7 - Heart Attack

123K 9.4K 711
                                        

Entah apa yang lebih mengejutkan daripada menemukan orang yang selama ini hanya bisa kau perhatikan diam-diam kini justru berjarak selebar meja makan dan ditambah sedang memperhatikanmu. Rasanya seperti ketiban duren tapi ketusuk durinya juga. Seperti yang dirasakan Shinta sekarang.

"Dek.. bener kan?"

Dan Kak Radit tidak membantu sama sekali. Shinta menendang kaki Radit dari bawah meja untuk menyuruhnya diam. Shinta tidak bisa menjawab bisikanya ketika seluruh mata saat ini terarah pada Shinta.

"Ini anak bungsu tante, ayo dikenalin. jangan pada malu-malu kucing gitu dong ," Mama Rita terlihat begitu senang hingga bertopang dagu dari mejanya. Papanya hanya tersenyum simpul sambil melanjutkan makan. Om Bayu dan Tante Merylin juga tengah membagi senyum mereka kemudian memilih kembali memperhatikanku. Shinta yang tidak kuat dengan tatapan dari banyak mata memilih melarikan wajahnya menunduk.

Laki-laki itu berdiri dari kursinya, sedikit membungkuk untuk bisa mengulurkan tangannya, senyum geli masih menghiasi wajah gantengnya malam ini.

"Gue Rama," tangannya terulur yang dengan terpaksa disambut oleh wanita yang masih menahan ruam merah diwajahnya.

"Aku Shinta," suara Shinta bergetar. Ia terlalu banyak menerima kejutan malam ini. Dari mimpi terliarnya pun ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Duduk berhadapan dengan Rama dengan perhatiannya yang tertuju penuh untuk Shinta, dan saat ini Shinta merasakan genggaman hangat tangan Rama.

Ia akan pingsan.

Cukup lama Rama menjabat tangan sampai Papa bergurau.. "dilepas dulu nak Rama, nanti kalo sudah selesai makan disambung lagi salamannya.."

Sontak Shinta menarik tangannya dengan cepat dan menyembunyikannya dibawah meja. Rama yang ditegur dengan candaan seperti itu hanya tersenyum dan mengangguk. Ia kembali duduk dikursinya ketika seluruh orang dimeja seperti menahan sedang tawa.

Shinta merasa wajahnya terbakar. Ia tidak sanggup lagi menganggkat sendok dan melanjutkan makan. Kalau tadi Shinta sama sekali tidak nafsu makan, sekarang Shinta benar-benar ingin muntah karena melihat makanan didepannya. Tentu ia tidak bisa melakukan itu saat ini. Didepan banyak orang.

"Kayaknya bener deh," bisik Radit lagi. Shinta menoleh, mendapati kakaknya sedang menggigit potongan daging ayam dan tersenyum padanya. "Bakalan seru nih,"

Shinta menendang kaki Radit lagi dari bawah meja. Membuat Radit berdengit dikursinya. Namum bukannya berhenti Radit lebih memilih melanjutkan, masih dengan berbisik. "Awalnya kakak pikir bakal susah nyari tau cowok yang kamu suka, eh orangnya malah dateng kerumah, ckckck... emang bener ya kakak tuh disayang ama Tuhan"

Mendengar celoteh Radit yang makin tidak karuan, yang membuat semakin gelabakan juga, kali ini Shinta memilih menginjak kakinya kuat-kuat. Namun Radit tetap terkekeh disebelahnya tak bergeming dan justru Rama yang mengangkat wajah memandangnya.

Rama memandangnya dengan dahi berkerut lalu tersenyum. Shinta merasa sangat malu karena sepertinya ia menendang kaki Rama. Membuat Shinta lebih malu lagi karena saat ini Rama pasti sedang menertawakannya. Menertawakan kekenyolannya sendiri. Bagaimana tidak, Shinta sudah bersusah payah menghindarinya, melarikan diri darinya di sekolah, tapi malah terjebak dimeja ini dengan ia berada persis dihadapannya.

Syukurlah, Orangtua Shinta dan orang tua Rama sedang asyik mengobrol. Mereka tidak memperhatikan jika Shinta tengah bertarung dengan hidup dan matinya diujung meja, kecuali Kakak rese disebelahnya.

Ia ingin sekali pergi dari meja ini sekarang. Setidaknya menjauh sedikit dari Rama. Ketempat dimana Rama tidak bisa melihatnya. Ia ingin melompat karena begitu senang dan ingin menutupi dirinya dengan karpet karena malu. Rasa yang bercampur menjadi satu didalam dirinya itu membuatnya tidak menyentuh makan malamnya sama sekali.

Secret Admirer [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang