Keramaian Jalan

64 5 0
                                    


Tanganku yang masih bergetar ku paksakan untuk meraih sosok mungil yang tergeletak di antara keramaian.

Aku tidak percaya dengan apa yang ku lihat. Apa yang terjadi? Mengapa begitu mendadak?

Saat akan meraihnya tiba - tiba. Suara sirine mobil polisi memenuhi jalan raya. Polisi segera menuju ke arah keramaian dan mengamankan keadaan sekitar. Karena Polisi akan memasang garis polisi di sekitar tempatku terduduk. Maka mereka memaksaku menjauh dari sosok mungil itu.

Aku yang merasa kaget karena di tarik menjauh pun spontan melawan dan berusaha melepas diri. Polisi yang sedang sibuk ini pun memarahiku dan mencoba memberi penjelasan.

Namun, aku juga terlalu sibuk menerima kenyataan yang ada di hadapanku. Segeraku melepas diri dan memeluk sosok mungil di hadapanku.

Sekujur tubuh Dea mengeluarkan darah. Ku dekap tubuhnya yang mulai mendingin. Di saat yang bersamaan mobil ambulan segera datang dan merebut Dea dari ku. Aku yang masih menangis ikut menuju Ambulan bersama Dea.

Tanpa permisi atau di persilahkan aku segera masuk ke dalam ambulan yang hanya berisi satu orang pria muda yang terlihat bingung dengan tingkahku. Namun, ia sadar situasi terlalu darurat untuk mendengar penjelasanku.

Tanpa aba - aba mobil ambulan segera melaju memecah kemacetan yang melanda jembatan Mahakam.

Aku terus berusaha membangunkan Dea yang sedari tadi terdiam kaku. Dokter di depanku memasang alat bantu pernapasan. Sambil memompa pelan dada Dea.

Aku terus berharap bahwa Dea akan baik - baik saja. Dokter di depanku juga terlihat berusaha keras.

Ambulan yang kami tumpangi melaju di jalan raya. Sesekali menikung dengan tajam membuat Dokter si hadapanku tersungkur ke samping ranjang Dea.

Dia terlihat kelelahan memompa dada Dea sejak tadi. Menyadari itu aku segera menggantikannya. Aku memompa dada Dea meski tidak melihat perubahan yang berarti.

Saat melihatku Dokter itu berkata

"Semua ini percuma dia sudah tiada."

Mendengar itu rasannya jantungku berhenti. Aku tidakkan menyerah. Dea masih bisa di selamatkan aku sangat yakin itu.

Aku terus memompa. Namun Dokter di sampingku berusaha menghentikanku. Aku mulai menangis lagi. Karena tidak sabar aku naik ranjang Dea. Dan memompannya lebih dalam.

Tidak ku hiraukan perkataan Dokter di sampingku. Aku tidakkan berhenti. Sampai mobil ambulan berhenti dan cap mobil belakang di buka. Ranjang tempat Dea terbaring di geret keluar, Aku masih berada di atasnya dan memompa dada Dea.

Aku tidak peduli dengan tatapan. Aneh orang - orang atau pun perkataan Dokter yang menghentikanku. Berkata bahwa Dea tidak bisa di selamatkan.

Saat ranjang yang di geret ini berhenti aku segera turun dan memegang lengan Dokter yang terlihat lebih tua di sampingku. Aku memintanya menyelamatkan Dea.

Ia hanya menjawab akan berusaha sebaik mungkin.

Tirai hijau menjadi pembatasku untuk melihat Dea. Yang bisa ku lakukan hanyalah berharap dan menunggu.

Sampai beberapa saat kemudian Suster membuka tirai hijau. Aku langsung bergegas menujunya dan melihat keadaan Dea. Dea masih sama belum membuka mata dan bergerak.

Aku melihat ke arah Dokter dengan wajah bingung menuntut penjelasan. Dokter di hadapanku hanya menepuk- nepuk pelan pundakku. Butuh beberapa detik bagiku untuk menyadari apa yang terjadi.

Saat tersadar dengan maksudnya Aku langsung mengalihkan pandangan ke arah Dea. Saat itu Suster mencabut alat bantu napas Dea dan menutupnya dengan kain putih.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 20, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The ShadowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang