RATE : 18+
Entah sudah berapa kali cowok itu mengelilingi kamarnya. Entah sudah sebanyak apa umpatan yang ia lemparkan ke udara. Kemarahan di dalam dirinya begitu pekat bahkan untuk menarik nafas saja ia merasakan sesak. Dan berputar di dalam ruangan itu tidak menurunkan kemarahannya sedikit pun.
Ia justru semakin gusar hingga ingin memukul sesuatu. Cowok bertubuh tinggi itu hanya mampu meremas ranbutnya frustasi sambil berteriak. Ia akan berubah menjadi gila sebentar lagi.
Lampu dari layar ponsel yang tergeletak di atas meja belajar menyala terang di dalam kamar yang gelap. Menghentikan aktifitas mondar-mandirnya. Ia menghampiri meja dan melihat sebuah pesan masuk disana.
Shinta : kamu baik-baik aja?
Rama meremas ponselnya. Meletakkannya kembali ke atas meja dengan gamang. Gadisnya itu sudah sering dibuat tidak nyaman oleh kehadiran Karin. Mungkin saja Shinta pernah tersakiti. Entah dengan semua sikap menyebalkan wanita itu ataupun perkataannya yang selalu saja membuat Rama muak.
Namun sikap Shinta tidak pernah berubah sedikit pun. Shinta selalu bisa bersikap tenang dan berkepala dingin. Ia tidak pernah berteriak padanya hanya untuk meminta penjelasan. Bahkan gadis itu hanya ingin mendengar penjelasan dari mulutnya. Bukan orang lain.
Dan Shinta selalu mempercayainya.
Rama menarik kursi meja belajarnya dan menutup wajahnya disana. Ia tidak ingin Shinta disakiti. Ia bahkan tidak tau apakah dirinya sanggup melihat kesedihan di wajah gadis itu.
Dia tidak pernah mengira jika di dunia ini ada seseorang seperti Shinta. Apakah karena gadis itu tidak mengenal sebuah hubungan sebelum ini, yang membuatnya sangat menerima atas apapun penjelasan Rama. Dia sangat mengerti. Sangat memahami. Sangat mengagumkan. Sangat luar biasa hangat hingga Rama hanya butuh Shinta. Ia hanya ingin Shinta.
Yang jelas semakin ia bersama Shinta, hatinya semakin banyak tercuri oleh gadis itu.
Ponsel di depannya kembali bergetar dengan layar menyala terang.
Shinta : Bisa ajarin Matematika? Minggu depan udah ujian. Masih ada yang gak aku ngerti. Nanti aku buatin susu hangat :)
Rama tentu bisa melindungi gadisnya. Ia tidak akan membiarkan gadis itu tersakiti.
Setelah yakin keinginan untuk memukul sesuatu menghilang dari dirinya, Rama bangkit serta menuju pintu kamarnya. Mengayunkannya terbukauntuk selanjutnya mematung beberapa saat.
"See, lo bahkan tau gue disini tanpa gue harus mengetuk. Bukankah itu yang dinamakan sehati?"
Rama meremas handle pintu dengan keras. "Enggak." Jawabnya tajam.
Karin meringis dengan senyum sambil menekan dadanya. "Gue jadi sakit hati liat sikap dingin lo gini. Apa karena cewek itu lo jadi lupain gue sebegininya?"
"Shinta gak ada sangkut pautnya disini."
"Lo tentu masih inget sama janji kita berdua waktu itu."
Rama berdecak. "Gue bahkan lupa siapa lo. Segala hal tentang lo dan masa lalu yang lo bawa udah hilang dari lama."
Karin terlihat tidak senang dengan perkataan Rama. Ia kemudian mendorong dada Rama hingga keduanya berada di dalam kamar cowok itu.
Melihat tangan Karin berada padanya, membuat Rama mengambil tangan itu dan mencekalnya terlalu kuat. "Jangan berani sentuh gue!" Desisnya.
Karin menyeringai. Ia menghempaskan cekalan Rama dan berjalan masuk semakin jauh.
"Keluar dari kamar gue sekarang. Selagi gue masih minta secara baik-baik."
"Lo kenapa sih? Gue cuma liat-liat doang." Ujarnya seraya mengambil sebuah pajangan di sisi dinding. "Ternyata masih sama kaya dulu aja kamar lo. Kamar cowok paling rapi yang pernah gue tau."
Rama meremas kedua tangan. Entah kenapa hanya dengan melihat Karin saja bisa menyulut kemarahan di dalam dirinya. Setiap ekpresi yang di tampilkan wanita itu seolah sedang mengejeknya. Seolah berkata jika ia bisa kapan saja menyakiti Shinta dan Rama tidak bisa mencegah itu. Rama tidak suka itu.
"Berhenti mengatakan hal menjijikan. Kalo lo masih mau numpang di rumah ini, seengaknya lo bisa bersikap layaknya seorang tamu yang baik." Rama memang tadi berniat untuk menemui Karin. Memperingatkan wanita itu akan sikapnya yang menyebalkan. Agar berhenti mengganggu Shinta. Tapi tentu saja bukan di kamar Rama tempatnya.
Karin berputar di kakinya, menghadap Rama. "Menjijikkan?" Ia mendengus. "Gue mengatakan kebenaran. Memang semua kebenaran kenyataannya menjijikkan bukan?"
"Tapi lo sengaja ngelakuin itu semua. Lo kira dengan semua itu, keadaan akan berubah seperti yang lo mau?" Rama menekan emosinya."Enggak. Lo salah. Gak akan ada yang akan berubah bahkan jika waktu berputar mundur sekalipun."
"Lihat. Gimana sekarang lo membenci semua ini saat dulu lo begitu memuja gue. Gue bahkan masih ingat bagaimana lo memohon untuk gue selalu ada di sisi lo. Lucu kalau sekarang lo justru bersusah payah mendorong gue menjauh."
"Lo gila?" Satu-satunya alasan kenapa Rama tidak memukulnya adalah karena Karin seorang Wanita. "Seharusnya, lo gak perlu sibuk membicarakan masa lalu, kalau di masa itu lo gak pernah bisa menghargai perasaan gue."
"Gue menghargai perasaan lo, Ram." Karin melangkah mendekat. "Gue cuma bingung. Gue gak tau apa perkataan lo serius atau enggak waktu itu. Gue masih gak bisa yakin."
"Mungkin seharusnya lo tetap gak yakin. Sama seperti dulu. Itu akan jadi lebih mudah." Sahut Rama acuh. Ia ingin secepatnya menyelesaikan apapun itu dengan Karin.
"Tapi sekarang gue udah beda. "Karin kembali mendekat. Kini wanita itu berada tepat di depan Rama. Ia menjulurkan tangannya ke leher Rama. "Gue sayang sama lo. Gue sayang sama lo seperti lo dulu bilang sama gue. Malah gue gak bisa berhenti lagi sekarang."
Rama melepaskan tangan wanita itu dari lehernya. Merasa risih dan tidak ingin disentuh olehnya. "Gue tau lo gak sebego itu untuk tau gimana perasaan gue sekarang sama lo. Alasan kenapa gue gak protes lo tinggal disini hanya karena Bunda yang ngijinin. Bunda ngerasa perlu memberi atap selagi lo disini karena bantuan keluarga lo dulu buat jagain gue." Rama mundur untuk membuat jarak. "Tapi kalo sikap lo selalu berusaha untuk menyakiti Shinta, gue gak bisa biarin lo terus tinggal disini."
Di semua dugaan bagaimana respon wanita itu, tertawa bukanlah salah satunya. Karin yang tertawa di depannya membuat Rama tidak tenang. Bagaimana jika Shinta mendegar? Ia tidak ingin Shinta mengetahui jika Karin berada di kamarnya sekarang.
"Lo semakin keren ya sekarang." Ucap Karin di ujung tawa. "Lo yang bersikap melindungi seperti ini selalu bikin gue gak tahan. Lo gak tau kan gimana mendebarkannya berada di sekeliling lo dengan sikap lo yang seperti itu."
Karin kembali melangkah maju. Mendekatkan dirinya pada Rama. Melingkarkan lagi tangannya di leher cowok itu dengan cepat. Sebelum Rama sempat mendorong tubuhnya menjauh, Karin berjingkit dan mencium bibir Rama.
***
Tbc
Harus vote sama coment pokoknya!!!!
Eh typo ya sayangg... gak di baca ulang soalnya.
Faradita
Penulis amatir yang kebelet pipis malem malem
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Admirer [Completed]
Novela Juvenil(S U D A H T E R B I T) -TERSEDIA DI TOKO BUKU- Hanya Rama yang mampu membuat Shinta berdebar ketika memandangnya. Bahkan, walau dari jauh sekalipun. Disaat Shinta yang terlampau nyaman menjadi pemuja, tiba-tiba keadaan memutar balikkan kenyataan...
![Secret Admirer [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/60441646-64-k45671.jpg)