[7] Interrogation

18.5K 1.3K 27
                                        

"Ciee yang habis lamaran!"

Bukannya tersenyum, Shasa justru cemberut. Adik bungsunya itu terus saja menggodanya sejak sesi acara kecil-kecilan itu berakhir. Adiran memang tidak membual. Setelah mengantar Shasa pulang untuk bersiap-siap, pukul 1 siang tadi Adiran datang kembali bersama orangtuanya. Bahkan orangtua Shasa terlihat tidak terkejut lagi dengan niat kedatangan mereka dan melancarkan acara lamaran itu dengan baik.

Ya, Adiran berhasil melamar Shasa tadi. Tidak hanya orangtua mereka, Shesa menjadi saksi terakhir begitu pulang dari sekolah. Bergabung di saat itu juga yang semakin memeriahkan acara kecil-kecilan tersebut.

"Shesa bilang juga apa, Kak. Undangan kemarin itu udah jadi pertanda kalau Kakak bakalan dilamar sama si Kakak Ganteng dalam waktu dekat! Ah, sayang banget Shesa nggak ikut dari awal. 'Kan mau lihat gimana Kakak Ganteng itu ngelamar Kakak. Hihi!"

"Berlebihan deh, kamu." Shasa sudah risih dengan godaan adik bungsunya. Lihat bagaimana si adik terkekeh penuh kesenangan seraya mendudukkan diri di sebelahnya.

"Gimana rasanya dilamar sama Kakak Adiran? Deg-degan nggak? Apalagi tadi Kak Adiran kelihatan ganteeeeeng banget pakai jas hitam gitu. Coba kalau Shesa yang di posisi Kakak, pasti udah Shesa langsung ajak Kak Adiran kawin lari, deh!"

"Kamu itu, ya, imajinasinya ngelantur banget!"

"Nggak apa-apa, dong! Namanya juga ngayal. Uhh, gimana yaa, rasanya kalau jadi pasangan Kak Adiran nanti?"

Shasa memicing, mulai tidak suka pada arah pembicaraan adiknya."Kamu naksir sama Adiran, ya?"

"Kalau iya, kenapa? Cemburu, ya? Ciee cemburu nih yee!"

Shasa langsung salah tingkah ditembak seperti itu oleh Shesa. Wajahnya mendadak memerah dan ia segera membuat jarak dari adiknya. Tapi sang adik justru kembali merapat dan memeluk sebelah lengannya dengan gemas.

"Shesa cuma bercanda kok. Tapi 'kan nggak menutup kemungkinan kalau Kak Adiran itu ganteng, siapa yang nggak naksir sama dia?" Shesa menunjukkan cengirannya melihat reaksi sang kakak. "Tapi Shesa justru senang kalau Kak Adiran sama Kakak. Kalian itu serasi, loh! Lagian, masa Shesa nolak cowok seganteng Kak Adiran buat jadi kakak ipar Shesa?"

Shasa agak terpengaruh dengan ucapan Shesa. Apa benar yang dikatakan adiknya? Atau Shesa sebenarnya hanya menggoda dirinya?

"Cuma, kayaknya habis ini Kakak harus diinterogasi Kak Nesya sama Kak Elvan dulu deh. Sekalian minta izin kalau Kakak mau nikah duluan. Hihihi!"

Benar juga. Shasa lupa akan fakta bahwa dia harus melangkahi kakaknya. Bukan hanya Nesya, tetapi Elvan juga akan dia dahului. Itu berarti, dia memang harus minta restu mereka berdua yang sepertinya belum mengetahu akan kabar ini, bukan?

"Kak Shasa!!!"

Mereka terlonjak kaget. Pintu kamar mereka menjeblak terbuka dan langsung menampakkan sosok lelaki yang baru saja berteriak nyaring.

"Evaaaaaann!! Bisa nggak sih, nggak asal masuk kemari? Ini kamar cewek!!" Shesa berseru sewot. Sudah menjadi kebiasaannya meneriaki saudara-hanya-berjarak-satu-tahun-di-atasnya itu dengan informal.

Tidak memedulikan teguran Shesa, Evan justru menerobos masuk menghampiri mereka, lebih tepatnya menghampiri Shasa. Dia masih mengenakan seragam sekolahnya karena belum lama ini sampai rumah.

"Kamu itu, ganti baju dulu, sana! Evan bau, tau!" celetuk Shasa sambil mengibas tangannya di depan wajah.

"Kakak habis dilamar Kak Adiran?" tapi Evan sepertinya tidak peduli.

Shasa harus mengernyit terlebih dulu. Tumben sekali adiknya yang tergolong cuek dengan urusan semacam ini berubah heboh di depannya. Shasa mengangguk dan hendak bersuara ketika Shesa sudah lebih dulu.

(un)Expected 21stTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang