Jika bukan karena Indah yang menarik-narik tangannya tidak sabar, Shinta mungkin masih tetap terbelalak melihat Rama yang saat ini berdiri didepan kelasnya. Beberapa anak dari kelas Shinta menyapa Rama ketika mereka akan keluar. Baik itu anak cowok atau cewek.
Ada juga yang mengajak Rama mengobrol singkat sebelum memutuskan untuk pergi. Ya. Siapa yang tidak mengenal Rama disekolah ini.
"Kalo lo tadi belum cerita ama gue, mungkin sekarang gue bakal kaget melebihi muka blo'on lo sekarang shin. Pasti dia kesini mau nemuin lo."
"Gak mungkin. "
"Lah. Tadi pagi barengan kan? Ya pasti dia ngajak pulang bareng juga. Ahhhh gue jeles.. co cwitt bingit sih kalian."
Shinta mencubit lengan Indah dari bawah meja. Membuat Indah meringis kesakitan. Indah melotot kearah Shinta yang dibalas dengan wajah ketakutan Shinta.
"Bantuin aku kabur ya."
Kelas mereka semakin sepi. Saat ini Rama sedang mengobrol dengan salah satu cewek dari anggota cheers sama seperti Indah. Dan peluang Shinta untuk kabur dari sini cuma ada di tangan Indah.
"Kenapa kabur? gak. gak mau gue. Elo udah kapan tahun ngendep-ngendep pelototin tuh anak dari jauh. Orangnya udah didepan mata lo nya mau kabur. Enggak. Makasih."
Apa sudah Shinta katakan jika mulut Indah tidak bisa dikurangi volumenya. Shinta sangat takut jika Rama didepan sana bisa mendengar obrolan mereka. Apalagi kursi mereka berada dipaling depan. Untungnya Rama masih terlihat mengobrol disana, walau tidak bisa dikatakan mengobrol karena Rama hanya diam sambil tersenyum mendengarkan cewek didepannya bicara.
"Kalo kamu gak mau bantuin aku, aku gak mau lagi kasih pinjem PR matematika."
"Kan lo. Kebiasaan banget bawa-bawa matematika disini."
"Ayodong Indah... aku gak mau ketemu dia. Aku gak mau dia liat aku."
Indah melotot dan menengadahkan tangannya keudara. Ancaman ini selalu berhasil meski harus diakhiri dengan Indah yang misuh-misuh sendiri.
Setelah merasa Rama cukup lengah, Indah dan shinta berjalan berdampingan menuju pintu kelas. Dengan tingkat kehati-hatian layaknya seorang mata-mata didalam film, Indah berusaha menutupi tubuh Shinta yang berada disebelahnya dengan jaket. Percuma memang namun untuk Rama yang terlihat sedang memperhatikan cewek itu bicara rasanya mustahil ia bisa sadar.
".... gue sih yakin kita menang. Soalnya kan ada elo Ram. Itu udah kaya ketebak aja endingnya gimana...."
Sekilas percakapan mereka terdengar ketika Indah dan Shinta berjalan melewati punggung Rama dan berbelok menuju arah belakang Sekolah. Arah ini memang membuat mereka harus berjalan lebih jauh dengan mengelilingi lapangan. Tapi yang jelas Rama tidak bisa melihat mereka. Dan Shinta akan terhindar dari cowok itu.
"Gila. Gue deg-degan masa."
Shinta menurunkan jaket yang tadi menutupi setengah kepalanya dan mengembalikannya ke Indah.
"Tapi serulah." Lanjut indah tertawa. "Gue masih gak habis pikir elo ngindarin Rama. Aneh emang lo."
"Kalo aku gak ngindarin dia, kemungkinan aku bisa liatin dia dari jauh bakalan berkurang. Lagian dia tadi jadi nyebelin banget."
"Nyebelin kek gitu juga masih aja suka. Emang gak mau liatin dari deket?"
Shinta terdiam. Ia hanya bingung bagaimana menjelaskan hal yang ia sendiri tidak mengerti dengan pasti.
"Aku gak tahan.."
"Gak tahan buat apa? Pengen meluk ya lo?.."
"Enak aja." Masa sih?
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Admirer [Completed]
Novela Juvenil(S U D A H T E R B I T) -TERSEDIA DI TOKO BUKU- Hanya Rama yang mampu membuat Shinta berdebar ketika memandangnya. Bahkan, walau dari jauh sekalipun. Disaat Shinta yang terlampau nyaman menjadi pemuja, tiba-tiba keadaan memutar balikkan kenyataan...
![Secret Admirer [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/60441646-64-k45671.jpg)