Gibran duduk di kursi taman sekolahnya seorang diri, memandang lurus air mancur yang bergemercik tepat dua meter di depannya. Ia datang terlalu pagi karena menghindari larangan bundanya untuk bersekolah. Alasan mengapa laki-laki itu memilih diam seorang diri di taman belakang sekolah, karena Gibran enggan masuk ke dalam kelas kemudian berjumpa dengan para fans genit di kelasnya.
"Gibran."
Merasa ada yang memanggil namanya, Gibran menoleh dan mendapati sang Kakek berdiri tidak jauh dari dimana ia duduk. "Eh, Opa," Gibran tersenyum kikuk.
"Semalam Opa dapat kabar Gibran sakit. Kok sekarang masuk sekolah?" Darell bertanya sambil memposisikan dirinya untuk duduk tepat di samping cucu tunggalnya itu.
"Bukannya Opa sendiri yang selalu bilang kalau cowok sejati itu harus kuat," jawab Gibran dengan mata sayunya yang menatap mata elang sang Kakek.
Darell menghela napas parau. Tatapan mata sayu cucunya benar-benar membuatnya merasa tidak tega.
"Opa kenapa lihatin Gibran kayak gitu? Kan Gibran takut," kata Gibran dengan bibir mengerucut.
Darell terkekeh, "Sudah sarapan?" tanyanya kemudian. Melihat Gibran menggeleng, akhirnya Darell bertanya lebih lanjut, "Kenapa?"
"Mual Opa, perut Gibran juga sakit," tuturnya.
"Gibran muntah-muntah, ya, semalam?" tebak Darell
Gibran hanya diam.
"Selain kuat, laki-laki tangguh juga harus bisa jaga diri. Bisa membedakan mana yang baik, mana yang tidak," ujar Darell sambil mengelus punggung Gibran, "dan satu lagi... "
"Apa, Opa?"
"Lelaki sejati tidak boleh manja."
"Opaaaaaa, Gibran gak manja! Bunda 'kan yang manjain Gibran?"
Darell tertawa. Selalu seperti itu. Gibran tidak ingin dibilang manja, namun bocah itu selalu meminta pembelaan saat dirinya berada disituasi yang seharusnya dapat diselesaikan seorang diri. Bukan malah merengek pada bundanya bak anak kecil yang menginginkan sebuah balon.
"Kan Opa cuma bilang. Gibran merasa?"
"Gak kok."
"Sudah sana masuk kelas. Banyak pekerjaan yang harus Opa selesaikan," Darell bangkit, mengacak rambut pirang Gibran, lalu beranjak pergi.
Setelah kepergian Darell, Gibran pun bergegas menuju kelas, sangat tidak terasa bel masuk telah berbunyi. Padahal baru sebentsr saja ia berbincang dengan sang opa.
***
Dania memperhatikan kata demi kata yang Aura lontarkan. Ia sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Tiffany tadi pagi. "Sumpah dia kayak gitu?" tanyanya tak percaya.
"Iya. Nih lihat, leher gue sampai merah gara-gara tangan dia." Aura memperlihatkan lehernya yang memerah akibar cengkraman gadis itu.
"Gila-gila. Kalau nggak ada Gibran, dia pasti lebih nekat lagi. Lo bisa tewas."
"Ngeri banget."
Aura melihat Gibran masuk dengan santai ke dalam kelas, kemudian duduk di bangkunya. Laki-laki itu masih mengenakan jaket, padahal di dalam kelas, siswa sama sekali tidak diperbolehkan memakai jaket. Ah... tunggu, mengapa Aura jadi memperhatikan anak itu?
"Eh, Ra. Si Gibran masih pakai jaket aja, hari ini pelajaran Pak Gerry loh. Lo tahu kan betapa disiplinnya Pak Gerry? Bisa-bisa Gibran diamuk nanti," Dania mengingatkan.
"Kok lo ngomong sama gue? Ngomong langsung sama Gibran dong," Aura tak terima.
"Seenggaknya lo kan dekat."
KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN
Novela JuvenilDua hal yang paling dekat dengan manusia yakni mati juga patah hati. Seperti apa yang dialami seorang gadis belia berusia tujuh belas tahun, Belva Aura Naila Shafa. Raka Christian kekasihnya dalam sekejap berhasil melunturkan senyum tulus yang selal...
