cocok berteman dengan Indah. Shinta yang pendiam sedangkan Indah cerewet. Mereka saling melengkapi. Tapi ketika sedang bertengkar seperti ini, apalagi jika kesalahan ada pada Shinta, Shinta bingung bagaimana harus meminta maaf.

Belum lagi urusannya dengan Rama belum selesai. Shinta harus mengendap-endap saat pulang agar tidak bertemu dengan Rama. Handphone Shinta juga masih ada pada Rama. Meski Shinta sangat menginginkan itu kembali, tapi lagi-lagi ia kalah dengan ketakutan dalam dirinya.

Shinta tak mengerti dengan jelas apa yang membuatnya begitu takut pada Rama. Shinta hanya tak pernah mempersiapkan dirinya untuk berhadapan langsung dengan Rama. Selama ini ia lebih memilih bersembunyi ketika diam-diam memperhatikan Rama karena ia tak pernah membayangkan Rama akan melihat padanya.

Shinta menikmati memandang Rama dan memujanya dalam diam. Meski itu terdengar sangat menyedihkan tapi Shinta selalu berhasil tersenyum hanya karena menatap Rama dari jauh.

Shinta ingin, ingin seperti wanita lain yang bisa dengan santai bicara dan tertawa bersama Rama. Tapi entah kenapa rasanya Shinta begitu takut. Takut jika Rama mengetahui perasaannya. Takut jika Rama tidak menyukai perasaannya ini. Takut jika satu langkah maju yang ia ambil membuat Rama justru membencinya karena perasaan ini.

Dan Shinta tidak sanggup memikirkan Rama membencinya.

"Woi... " tubuh Shinta terdorong kedepan akibat senggolan sengaja dari kak Radit. Mereka sedang menyiapkan meja untuk makan malam. Katanya akan ada tamu yang datang dan ikut makan malam bersama. Teman mama atau mungkin papa... entahlah, Shinta tak begitu mendengarkan tadi karena pikirannya tidak disini sekarang.

"Ngelamun aja terus, biar diculik genderuwo sekalian... " lanjut Radit. Ia sudah menemukan shinta melamun dari tadi pulang sekolah. Dan ini melamun dengan jenis berbeda. Jika biasanya Shinta melamun dengan senyum, kali ini ada guratan sedih diwajahnya. Membuat Radit gatal ingin bertanya.

"Huss... ngomong sama adeknya gitu. Kalo beneran diculik gimana.. kamu mau ganti?" mama datang dari arah dapur dengan membawa sepiring besar kepiting asama manis. Ia meletakkan ditengah meja lalu merapikan susunan piring Radit yang tidak benar.

"Dih. Gimana cara gantinya.. aku ganti sama gantungan kunci sih bisa.. lagian kayak genderuwo mau nyulik dia aja.."

Kali ini Mama Rita melancarkan cubitan keras diperut anak sulungnya. Ia menghampiri Shinta dan menangkup wajah anaknya dengan sayang.

"Sayang, jangan cemberut terus dong. Temen mama mau dateng bentar lagi. Gak enak dong anak mama yang cantik ini malah cemberutan.."

Shinta hanya menggangguk. Ia tidak terlalu mendengarkan apa yang mamanya katakan namun demi mempercepat segalanya ia mencoba menyunggingkan senyum.

"Biar Kaka tebak, pasti gara-gara cowok yang diparkiran bukan?"

Kali ini Shinta menatap kakanya dengan horor lalu melemparkan alas piring kearahnya. "Gak usah sok tau..." Radit menghindar dengan mudah lalu mendekati adiknya. Ditumpukannya lengannya dibahu adiknya.

Secret Admirer [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang