4th

2.2K 222 7
                                    

Sudah tiga hari terakhir ini Jongin selalu datang kesini dan selalu ada kata-kata manis yang ia lontarkan pada Seulgi. Setiap kali kata-kata itu dilontarkan muka Seulgi memerah, dan hal itu Wendy gunakan sebagai bahan untuk menggangu Seulgi.

"Kau harus lihat wajahmu." Tawanya, Seulgi sudah lelah mendengar kalimat itu. Setiap malam, selama 3 hari terakhir ini.

"Bisakah kau diam?" Balas Seulgi sambil memegang kedua pipinya yang memerah seperti tomat.

"Baiklah, tapi kau memang lucu jika seperti ini." Wendy kembali tertawa.

Oh tuhan, kalau saja ia bisa bersembunyi dari pria itu, pasti pipinya tak akan menjadi seperti ini.

"Ya!"

"Memang Noona terlihat sangat lucu jika memerah seperti itu." Ujar Mingyu yang muncul entah dari mana.

"Kau juga, Mingyu, tak bisa kah kau tidak mengikuti noonamu yang satu ini." Balas Seulgi sambil menunjuk Wendy yang masih saja tertawa.

"Oh noona, kalau saja aku tak memiliki pacar, aku pasti akan mengencanimu." Goda Mingyu yang malah mendapatkan sebuah pukulan melayang kebelakang kepalanya.

"Walaupun kau membayarku, aku tak akan mau berpacaran dengan lelaki yang lebih muda daripada diriku." Sahut Seulgi ketus.

"Ok, ok, noona aku minta maaf, tapi perlu aku beritahu noona akan menyesal mengatakan itu." Canda Mingyu.

"Lagipula Seulgi, sepertinya setelah ku perhatikan kau nampaknya suka pada Jongin." Sambar Wendy sebelum Seulgi dapat bicara.

"Kau tidak serius kan?" Seulgi memasang wajah pasti-kau-bercanda.

"Itu terlihat jelas di wajahmu, noona." Kata Mingyu.

"Memangnya ada apa dengan wajahku?" Kali ini Seulgi mengutuk dirinya sendiri. Wendy dan Mingyu pasti membicarakan wajahnya sekarang ini yang merah seperti tomat.

Belum sempat Mingyu dan Wendy menjawab, bel pintu cafe berbunyi. Semua mata menuju ke arah pintu, Wendy dan Mingyu tersenyum lebar saat melihat siapa yang datang. "Selamat datang." Sapa mereka bersama.

Jongin masuk dengan beberapa temannya. Dua diantaranya begitu tinggi dan beberapa sepantaran dengan Jongin.

"Jadi, Kai, kau datang juga ke tempat rekomendasiku." Ucap seorang pria yang sepantaran dengan Jongin.

Seulgi tampak mengenal pria yang berbicara itu.

Kai? Siapa Kai? Batin Seulgi.

"Tentu saja Suho hyung, bahkan kue ulang tahun Chanyeol hyung pun aku beli dari sini." Balas Jongin.

Oke, jadi dia Kai.

"Pantas saja, aku mengenali rasa kue itu." Suho berjalan kearah counter dan menyapa Wendy juga Mingyu, tak lupa dengan Seulgi yang masih terdiam.

"Seulgi." Panggil Suho sambil melambaikan tangannya di depan wajah Seulgi. Wendy dan Mingyu terkekeh.

"Oh, oppa. Sudah lama kau tak kesini." Seulgi langsung memberi senyumnya.

"Ya, pekerjaanku sangat banyak akhir-akhir ini." Suho berpura-pura memijat pelipisnya.

"Yang benar saja, hyung punya waktu luang beberapa hari terakhir." Pria berambut blonde dan cukup tinggi menghampiri counter.

"Kau merusak suasana Sehun." Jawab Suho.

Seulgi tertawa mendengar hal itu, Jongin tersenyum saat melihat Seulgi tertawa. Ia memang benar-benar manis dan ia tak rela kalau harus kehilangan kesempatannya pada Suho.

"Hey." Sapa Jongin.

Seulgi langsung melihat kearah Jongin. "Kau ada waktu sepulang kerja?" Tanya Jongin.

"Hari ini shiftku sampai malam, mungkin besok pagi?"

"Baiklah," ia tiba-tiba saja menyodorkan telpon genggamnya pada Seulgi. "Masukan nomormu ke ponselku." Lanjut Jongin.

Seulgi masih mencoba mencerna apa yang baru saja di katakan Jongin, belum sepenuhnya mencerna kata-kata Jongin, kalimat yang tak ia bayangkan keluar dari mulut Jongin.

"Aku ingin mengajakmu Kencan."

One Of These Nights | SEULKAITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang