Chapter 4 » Curhat Colongan

37.5K 2.3K 104
                                        

Dari jam pelajaran pertama sampai jam kedua Gibran menelungkupkan kepalanya di atas meja. Fauzi memperhatikan sahabatnya itu dengan saksama, dan merasa ada yang aneh. Biasanya jika tidak bolos Gibran akan mengerjai guru habis-habisan. Seperti menempelkan permen karet di kursi guru tersebut, atau yang paling sering yaitu berbuat gaduh di dalam kelas, tapi lihat sekarang anak itu tidur? Tidur di kelas bukan kebiasaan Gibran. "Gibran," Fauzi berucap pelan memanggil sahabatnya. "Gibran, woy!" sekali lagi ia memanggil, dan sekarang disertakannya sebuah sikutan. Panas.

Karena penasaran Fauzi mengangkat tangannya lantas meletakan punggung tangannya pada kening Gibran. "Gibran lo panas banget!" Fauzi sedikit berteriak hingga membuat bangkunya juga Gibran menjadi pusat perhatian, bahkan sampai membuat Gibran terbangun.

"Apaan, sih, Ji?" Gibran bertanya dengan mata yang masih terpejam.

"Lo sakit, ya? Kok panas banget?"

Bu Vania-guru yang kebetulan tengah mengajar di kelas itu berjalan menghampiri keduanya. "Kenapa Fauzi?"

"Gibran panas, Bu."

Dengan sangat terpaksa Gibran mengangkat kepala, ketika Bu Vania menghampiri mejanya, "Kayaknya saya sakit deh, Bu," lapor Gibran.

"Masa, sih?" karena tidak percaya Bu Vania pun menyentuh dahi Gibran, "benar, sepertinya kamu demam Gibran. Lebih baik sekarang kamu istirahat di ruang kesehatan," imbuhnya. Bu Vania pun tak ingin kena teguran karena membiarkan cucu kepala sekolah yang sedang sakit tetap berada di kelasnya.

Gibran mengangguk, lantas berjalan hendak menuju ke ruang kesehatan. Para gadis yang berada di kelasnya langsung berbisik-bisik membicarakan dirinya. Terakhir kali ia sakit sampai mengharuskan Gibran dirawat itu sewaktu kelas sepuluh, siswi-siswi SMA Emerald berbondong-bondong menjenguknya, membuat kegaduhan di rumah sakit sampai keluarga Gibran ditegur. Belum lagi bawaan mereka seperti boneka, makanan, buah-buahan dan lain-lain yang hanya membuat penuh ruangannya. Sekarang Gibran tidak ingin kejadian itu sampai terulang lagi.

Pintu baru saja dibuka, namun pandangannya berubah kabur. Gibran diam sejenak, kemudian memejamkan mata, berharap dengan begitu pandangannya kembali normal.

"Gibran, lo mau ke... "

Brukkk

Belum sempat Aura menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja lelaki itu tumbang dengan kepala membentur pintu. Aura yang baru saja kembali dari ruang guru untuk mengambil absensi siswa langsung terkejut, karena Gibran pingsan tepat di depannya. Aura berjongkok, "Eh Gibran lo kenapa? Jangan bercanda deh."

"Fauzi, Ardi, tolong kamu angkat Gibran ke ruang kesehatan sekarang! Aura tolong kamu jaga Gibran di sana sampai dia sadar."

"Tapi, Bu... "

"Tidak ada tapi-tapian."

Aura mengangguk pasrah, namun didalam hati ia menggerutu, "Nyusahin mulu sih lo."

***

Setelah dikabari oleh pihak sekolah bahwa putra tunggalnya pingsan, Inka Nauradilla Ibunda Gibran bergegas ke sekolah untuk melihat keadaan Gibran. Jalanan yang macet kontan membuat kekesalannya memuncak, "Macet banget, sih!" dengus perempuan itu sembari mengambil ponselnya lantas menelepon seseorang.

"Hallo, Pa."

"Hallo, ada apa? Ini masih jam sekolah."

"Papa, tolong lihat Gibran. Gibran tadi pingsan."

"Papa sudah tahu. Jangan terlalu dimanjakan. Dia begitu karena kenakalannya sendiri, bukan?"

"Papa kalau Gibran kenapa-kenapa gimana?"

BROKENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang