A/N: Saya hanya bisa update ini dulu. *Bow*
Saat ini fandom lagi panas. Dan it's got on my nerve. Well, Red to US is not just about color.
You'll never understand. Please, shut your mouth up if you saying red just a color. *maaf saya lagi emoshiki, excuse umpatan saya >.<*
Selamat menikmati.
___ The Reason___
Jaejoong memasang wajah tanpa ekspresi saat menatap lelaki tinggi yang dengan santai memamerkan senyumannya yang menyejukkan di depanya. Menampilkan deretan gigi yang rapi dengan mata yang menyipit.
"Kau tidak setua yang aku pikir."
Senyuman yang bertengger itu menghilang saat mendengar kalimat pertama yang terlontar dari bibir cherry merah itu.
"Shim Changmin imnida. Aku tiga tahun di bawahmu." Balasnya memperkenalkan diri.
"Aku rasa Jeon Hoon sudah menjelaskan aturan di sini. Aku tidak akan menjelaskannya dua kali."
Changmin menganggukkan kepalanya. Matanya menelisik menelusuri setiap penjuru rumah itu. indah dan memiliki nilai seni yang tinggi.
"Rumahmu sangat nyaman," komentarnya tanpa sadar.
Jaejoong hanya diam. Tidak berniat membalas pernyataan yang di ucapkan Changmin.
Jaejoong mendecak sebal dan segera berlari menuju lantai dua. Changmin yang melihat ekspresi Jaejoong pun segera berlari mengikutinya. Matanya membulat saat melihat lelaki cantik itu tengah menggendong orang yang serupa dengannnya. Ia tahu jika Jaejoong mempunyai saudara kembar, tapi ia tidak menyangka jika mereka benar-benar sangat mirip seperti ini. This is amazing, there is two beautiful boys around him.
"Lepaskan!" lirih sosok pucat yang meronta di dalam rengkuhan kakaknya itu.
Pandangan Changmin kini berlaih kearah Jaejoong yang sama sekali tidak memberikan respon apapun. Tanpa ekspresi ia merebahkan adik kembarnya di ranjang King Size itu.
"Kau ingin pergi dengan kondisi seperti ini? Jangan membuatku tertawa, Kim Jaejun. Kau hanya akan menyusahkan orang-orang yang ada di sekelilingmu."
"Aku sama sekali tidak mengharapkanmu untuk mempedulikanku. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Bukankah akan lebih baik bagimu jika aku mati?"
Jaejoong kembali terdiam. Mata tajamnya sama sekali tidak melepaskan arah padangnya kearah saudara kembarnya.
"Bujuklah dia untuk makan." kata Jaejoong dingin dan tajam.
Tanpa mengucapkan apapun lagi, Jaejoong segera pergi dengan membantinh pintu dengan keras.
Changmin mengerjapkan matanya dan menggaruk kepalanya. Bingung dengan kejadian yang baru saja ia lihat. Kemudian, ia segera mengalihkan tataoannya ke lelaki cantik lainya yang memalingkan wajahnya.
"Shim Changmin imnida."
"Pergi."
Changmin menyunggingkan senyumannya dan berjalan keluar kamar. Mendengar suara pintu tertutup, lelaki cantik itu mulai terisak pelan. Ia benar-benar merasa seperti berada di dalam sebuah penjara tanpa mengetahui apa yang telah ia lakukan. Ia ingin berontak, tapi tubuhnya sangat lemah.
Ia sangat membenci dirinya saat ini. Ia sama sekali tidak bisa melawan kakaknya dengan tubuh seperti ini. Tidak akan bisa.
Apakah selamanya ia akan terkurung di tempat ini? Tanpa bertemu lagi dengan orang tua, adik dan orang yang ia cintai? Jika seperti itu dia akan memilih mati. Itu akan lebih baik bukan?.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Want You To Know
FanfictionI just want you to know, 1.The Bitter Truth 2.The Reason 3. Hope and Answer Dan ingatlah, 'Aku mencintaimu melebihi rasa cinta yang pernah kau berikan padaku dan rasa cinta yang dia berikan padamu.' Warning: Prepare Your Self. This my no 1 ang...
