Kepergian Kakak (4)

328 87 15
                                    

"Kakak?"

Ucapku dalam batin.

Ka Alvin yang melihatku dengan wajah terkejut langsung berjalan mendekatiku dan berkata.

"Aku pikir kau sudah tidur jadi aku masuk lewat pintu belakang ternyata tidak di kunci jadi......."

Belum selesai Ka Alvin bicara aku sudah menjatuhkan diri ke peluknya dan menitihkan air mata.

"Aku taa..kut.... Takut sekali.."

Ucapku lirih dengan mulut bergetar dan air mata mengalir.

Ia pun terkejut dengan tingkahku dan hanya bisa berkata.

"Maaf..... Aku membuatmu takut."

Sambil mengelus pelan rambutku.

Di Malam yang sunyi ini hanya ada kami berdua di ruang tamu. Demi menghiburku Ka Alvin membuatkan dua gelas susu Milo hangat. Yang sekarang ku minum perlahan.

Sampai beberapa saat tidak ada yang memecah keheningan sampai akhirnya ia bicara.

"Tadi Mama mengirimku pesan, Dea masuk rumah sakit. Tapi dia bilang tidak usah kemari. Karena kau sendirian di rumah."

Aku bisa mendengar suaranya dengan sangat jelas karena ketenangan ini.

"Mengapa baru buka Hp sekarang." Jawabku ketus.

"Aku buka Hp setiap selesai bekerja tapi saat aku mau membalasnya selalu ada kerjaan lagi. Hingga akhirnya aku lupa membalasnya."

"Alasan!!"
Aku menjawabnya dengan nada lebih ketus.

"Aku tidak menyalahkanmu karena bersikap begitu. Karena aku yang salah. Tidak pernah memberi kabar dan...."

Belum selesai ia bicara aku sudah memotong dengan berkata.

"Memangnya pekerjaan apa yang lebih penting dari keluarga?"

Ia hanya terdiam.

"Baiklah. Aku tidak akan begitu lagi."

Aku terkejut dengan sikapnya yang sangat tenang ia tak pernah setenang ini sebelumnya.

"Kakak kerja di mana?"

Aku kembali bertanya untuk mencairkan suasana.

"Itu bukan pekerjaan yang ingin kau ketahui."

Sambil tersenyum kecil.

"Apa maksudmu?" Tanyaku bingung dengan jawabannya.

"Aku bekerja di cafe temanku."

"Sebagai pelayan? Di cafe mana? Aku mau juga dong di layani sama Kakak." Ucapku kegirangan.

"Tidaaaakkkk!!!!"

Teriaknya dengan wajah serius sambil menghentakkan gelas ke meja.

Aku terkejut melihat responnya. Ada apa? Memangnya salah jika aku mau mampir sekedar melihatnya bekerja?

Belum sempat aku melontarkan pertanyaan. Ia sudah bicara dengan nada tinggi lagi.

"Pokoknya tidak boleh!! Jangan pernah mendekati tempat seperti itu!! Dan berhenti cari tahu pekerjaanku!!"

Setelah berkata begitu ia berjalan meninggalkanku menuju kamarnya.

"Ada apa? Apa yang salah? Memangnya Kakak kerja di mana?"

Ia tetap berjalan tanpa menghiraukan pertanyaanku. Aku yang masih bingung terus membrondonginya dengan pertanyaan-pertanyaan.

"Jika pekerjaan itu tidak baik lebih baik berhenti saja demi kebaikan Kakak."

Kata-kata terakhirku membuat langkahnya terhenti, tanpa membalik badan ia berkata.

"Demi kebaikanku? Jangan bercanda. Aku melakukan ini demi Papa. Hutangnya tidakkan lunas jika hanya mengandalkan pekerjaan sebagai tukang cuci piring."

Setelah berkata begitu dia segera masuk kamar dan menutup pintu dengan keras.

Aku masih terdiam dan termenung dengan kata-katanya yang secara tidak langsung menyinggungku. Hutang-hutang Papa aku pikir hutangnya akan lunas jika menjual rumah kami.

Di Pagi hari.

Setelah pertengkaran semalam aku belum melihat kakak keluar dari kamar. Sebelum berangkat ke rumah sakit aku menyempatkan diri membuat sarapan untuknya. Biar pun dia marah pada ku, aku tidak ingin dia kelaparan.

Agar dia tidak lupa memakan sarapan ini aku membuat memo yang ku tempel di pintu kamarnya. Sepertinya aku harus berangkat sekarang sebelum dia bangun dan mencicipi nasi gorengku yang rasanya campur aduk. Aku tidak ingin di omelin lagi.

Sesampai di rumah sakit. Aku langsung menuju kamar Dea. Saat aku membuka pintu kamarnya Dea langsung berteriak memamggil namaku dengan girang. Sepertinya Mama sedang di kamar mandi. Meskipun tidak ada perubahan pada keadaan Dea tapi dia tetap ceria seperti biasanya.

"Halo! Dea. Udah sembuh?"
Tanyaku, sambil mencium pipi gembulnya.

"Udah aku dah cembuh! Horeee!"
Ucap Dea sambil mengangkat kedua tangannya.

Meskipun mengucapnya dengan semangat tapi wajahnya yang pucat dan lesu tidak bisa membohongi keadaannya.

Saat asik mengobrol ringan dengan Dea. Mama keluar dari kamar mandi.

"Eeehh!! Udah datang. Kok masih di sini. Ayok! Nanti telat kerja."

Wajahku yang tadinya girang saat ngobrol dengan Dea. Tiba-tiba berubah cemberut mendengar perkataan Mama tadi.

"Iya.. Iya aku berangkat."
Sambil mencium punggung tangan Mamaku.

"Ka Alvin pulangkan tadi malam?"

Aku hanya membalasnya dengan mengangguk.

"Dadahhh!!! Deaa cepat sembuh ya biar kita bisa main di Tepian lagi!"
Ucapku sambil melambaikan tangan. Dea yang lagi asik nonton saluran kesukaannya, Upin-Ipin tidak menghiraukanku.

Aku pun pergi sambil memanyunkan bibir. Mama yang melihatku hanya tertawa kecil dan mengelus pelan pundakku sambil mendorongku perlahan. (Ngusir ya Ma T-T)

Saat berjalan keluar pintu rumah sakit yang terbuka otomatis aku menyipitkan mata karena mata hari yang sangat silau. Aku pun tersadar dan buru-buru melihat jam tanganku dibalik jaket jeans yang kukenakan.

Mampusss!!! Ucapku dalam batin sambil menepuk jidat. Ini udah jam 7 pagi. Aku bisa telat nih!!! Baru juga hari pertama kerja udah telat.

Tanpa memerdulikan terik matahari yang menyilaukan mata aku langsung melajukan motor Scoopyku di jalan raya. Segera menuju pekerjaan keduaku.

----------------Author POV-------------

Saat terbangun di pagi hari. Alvin segera keluar kamar untuk menuju kamar mandi. Saat keluar kamar karena kamarnya dan kamar Resa berdepanan. Jadi saat membuka pintu kamar ia langsung teringat dengan Resa.

'Apa dia baik-baik saja? Aku sudah keterlaluan tadi malam padahal dia tidak salah apa-apa tapi aku yang marah.' Sesalnya dalam batin.

Saat menutup pintu kamar ia melihat sebuah memo kecil berwarna kuning dengan tulisan:

'Jangan lupa makan sarapannya ya. Dilarang keras berkomentar saat makan! Dan jangan lupa senyum. Salam damai dari adikmu tercayang :P'

Alvin hanya tersenyum geli melihat kecentilan adiknya. Ia pun memasukkan memo itu kedalam saku celananya sambil senyum-senyum sendiri.

BERSAMBUNG................

VOTE, COMENT dan SHARE

Terima Kasih Sudah Meluangkan Waktu Untuk Membaca Ceritaku ^_^

The ShadowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang