ten-give me your heart

30 1 0
                                        

4 hari ini sebelum natal benar benar dimulai, anastasia thompson bahkan sudah sangat dekat dengan jan redick, bahkan pria itu selalu datang belakangan ini hanya sekedar menikmati secangkir kopi buatan anastasia.

Pesan singkat membuat ponsel anastasia bergetar halus, pesan dari pria itu, tetangganya yang ternyata menyebalkan, tapi terkadang  baik dan membuat anastasia merasa nyaman.

"aishh" geram anastasia ketika membuka isi pesannya.tetangga barunya meminta diantarkan satu termos kopi hitam.

Dengan bersungut sungut anastasia menyeduh 1 termos penuh kopi hitam dan membawanya ke flat didepannya dengan mantel biru yang menyelimuti pakaian tidur didalamnya.

Tak lama menunggu pria itu sudah membukakan pintunya dengan senyuman lebar, mata jan melirik termos biru muda yang dilihat anastasia lalu tersenyum senang.

"kopiku!" pekiknya girang sambil merebut termos itu dari pelukan anastasia

jan redick berlari riang kearah dapurnya untuk menuang kopi panas yang mengepulkan asap itu ke gelas putih bening.

Anastasia hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah pria yang lebih cocok disebut bocah 5 tahun itu berlari kesenangan, ia melepas mantelnya dan menggantungnya di balik pintu kayu,lalu masuk dan duduk disebelah meja bar tempat jan redick sekarang yang sedang menikmati kopi hitamnya.

"ana, ini benar benar nikmat!"

Nikmat,nikmat,nikmat sudah berapa kali jan redick menyebutkan kalimat itu apa mungkin sudah ratusan

Anastasia mengangkat badannya dari kursi bar kecil yang sama sekali tak empuk itu lalu berjalan kearah sofa dan menghempaskan tubuhnya disana, matanya mengeksplorasi setiap detail ruangan, ruangan penuh warna serta lukisan yang membuat siapa saja yang melihat terkagum kagum.

Satu lukisan yang membuat anastasia selalu terfokus.

Lukisan seorang gadis.

Wajahnya tertutupi helaian rambut hitam yang terjuntai kebawah dengan warna hitam putih dan bercak bercak warna warni disekelilingnya.

"jan" panggil anastasia dan membuatnya menoleh "itu kau yang lukis?" tanya anastasia sambil menunjuk lukisan tepat ditengah ruangan,  ukurannya juga lebih besar dibanding semua gambar lainnya sehingga terlihat paling mencolok.

jan mengangguk, membuat anastasia semakin berdecak kagum.

" baru kubuat beberapa hari yang lalu" katanya ikut melihat lukisannya dengan mata yang sedikit sayu, bibirnya menyinggungkan senyuman kecil.

Anastasia hanya bisa mengangguk pelan menimpali sambil memperhatikan lukisan itu detail, terlihat ada yang menjanggal dipikirannya melihat lukisan itu.

hitam-putih diselubungi dengan warna warni, terlihat dingin,kaku, tetapi tetap hidup.

lukisan itu terlihat seperti mengambarkan dirinya dengan rambut hitam sebahu. tapi mungkin itu hanya perasaannya saja yang terlalu berlebihan, tidak mungkin itu terjadi bahkan anastasia hanya sekedar tetangga barunya, baru bertemu beberapa minggu, mustahil itu bisa terjadi.

mereka saling terdiam cukup lama, saling menatap satu sama lain, tatapan mereka terkunci, apa yang dipikirkan jan redick, apa yang dipikirkan anastasia seolah olah tak ada yang bisa memahami, atmosfer ruangan yang semula hangat kini terasa panas bagi mereka

entah apa yang merasuki jan, ia bergegas bangkit dari tempatnya dan mendekat kearah anastasia yang duduk disofa memperkeci jarak diantara mereka, jan merapatkan tubuhnya disebelah anastasia dan langsung menangkup wajah mungil kecil yang sudah merona merah sekarang.

NYCTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang