Kepergian Kakak (1)

467 152 39
                                    


Sudah tiga hari lamanya aku mendekap di Rumah. Masih dengan meratapi kematian Papa.Tidak ada yang ku lakukan selain main smartphoneku dan membantu menyusun barang-barang dari rumah lama. Rumah yang kini ku tempati adalah rumah kontrakan sahabat Mama, Tante Emily. Beliau punya banyak kontrakan di sini. Untung saja Mama punya sahabat sepertinya jika tidak kami mungkin sedang numpang di rumah orang. Mama memutuskan agar kami meninggalkan rumah dulu, karena kahwatir jika rentenir itu akan datang kembali.

Semenjak malam di TK Aku belum pernah menginjakkan kaki keluar rumah. Aku penasaran apa yang terjadi dengan rumahku yang dulu.

Aku belum masuk sekolah sejak kejadian itu. Mama bilang aku bisa beristirahat lebih lama karena wali kelasku juga mengerti dengan kondisi yang kuhadapi. Mama bilang orang lain taunya Papa meninggal karena serangan jantung. Agar nama baik Papa tetap terjaga. Namun pertanyaanku bagaimana menutupi pintu ruang tamu yang ambruk karena kejadian itu? Bukankah para tetangga akan curiga. Aku jadi penasaran dan ingin melihatnya.

Saat keluar kamar aku melihat  Mama sedang tidur di kursi meja makan. Sepertinya ia sangat kelelahan karena harus mengurus rumah ini sendirian.  Kondisiku yang belum pulih benar membuat Mama melarangku untuk kerja yang berat- berat. Aku pun pergi ke kamar Mama dan melihat Dea sedang tidur pulas. Mereka semua sedang tidur siang aku tidak ingin mengganggunya. Aku pun keluar lewat pintu depan dengan pelan-pelan berusaha tidak membuat suara.

Saat keluar lewat pintu depan aku tersadar bahwa rumah ini punya taman kecil yang indah baru empat hari kami tinggal di sini tapi Mama sudah menanam berbagai bunga dan sayuran, Mama memang hobi bercocok tanam mungkin ia lakukan untuk menghilangkan strees karena kepergian Papa yang begitu mendadak. Rumah ini juga punya pagar besi kecil berwarna hijau. Letak rumah ini di pinggir jalan.

Saat berjalan melewati pinggiran jalan raya aku tersadar bahwa rumah ini terletak di jalan Anggur sekitar lima belas menit dari rumahku yang lama.

Sepanjan perjalanan aku memikirkan banyak hal dan tersadar bahwa selama beberapa hari ini aku jarang sekali bertemu Kak Alvin, paling bertemu hanya pada saat sarapan atau makan malam. Aku bertanya-tanya dimana dia sekarang? Sikapnya juga aneh belakangan ini, semenjak dia mengajakku ke TK malam itu. Dia sering menghindar dari ku. Dan saat aku mengajaknya bicara dia tidak melihat ke arahku dan justru mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku bingung dengan perubahan sikapnya ia juga jarang jail dan tidak banyak bicara lagi. Dia sering keluar rumah di pagi hari dan pulang saat larut sekali. Aku lihat ia pergi mengenakan baju biasa, berarti dia juga tidak masuk sekolah. 

Lima belas menit sudah berlalu dan aku sudah sampai di depan pagar rumah lamaku. Rumahku terlihat baik-baik saja sepertinya Ka Alvin sudah memperbaiki pintu yang ambruk agar tidak di curigai tetangga. Namun ada yang mengganggu pandanganku, karena ada tulisan besar di atas kardus yang digantung di pintu lantai dua rumahku. Tulisannya RUMAH DI JUAL HUB:0813XXXXXX. Aku tidak menyangka akhirnya Mama mengambil keputusan itu. Namun aku bias memahaminya karena Meskipun Papa sudah meninggal tapi bukan berarti hutang-hutangnya terbayar. Cepat atau lambat para rentenir itu pasti akan mencariku dan keluargaku untuk segera melunasi hutang Papa.

Aku pikir sudah cukup aku melihat rumah ini. Jika berlama-lama bisa-bisa aku akan menangis di sini karena mengingat semua kenangan yang pernah kami lalui bersama di rumah ini.  Di perjalanan pulang aku bertemu dua teman sekolahku, Rima dan Sephia sepertinya mereka baru saja pulang sekolah.

"hei!." Sapaku.

Mereka pun menjawab dan dengan nada cemas bertanya mengenai Papa dan perihal ketidak hadiranku di sekolah. Mereka berkata turun berduka cita atas musibah yang kulakui. Namun aku tau itu semua hanya dari mulut saja. Buktinya mereka tidak datang melayat atau mengunjungiku di rumah baru. Mereka bertanya mengenai masalah yang kuhadapi sampai harus menjual rumah. Namun,Mereka hanya ingin tau akan masalah yang kuhadapi bukan berarti mereka peduli.

Setelah pembicaraan singkat tadi usai. Aku jadi tidak ingin pulang. Jadi ku putuskan untuk pergi ke jalan Bung Tomo, jalan itu merupakan surga belanja. Letaknya di pinggir sungai Mahakam. Apa saja bisa kau dapatkan di sana, mulai dari baju sampai makanan. Namun aku pergi ke sana bukan untuk berbelanja melainkan mencari pekerjaan karena aku sadar meskipun nantinya hutang-hutang Papa lunas. Tapi aku dan keluargaku butuh biaya untuk hidup dan pastinya untuk membiayai sekolah kami.

Untuk pergi ke Jalan Bung Tomo butuh waktu sekitar sepuluh menit dari sini. Biasanya aku ke sana menggunakan motorku tapi tadi aku tidak menggunakannya jadi aku memutuskan untuk naik bus umum kota.

Sesampai di sana aku bingung mau pergi ke mana. Aku tidak pernah melamar kerja sebelumnya. Di dekat halte tempat ku singgah tadi ada toko baju dan dari jauh aku bisa melihat ada kertas yang di tempel di kaca toko itu. Aku pun langsung menghampirinya berharap jika kertas yang di tempel itu adalah pengumuman untuk mencari tenaga kerja.

Sesampai di toko itu aku hanya bisa mengernyitkan dahi kecewa. Karena salah satu persyaratannya adalah punya ijasah SMA. Humm.. Baru juga kelas satu SMA.

Aku pun tidak ingin cepat menyerah hanya karena satu toko itu, masih banyak toko-toko lain yang ada di depan sana. Aku pun berjalan dengan semangat sambil menengok ke kanan dan ke kiriku siapa tau ada kertas lowongan pekerjaan lagi.

Tapi dari sepuluh toko yang kulalui enam diantaranya menerima lowongan pekerjaan tapi syaratnya adalah lulusan SMA. Aku pun mulai lelah, jika aku melanjutkan lagi sepertinya toko-toko yang ada di depan sana sama saja. Tapi jika tidak hari ini mau kapan lagi aku berkerja. Dengan malas ku paksa kakiku melangkah. "Semoga kali ini ada ya Tuhan". Keluhku dalam hati.



                           **********

Di bandara Sepinggan Balikpapan.

Ada seorang lelaki mengenakan jas hitam dan kaos putih dengan jeans biru  lengkap dengan kacamata hitam berjalan keluar dari pintu kedatangan dengan menggeret satu koper abu-abu di tangan kirinya dan di tangan lainnya memegang selembar kertas bertuliskan.

"WISATA KALIMANTAN TIMUR YANG WAJIB DI KUNJUNGI : JALAN BUNG TOMO."







BERSAMBUNG.........
VOTE,COMENT dan SHARE

The ShadowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang