3 - His Eyes On Me

127K 10.4K 574
                                        

Shinta tidak tahu apakah ia harus menyebut ini musibah atau keberuntungan.

Demi apapun yang ia miliki, ia tidak pernah berpikir bisa berada didalam situasi seperti sekarang. Berada disebuah ruangan bersama dengan Rama didalamnya. Hanya berdua.

Oke, mungkin mereka berdua tapi berada disudut perpustakaan yang berbeda jauh dan Rama tidak tau keberadaannya disini. Tapi atmosfer yang dirasakan oleh Shinta seakan berbeda karena debarannya semakin kencang. Shinta hanya mampu memegangi dadanya dan berdoa didalam hati agar Rama tidak bangun sebelum Pak Komar kembali.

Sejak Pak Komar keluar dari sini dan memberikan Shinta tugas menjaga perpustakaan, ia masih berdiri ditempat tadi Pak Komar meninggalkannya. Kakinya tak mampu bergerak bahkan untuk mencari tempat duduk. Kedua tangannya memilin tali tas nya. Kepalanya memutar mengelilingi perpustakaan yang besar ini demi untuk mencari hal yang mampu mengalihkan pikirannya dari Rama.

Rama yang kemungkinan sedang tidur dibelakanh sana.

Sepertinya sudah puluhan kali Shinta melihat jam kecil ditangan kirinya, namun sosok Pak Komar belum kunjung kembali juga. Shinta sedikit frustasi karena jika Pak Komar masih belum kembali, ia takut tidak bisa mencegah dirinya masuk lebih dalam dan mencari Rama. Godaan untuk bisa melihat Rama yang sedang tertidur membuatnya gelisah dikedua kakinya.

Shinta berpikir jika hanya disini ia bisa melihat Rama dalam jarak yang dekat. Begitu dekat dari pada biasanya. Tanpa bisa Shinta cegah kakinya yang semula kaku tak bisa bergerak tiba-tiba melangkah pelan mengarah kebagian belakang rak buku, tempat dimana kemarin ia menemukan Rama.

Shinta sudah mencapai tengah saat ia seperti tersadar apa yang trngah ia lakukan. Shinta lalu berbalik cepat dan kembali kebagian meja depan. Ia bertarung dengan dirinya sendiri, dimana disatu sisi ia ingin menuruti keegoisannya untuk bisa diam-diam melihat Rama, sedangkan logikanya meminta ia tetap berdiri didepan menunggu Pak Komar datang. Dan kehilangan kesempatan untuk bisa melihat Rama dari dekat lagi.

Shinta berbalik dan menutup mata seraya menghela nafas keras karena keegoisannya berhasil menuntunnya berjalan kembali menuju rak buku paling belakang. Tepat disana, ia bisa melihat tubuh Rama yang berbaring dikursi kayu panjang. Dengan posisi sama seperti kemarin, hanya saja saat ini kepalanya berbantalkan jaket miliknya. Lagi-lagi Shinta terpaku. Matanya menjelajahi Rama dari kaki hingga kepala. Semuanya direkam dengan pasti oleh matanya.

Kakinya melangkah lagi hingga kini Shinta berdiri dekat kepala Rama. Shinta harus menutup mulutnya sendiri. karena walaupun ia tidak ingin berteriak, ia hanya tidak percaya jika reaksi tubuhnya sama dengan apa yang diperintahkan otaknya.

Shinta mencoba mengatur nafas. Dari jarak sedekat ini ia dapat memandang Rama dengan jelas. Dagunya yang lancip, bibirnya yang sempurna berwarna kemerahan, hingga hidungnya yang mancung. Sayangnya Shinta tidak bisa melihat mata Rama karena tertutupi tangan. Dan mungkin memang matanya sedang tertutup saat ini. Tapi bagi Shinta ini sudah lebih dari mimpinya sendiri.

Shinta mengamati tarikan nafas Rama yang begitu tenang, hanya untuk memastikan jika Rama sudah benar-benar tidur dan kecil kemungkinan akan terbangun.

Dengan memegangi dadanya, Shinta membungkukkan tubuhnya kearah Rama, hingga wajahnya berada diatas wajah Rama. Tidak terlalu dekat, namun Shinta dapat menghirup aroma segar dari tubuh Rama. Seperti wangi Radit. Namun aroma Rama ini tentu saja memiliki rekasi yang luar biasa bagi Shinta.

Untung saja Tuhan menciptakan debaran manusia tidak sekeras speaker sekolah, karena kalau tidak debaran Shinta sudah memusingkan penghuni sekolah yang masih ada.

Shinta kembali mengamati Rama. Ditangannya yang menutupi mata, ada sebuah jam tangan hitam berjenis sport, ada bekas coretan pulpen disana dan juga bekas luka kecil. Shinta tak bisa menahan senyum memikirkan penyebab goresan itu. Apakah Rama mendapatkan itu ketika ia sedang ceroboh? Atau ketika Rana masih kecil? Shinta menjadi membayangkan sosok Rama kecil dikepalanya. Anehnya, itu membuat Shinta memerah.

Secret Admirer [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang