1 - Find You

201K 11.9K 680
                                        

Hari itu Shinta dipanggil oleh Ibu Rahma untuk menyampaikan pesan kepada teman-temannya tentang tugas yang akan dikumpulkan minggu depan. Ibu Rahma selalu mempercayai Shinta untuk melakukannya karena Shinta dianggap siswi yang mampu menjelaskan dengan baik dan termasuk siswi pintar. Sudah dari kelas 1 Shinta selalu menduduki peringkat kedua disekolahnya.

Karena Shinta yang masih belum bisa mengalahkan peringkat Rama.

"Shinta, sampaikan pada teman-temanmu jika tugas ini akan Ibu masukkan sebagai nilai tambah untuk ujian mendatang. Jadi jangan ada yang tidak mengerjakannya. Harus dikumpulkan tepat waktu tanpa ada yang satupun terlambat. Kamu mengerti?"

"Iya bu," Shinta mengangguk dan berlalu dari hadapan gurunya. Dengan sebuah kertas ditangan ia memasang kembali earphone yang sempat ia lepas ketika ingin menghadap Bu Rahma tadi. Suara lembut dari Sam Smith - Penyanyi favorit Shinta - mengalun di telinganya. Meredam kebisingan lorong kelas yang masih diisi oleh banyak siswa.

Ketika siswa-siswa yang tengah duduk diselasar itu berlarian, Shinta berpendapat jika bel masuk telah berbunyi. Shinta tidak terlalu bergegas karena jam pelajaran berikutnya adalah pelajaran sejarah yang sudah dipastikan Pak Budi hanya akan masuk di 30 menit terakhir jam pelajaran. Entah karena memang Pak Budi sibuk, atau itu sudah menjadi tradisi baginya.

Shinta pun berbelok diujung lorong dan seketika berhenti ketika ia menyadari jika pintu aula olahraga yang terbuka. Ia melepas sebelah earphone miliknya dan kemudian menangkap sorak-sorai ramai dari arah sana.

Tiba-tiba dadanya berdegup kencang.

Shinta ingat kalau ia sudah makan. Ia juga sudah minum vitaminnya tadi pagi. Kondisi tubuhnya cukup sehat saat ini. Degup kencang ini bukan karena tubuhnya yang bermasalah. Melainkan sesuatu yang lain. Pertanda yang sudah tidak asing lagi bagi Shinta. Dengan pasti ia melangkah memasuki aula dan mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang membuat jantungnya berdebar itu.

Shinta berdiri disamping tribun penonton, tepat didepan pintu masuk agar keberadaannya tidak kentara. Matanya sibuk berlarian kearah lapangan dan melebar sempurna ketika menemukan sosok yang dicarinya.

Seakan terkoneksi, Shinta memegangi dadanya. Seolah jika tidak ia lakukan, jantungnya akan berlarian keluar dan meloncat-loncat menirukan tarian salsa. Shinta tersenyum melihat Rama yang sedang membawa bola lalu melemparkannya dengan mudah kedalam ring. Keringat seakan sukses membanjiri seragam basket serta rambutnya. Rama berlari menghampiri teman-temannya dan bertos ria, merayakan kemenangan mereka melawan team kelas lain.

Shinta tak mampu menyembunyikan senyum. Sudut bibirnya geli saat melihat tawa Rama. Seperti ia bisa merasakan kebahagiaan hanya dengan melihat senyum cowok itu. Ia masih bersandar di dinding tribun dan memegangi dadanya, merekam setiap gerakan Rama didalam kepalanya ketika tiba-tiba, Rama yang sedang menjadi objek pengamatannya memalingkan wajah dan berhenti dimata Shinta.

Rama membalas tatapannya.

Shinta membeku. Seluruh pergerakan di dalam tubuhnya seakan ikut berhenti dengan kaku tubuhnya. Rama melihat kearah Shinta. Tepat dimana Shinta sedang berdiri. Hal yang sangat mustahil bagi Shinta bahkan saat ini ketika Rama mengangkat tangannya di udara dan melambai. Meski dengan dahi berkerut, Rama tersenyum dan melambai kearahnya. Benar-benar melambai kearah Shinta.

Shinta merasakan seperti telah mendapat serangan jantung ringan. Ia tidak bisa bernafas. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pikirannya kosong dan di matanya hanya ada sosok Rama yang melambai. Shinta bahkan mencubit lengannya sendiri karena takut jika ini hanyalah mimpi yang sering ia dapatkan.

Tapi rasa sakit akibat cubitan yang muncul selanjutnya membuat Shinta justru tersenyum. Seperti ada sebuah kekuatan didalam dirinya, Shinta mengangkat salah satu tangannya, ingin membalas lambaian tangan Rama ketika seseorang melompat turun dari tribun di atasnya. Seseorang dengan rok terlalu pendek itu berlari kearah Rama dan memberikan handuk serta botol minuman.

Rama membalas senyuman gadis itu. Meminum airnya sedangkan si gadis menyeka keringat ditubuh Rama. Rama tertawa ketika gadis itu menyeka wajah Rama dengan sedikit dorongan hingga Rama terhuyung. Membuat Gadis itu ikut tertawa seraya merangkul lengan Rama.

Shinta masih membeku dengan tangan terangkatnya. Shinta merasa jika ia melakukan hal bodoh lagi dengan berpikir jika Rama melihatnya. Rama tidak akan pernah melihatnya. Bahkan tidak sengaja sekalipun Rama tidak mungkin melihat kearahnya. Itu tidak akan berubah meskipun Shinta berada tepat didepan kaki Rama. Dengan lesu, Shinta berbalik dan keluar dari sana.

Shinta selalu senang melihat Rama, walaupun dari jauh dan dari tempat gelap sekalipun. Tapi Shinta tidak akan tahan melihat Rama ketika ia sedang bersama gadis lain. Gadis yang dengan mudah bisa berada didekat Rama, melihatnya dari dekat dan mendengar suaranya.

Karena Shinta tidak pernah bisa merasakan itu semua.

***

Bel pulang berbunyi 10 menit yang lalu sedangkan shinta masih berada di kelas untuk menyusun buku dan membawanya ke perpustakaan. Shinta bukan ketua kelas, dia hanya orang yang di percaya teman-temannya untuk melakukan ini. Lagipula ia senang melakukannya, karena Shinta senang menjadi berguna untuk orang lain.

Dengan mengaitkan tas di bahu Shinta membawa tumpukan buku itu keluar kelas dan mengembalikannya keperpustakaan.

"Kenapa membawanya sendirian, Shinta? Seharusnya kamu meminta bantuan anak laki-laki," Pak Komar mengambil tumpukan buku ditangan Shinta dan membawanya kedalam rak khusus buku pengembalian.

"Tidak apa-apa pak. Bukunya tidak terlalu berat. Cuma LKS." Pak Komar menggeleng dan menyusun buku-buku yang Shinta serahkan tadi. Melihat buku, Shinta jadi tidak ingin buru-buru pulang. Shinta menyukai membaca. Meski tidak sebanyak ia menyukai Rama, tapi Shinta sangat mampu menghabiskan beberapa buku hanya dalam satu hari. Ia memutuskan untuk mencari beberapa buku bacaan untuk dibawa pulang kerumah.

Perpustakaan terlihat begitu kosong karena sepi dari pengunjung. Shinta biasa datang kesini hanya pada jam istirahat, ketika masih banyak siswa lain yang memenuhi meja ditengah ruangan. Tapi kali ini meja itu sudah bersih dengan buku, begitu juga dengan siswa. Untung saja penerangan diperpustakaan ini terbilang bagus, sehingga Shinta tidak harus merasa takut dengan hal-hal yang tidak ingin ia pikirkan.

Shinta meletakkan tasnya di atas meja terdekat dan memasuki lorong buku-buku Novel dan serial koleksi perpustakaan ini. Ia mengambil beberapa buku dan membaca synopsis di bagian belakangnya.

Ketika shinta tengah asik memilih beberapa buku, Shinta dikejutkan oleh suara samar dari ujung rak. Suara itu seperti suara gemerisik halus yang begitu pelan. Shinta bahkan menajamkan telinganya untuk dapat mendengar suara itu lagi.

Sesaat hening. Tidak ada suara aneh yang tadi ia dengar. Benar-benar hilang bahkan membuat Shinta menganggap jika tadi ia hanya berkhayal. Shinta mencoba kembali mengalihkan perhatian kedalam synopsis buku ketika suara aneh tadi kembali terdengar. Kali ini suara gemerisik halus itu terdengar jelas. Bahkan diiringi dengan bunyi benda yang jatuh kelantai. Tidak cukup keras, namun sangat jelas.
Seketika Shinta menjadi panik karena takut.
Dikepalanya sudah bermunculan kemungkinan-kemungkinan ia mendapati hantu di perpustakaan ini. Bukannya bersikap takhayul dan semacamnya, tapi dalam kondisi seperti dirinya, satu-satunya hal yang pasti terpikirkan adalah makhluk lain.

Shinta ingin berbalik keluar menuju tempat Pak Komar tadi. Namun kakinya justru bergerak berlawanan dengan apa yang kepalanya perintahkan. Meski takut namun Shinta penasaran. Shinta mendekati sumber suara itu dengan mengendap-endap. Ia menyisir dari tepi rak untuk sampai diujung rak, tempat dimana ia mendengar suara itu.

Ketika kakinya sampai di ujung rak, Shinta lagi-lagi mematung tak bergerak. Tangannya mencengkram kuat tepi rak buku karena melihat apa yang ada didepannya.

Buku yang tadi ia pegang hampir saja lolos dan jatuh kelantai. Nafasnya seketika tertahan. Degup jantungnya memompa kencang . Satu tangannya menutup mulutnya yang terbuka lebar ketika debaran yang sangat familiar bagi Shinta menyerangnya.

Debaran yang hanya datang ketika ia melihat Rama.

***

Salam kecup ... :*

Keep reading

Fara

Secret Admirer [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang