Bagian 8 - I'm Sorry

52 0 1
                                    

'Persahabatan tiga orang itu memang enggak akan mudah'. Tentang sebuah kata, yang hingga kini menempel didasar neuronku. Aku, aku dan aku yang menyebabkan semua ini terjadi. Dan aku pula yang harus sesegera mungkin mengakhiri kisah ini.

*

Langkahku terhenti melihat bangku Fitri yang kosong. Mataku menerka sosoknya diujung meja, paling belakang, sendirian. Setelah meletakkan tas di kursi, aku langsung menghampirinya. Tanganku menjadi dingin seketika karena melihat ekspresinya yang dingin pula. Aku berdiri,dihadapannya, dibelakang laptopnya.

" Fit, kamu masih marah? Trus kenapa kamu duduk di belakang? ",tanyaku.

Ia tidak menjawab. Sorot matanya masih menjurus pada layar.

" Fitri . . . jawab dong, "

Beberapa menit kemudian, aku mendengarnya menghela nafas. Ia mulai mengalihkan pandangan.

" Aku enggak marah. Aku cuma kecewa sama kamu. Aku duduk disini cuma mau nenangin diri, kamu cuma perlu kasih aku waktu untuk bisa lebih mahamin kamu ", jawabnya.

Hatiku menangis mendengar perkataannya. Bisa-bisanya aku menyakiti perasaan sahabatku hanya karena hal bodoh. Aku benar-benar menyesal saat itu.

"Baiklah. Maafin aku ya. Aku emang banyak banget salah sama kamu,aku sering banget buat kamu kecewa ", aku berlalu.

Ryan datang dengan gaya seperti biasanya. Kedua tangannya bersemayam didalam saku celana dilengkapi dengan baju seragam yang dikeluarkan,tas gandong berwarna cokelat, rambut yang berantakan dan earphone yang sengaja disangkutkan dilehernya.

" Nand, kenapa lo? Diem-dieman sama Fitri? ", sahutnya.

" Dia ngambek, "

" Uh, dasar cewek "

" Diem ah lo. Udah, duduk sana!"

*

Aku berjalan dan berhenti dipojokan meja, tepat disamping mejaku.Aku menoleh kearah Fitri yang tengah mengoperasikan laptopnya seraya bertanya, "Fit, aku mau tanya sama kamu."

Beberapa detik berlalu. Aku masih berdiri dan menanti sebuah jawaban yang terlontar dari mulutnya. Namun nihil, aku tak menerimanya.

" Kamu kenapa sih?, "

" Enggak kenapa-kenapa,"

" Lalu, kenapa dari kemarin diam aja? Aku kan jadi engga enak,"

Ia bergegas, mengambil laptop dan membawanya menuju meja dibarisan paling belakang di dalam kelas. Lagi. Aku hanya menatapnya sambil ternganga, "Aku disini, nanya baik-baik, tapi terus dicuekin gitu?Astagaaa, ada apa dengan sahabatku yang satu ini???," batinku kebingungan.

Sehari penuh aku belajar dengan fikiran yang berkecamuk.Konsentrasiku terbagi antara pelajaran dengan Fitri yang saat ini tengah marah hebat kepadaku. Aku masih mencoba untuk mencari tahu,dan melakukan hal apapun agar dapat membuatnya berhenti marah.

Malam sebelum tidur, aku membaringkan tubuhku diatas kasur sambil memegang handphone dan membuka beberapa media sosial. Dan, betapa terkejutnya aku ketika membaca sebuah status yang isinya begitu menusuk, menyakitkan hati dan membuat banyak prasangka buruk bagi siapapun yang membacanya.

Ia menuliskan kata-kata tentang persahabatan yang tak ada gunanya. Aku, ya, aku yang bertitel sebagai pemeran utama bertanggung jawab penuh atas segala kekacauan ini.

"Pengkhianat!"

Suara degup jantungku kian mengencang. Aku benar-benar tak tahu apa yang baru saja aku baca. Benarkah ini semua tentang aku? Label Pengkhianat Persahabatankah yang memang saat ini tengah aku jabat?

Ry(N)anda [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang