mengenalmu lebih dekat

606 52 4
                                    

Seungcheol sudah membawa gunting dan sisir ditangannya, namja perawakan berotot yang lebih tinggi dari jeonghan itu mendekat kearah kursi deprok (dingklik) yang berada dipojok pintu samping  berletter L dari ruangan sempit dirumah itu dan disusul oleh jeonghan yang mengikuti langkahnya. Seungcheol membuka mantel buntut yang sudah nampak kusuh, ia sibakan poni yang hampir menutupi sebagian matanya, tangan kekarnya ia kaitkan kelutut dan kepalanya ia tundukan saat jeonghan mulai memotong rambut belakangnya.
Helai demi helai rambut seungcheol jatuh mengenai baju dan lantai pijakan tempat duduknya, kini rambut yang tadinya kusut serta lengket karena jarangnya ia mencuci dan disisir mulailah berjatuhan menggerombol disetiap helaian rambutnya yang terpangkas, Jeonghan kini beralih kebagian rambut depan seungcheol, dan saat ia menyibakan pucuk rambut yang hendak ia potong, mereka nampak canggung tatkala manik mereka tak sengaja saling pandang. Seungcheol yang terlihat bersemu hanya bisa menundukkan penglihatanya kearah dada rata jeonghan yang masih berbalut kemeja coklat tua.
Malam yang sepi hingga suara detik jarum jam pun terdengar nyaring diruangan itu, dipadu bunyi gunting yang saling menggesek dengan sisir memangkas rambut seungcheol hingga terlihat rapi dan enak dipandang. Wajah seungcheol kini nampak menunjukan jati dirinya, manik matanya yang besar dengan bulu matanya yang lebat dan panjang serta hidung yang mancung dan bibir kiss ablenya merah merekah dan jangan abaikan bentuk alis matanya yang tebal dan lebat. Seungcheol bagaikan mutiara didalam lautan yang baru terangkat kepermukaan, ia mempunyai keistimewaan dari segala kekurangannya.

Hembusan nafas seungcheol menerpa leher jenjang jeonghan yang tengah meratakan pucuk rambutnya, nafas yang hangat dan sedikit ditahan karena efek detak jantung yang sudah tak karuan.

"Nah, sudah selesai, coba liat"

Jeonghan menunjukan tampilan baru seungcheol lewat kaca cermin ditangannya. Seungcheol tertegun pada wajahnya sendiri, wajah yang tak pernah ia rawat, meski hanya untuk membersihkannya saja.

"Karena hari ini ulang tahunmu, aku ingin memberikan sesuatu, ayo kita keluar"

"Tidak usah, ini sudah lebih dari cukup"

"Kau juga butuh pakaian ganti, biarkan aku memberikan hadiah untukmu,  bukankah kita teman?

Jeonghan dan seungcheol berjalan beriringan, dibawah langit malam tanpa bulan hanya ada beberapa anak bintang yang setia pada orbitnya.
Udara dingin yang kian membimbing mereka untuk merapatkan mantel yang mereka kenakan dan sesekali mereka mengusapkan telapaknya yang berakhir didalam saku.

"Apakah kau tidak keberatan bila aku menggenggam tanganmu"

Jeonghan menoleh kearah seungcheol sambil mengeluarkan persembunyian tangannya didalam kantong mantelnya, dengan sedikit ragu secara perlahan jeonghan mengeluarkan tangannya, dan seungcheol menyambut jemari jeonghan yang ia minta.
Seungcheol bersuka cita secara diam-diam, ia puisinya hatinya dalam kegelapan malam, menggenggam kebahagiaannya yang tak bisa ia raih, sebab hidupnya saja sudah keruh, ia pun tak ingin melibatkan penderitaan pada seseorang yang disukainya, dia hanya ingin menikmati rasa hatinya saja, menikmati detak jantung dan aliran darah yang tak beraturan mengaliri tubuhnya. Semilir angin yang membelai dedaunan diatas batang pohon yang tengah berdiri kokoh disepanjang jalan, merambat seakan membelai permukan pori-pori wajah dan rambut jeonghan, rambutnya yang terurai tertiup sepoian angin malam, menguatkan niatan seungcheol untuk membelai surai hitam sebahu itu. Seungcheol tersenyum melirik kearah jelmaan bidadari tanpa lingkaran cahaya diatas kepalanya, senyuman yang belum pernah ia sunggingkan semenjak ibunya meninggalkannya dulu.

"Apakah ini rasanya punya teman? Berasa terisi dan tidak sunyi lagi"

"Bahkan teman akan selalu menguatkan kita untuk bisa menjalani hidup ini agar lebih berarti"

TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang