Tika menyetujui ajakan Exsa untuk ikut ke club malam tempat dimana Exsa bekerja sebagai bartender. Di club malam itu juga Dessy bekerja sebagai penari profesional.
Dahulu club malam itu adalah tempat favorit Velin dan Dessy menghabiskan waktu malamnya. Di club itu juga persahabatan antara Velin, Dessy dan Exsa terjalin.
Tika duduk di atas bangku bar memperhatikan Dessy yang hanya mengenakan bra dan celana dalam sedang asyik menari diatas panggung dengan 3 orang penari lainnya. Teriakan-teriakan penonton selalu terdengar tatkala goyangan penari-penari itu sebagian liar.
"Tika, elo harus janji sama gue kalo elo ngga akan pernah jadi penari begituan." sahut Exsa saat melihat Tika sedang asyik menonton penari-penari profesional club malam.
"Gue udah kebanyakan janji Sa. Gue udah janji ke Velin ngga akan nangis. Sekarang gue janji ke elo buat ngga jadi penari begituan." ujar Tika tanpa mengalihkan matanya yang masih saja menonton setiap goyangan penari-penari itu.
"Itu tandanya kita peduli sama elo Tik."
"Thanks. Elo semua udah peduli sama gue."
Exsa tersenyum pada Tika lalu segera melanjutkan pekerjaannya.
Dessy baru saja selesai menari. Badannya dibasahi oleh keringat. Ia nampak sangat capek karena hanpir setengah jam ia menari diatas panggung.
"Dess nih diminum." ujar Tika sambil menyodorkan segelas air putih untuk Dessy.
"Dih apaan si begituan." sahut Dessy sambil meminum segelas wine.
"Tapi itu ini lebih sehat Dess."
"Bawel deh elo. Gue ganti baju dulu ya Tik. Abis itu kita balik." ujar Dessy sambil berlalu menuju ruang ganti.
Dessy sadar jika ada seorang laki-laki berambut gondrong sedang mengawasi dirinya sejak tadi ia asyik menari.
Dessy benar-benar takut pada laki-laki itu. Tatapannya begitu tajam. Dessy tahu seharusnya ia tidak boleh takut, dirinya adalah seorang penari profesional wajar saja jika ada laki-laki yang menatapnya dengan tatapan tajam yang bermaksud untuk menggoda dirinya..
Namun kali ini berbeda. Firasat Dessy mengatakan bahwa laki-laki itu berbahaya.
Setelah selesai ganti baju Dessy segera menemui Tika untuk mengajaknya pulang ke rumah kosnya.
Dilihatnya pintu club malam ini, betapa terkejutnya Dessy melihat laki-laki itu masih saja berdiri disana sambil terus mengawasi Dessy.
"Tik yuk balik." ajak Dessy pada Tika.
"Lo balik sama Tika?" tanya Exsa membuat Dessy segera menganggukkan kepalanya.
"Yaudah. Hati-hati di jalan ya." ujar Exsa.
"Elo juga ya nanti baliknya hati-hati." ujar Tika.
Dessy dan Tika pun segera bergegas meninggalkan club malam itu.
Tiba-tiba saja pria itu mencengkeram lengan Dessy. Dessy benar-benar terkejut melihat perbuatan laki-laki itu.
"Mba? Boleh minta nomer hpnya." sahut laki-laki itu.
"Ahhhh apaan si! Jangan gila! Lepasin ngga!" ujar Dessy sambil berusaha melepaskan cengkeraman laki-laki itu.
Dessy berhasil melepaskan cengkeraman itu dan segera berlari menuju halte taksi di dekat club malam itu. Tika segera mengikuti Dessy.
"Dess? Lo ngga papa?" tanya Tika saat baru saja tiba di halte taksi.
"Gue ngga papa kok." jawab Dessy singkat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Virginia
RandomTika gadis berumur 16 tahun yang mengalami masalah dengan keluarganya hingga ia tidak berani untuk kembali ke rumahnya tak sengaja bertemu dengan Velin gadis yang terkenal sebagai mucikari siswi Smu di sekolah Tika. Velin yang merasa iba melihat Ti...