[13] Hope and Answer

14.6K 1K 304
                                        

a.n : jangan lupa dengarkan lagu di link yang sudah di sisipkan. 

Selamat menikmati! 

_Part 13_


Junsu terus saja terisak di pelukan sang kekasih. Sungguh, tadi adalah pemandangan paling mengerikan yang pernah ia lihat. Ia tidak mau lagi melihat hal itu. Ia tidak mau lagi melihat kakaknya ada dalam keadaan yang seperti itu. Tidak. Tadi, ia hampir saja kehilangan sang kakak, dan ia hanya bisa diam saat melihat dokter-dokter itu menempelkan alat pemacu jantung di tubuh sang kakak dan memaksukan selang ia entah apa fungsinya ke dalam mulut sang kakak.

Dan sekarang, ia harus bisa menerima kenyataan jika sang kakak tidak akan bangun untuk waktu yang cukup lama, mungkin.

"Junsu,"

Junsu mengangkat kepalanya saat mendengar derap langkah menujunya. Ia hanya menatap kakaknya dengan tatapan yang sangat menyedihkan. Ia sama sekali tidak mampu berkata apapun. Ia hanya menujulurkan tangannya dan membiarkan Jaejun memeluknya.

"Ada apa, hm?" Tanya Jaejun bergetar.

Ia baru saja mendapatkan telepon dari Junsu. Dan ia tahu ada yang tidak beres sedang terjadi. Beruntung ia bisa pergi dari rumahnya. Ibunya meperketat pejagaannya sejak ia keluar dari rumah sakit siang itu.

"Jaejoong koma. Otaknya sudah tidak berfungsi lagi. Lumpuh. Peluru yang ada di kepalanya membuat saraf di otaknya terinfeksi." Sahut Yoochun mewakili Junsu.

"A—apa?" Tanya Jaejun terbata.

Yoochun tertunduk. Sedari tadi ia hanya bisa menahan tangisnya. Seharusnya ia menyelidiki Jaejoong. Seharusnya ia mencari tahu apa yang alasan Jaejoong melakukan semua ini. Tidak ada orang yang benar-benar menbenci keluarganya sendiri bukan? Ia semakin mengepalkan jemarinya dan meremas hasil pemerikasaan Jaejoong.

Tidak ada harapan. Itu kata terakhir yang ia dengar saat dokter menjelaskan kondisi Jaejoong.

Jaejun melemahkan pelukannya pada Junsu. Membiarkan otaknya berpikir maksud dari kalimat Yoochun. Kakaknya tidak akan bangun? Itukah maksud kalimat Yoochun? Pikirnya buyar.

"Jaejun~ah, temanilah kakakmu." Jaejun menoleh saat Mr. Park menepuk pundaknya.

He was blank.

"Yoochun, ajak Junsu pulang. Kalian harus istirahat. Lusa adalah hari besar untuk Yunho dan Jaejun. Dan besok kalian masih bisa mengunjungi Jaejoong."

Yoochun sebenarnya ingin menolak. Tapi ia tidak mungkin melakukannya. Menngikuti pinta ayahnya saat ini adalah pilihan yang tepat.

Mr. Park menghela nafasnya, saat melihat anak-anak muda itu sudah tidak lagi ada di hadapannya. Dengan perlahan ia melangkah keluar dari ruangan pribadi itu menuju ruang tunggu yang ada beberapa meter dari ruangan Jaejoong.

"Junhae," panggil Mr. Park saat melihat pria seumuranya yang mengenakan setelan jas tengah menatap lurus kelantai rumah sakit.

"Kau tahu tentang ini sejak awal?" tanyanta tanpa menggerakkan badannya sedikitpun.

Mr.Park mengambil posisi duduk di samping pria itu. "Hm." Jawabnya sambil mengangguk.

"Dan kau menyembunyikan semua ini?" Tanya Mr. Kim penuh tekanan.

"Dia yang memintanya." Jawab Mr. Park membuat pria tampan itu menoleh. Ia merasa tidak yakin dengan sahabat lamanya itu.

"Bahkan kau tidak mempercainya huh," kekeh Mr. Park hambar.

Keheningan menyelimuti mereka saat Mr. Kim kembali menunduk."Pernahkah kau mendengar jika ada orang tua yang tidak menginginkan bayi itu sejak awal, bayi itu tahu, dia bisa merasakannya bahkan sejak di kandungan sang ibu?"

I Want You To Know Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang