Chapter 8 » Si Anak manja

26.3K 1.7K 111
                                        

Mobil Audi keluaran terbaru milik Devanio Emeraldi Utama melesat membelah keramaian Kota Jakarta. Di dalam, putranya tengah tertidur pulas. Gibran terlihat sangat lemas, bahkan menolak untuk dibawa ke rumah sakit pun sepertinya ia tidak sanggup. Ya, Gibran terpaksa harus pulang lebih awal dari sekolah, dan langsung dilarikan ke rumah sakit karena diduga mengalami dehidrasi berat. Devan sampai harus membatalkan beberapa meeting karena Gibran hanya mau dibawa ke rumah sakit kalau ia yang mengantarnya.

Devan memandang Gibran dari spion tengah mobilnya, anak itu terlelap dengan sangat damai. Devan begitu menyayangi Gibran, dan ia turut merasa bersalah atas sakitnya Gibran sekarang. Mungkin jika ia tidak mengguyur Gibran di kamar mandi kala itu, Gibran tidak akan sampai pada kondisi separah ini. Seandainya ia mau meluangkan sedikit waktunya untuk memperhatikan Gibran, tentu tidak seperti ini akhirnya.

Dalam perjalanan yang lebih banyak diam. Mobil mewah yang dikemudikanya pun pun tiba di parkiran sebuah rumah sakit ternama di Jakarta, "Bangunkan Gibran," suruh Devan pada Inka seraya melepas seatbeltnya.

"Gibran bangun, udah sampai," Inka menepuk pelan pipi Gibran yang terasa panas.

"Nghh... " Gibran mengerjapkan mata sayunya dan langsung meringis pelan memegangi perutnya.

"Periksa dulu, ya," kata Inka lembut.

Dengan bantu Devan, Gibran turun dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam rumah sakit.

***

Gibran mengalami dehidrasi berat yangmengharuskannya tetap tinggal di rumah sakit, setidaknya sampai kondisinyamembaik. Kini anak laki-laki itu tengah berbaring di

sebuah ruangan yang cukup baik dan nyaman di kelasnya. Cairan bening sudah menggenang di pelupuk mata Gibran. Bagaimana tidak, Gibran benar-benar phobia dengan jarum, dan alat medis rumah sakit. Namun kini dirinya harus terbaring dengan infus melekat ditangannya. Bahkan saat infus itu dipasang, Gibran langsung tidak sadarkan diri, membuat dokter yang menanganinya justru terkekeh geli.

"Gibran?"

"Gibran mohon, Gibran mau pulang, Bunda." Gibran menatap sang bunda dengan tatapan memohon, membuat Inka menjadi sangat tidak tega.

"Maafin Bunda, ya, Gibran."

Gibran diam, lalu memejamkan matanya sampai bulir-bulir bening itu mengalir di pipinya. Bukan keadaan seperti ini yang Gibran inginkan. Bukan suasana ini yang Gibran harapkan. Sungguh bukan itu.

"Anak laki-laki gak boleh cengeng!" tegur Devan.

Gibran tetap diam.

Saat dilihat, ternyata anak itu sudah terlelap dalam tidurnya. Setelah melihat Gibran tertidur, Inka kembali bersuara, "Mas jangan galak-galak sama Gibran. Kasihan," ujar Inka.

"Kalau kamu terus manjain Gibran, dia nggak akan mau dengar aku lagi," seloroh Devan

Inka diam, membenarkan ucapan suaminya itu. Selama ini ia memanjakan Gibran karena Gibran memang putra satu-satunya. Inka sangat menyayangi Gibran.

Sebuah nada pertanda ada pesan masuk dari ponsel yang ternyata tersimpan di saku celana abu-abu Gibran membuat Inka terkejut. Dengan hati-hati karena tidak ingin putranya bangun, ia mengambil ponsel tersebut dan membuka pesan yang masuk.

From : Aura
Gibran?

____________________

Meski hanya pesan bertuliskan panggilan, Inka paham bahwa gadis itu tengah mengkhawatirkan putranya. Buru-buru ia mengetik sebuah balasan.

To : Aura
Gibrannya baru aja tidur. Nanti Tante kabarin lagi kalau Gibran sudah bangun, ya.

____________________

BROKENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang