Will it change? (Day-1)

46 8 2
                                    

Aku terus saja menundukkan kepala selama perjalanan dari sekolah menuju tempat pemakaman abu. Berharap ketika sudah sampai disana dan kuangkat kepalaku, aku sudah baik baik saja.

Apakah sudah kubilang bahwa arwah tak seharusnya punya harapan? Kau tau kenapa? Karna harapan itu tak akan pernah terwujud. Tidak akan pernah.

Yah, aku tidak baik baik saja ketika kakiku sudah menginjak lantai tempat penyimpanan abu. Kondisiku masih sama, keringat yang membasahi tubuh dan jejak airmata di wajah. Mata dan hidungku bahkan masih merah. Bibirku bergetar karna berusaha menahan isak tangis.

Dalam kondisi begini tidak mungkin kan aku menemui eonni itu? Jadi aku memutuskan untuk terjaga sepanjang malam di depan toples yang menyimpan abu dari hasil pembakaran tubuhku.

Namun rupanya malam ini aku tidak akan sendirian. Ada Jongdae disana. Lagi lagi si badut berwajah unta itu.

"Apa kabar, si jelek Kim Yoojung? Maaf aku mengganggumu malam ini." Ujarnya sembari menatap lekat fotoku yang terpajang disana. "Aku hanya tidak punya tempat yang harus kutuju. Jika aku pulang kerumah dan melewati rumahmu, aku akan kembali sedih dan menangis. Jadi lebih baik aku kesini saja. Tak apa kan, jika aku yang menemani kau malam ini?"

Aku tersenyum terenyuh. Lagi lagi Jongdae. Kenapa dia baik sekali padaku? Dan bodohnya kenapa aku tidak menyukainya saja? Bukankah kalau begitu urusannya akan lebih mudah?

Jongdae baik dan aku menyakitinya dengan bercerita segala hal tentang Kyungsoo. Jongdae baik dan aku tidak mengapresiasi kebaikannya.

Kenapa lelaki yang baik selalu tersakiti? Pernahkah pertanyaan itu mampir di otakmu? Kalau tidak, coba saja kau lihat di drama. Pemeran utama wanita akhirnya akan menyakiti si lelaki baik dan memilih untuk bersama lelaki lain yang hanya bisa membuat si wanita bersedih dan menangis. Seperti aku.

Jongdae menempelkan jarinya di lemari kaca, berusaha menyentuh peninggalanku. "Kau tau, aku sedang senang hari ini. Dan kau pasti akan lebih senang jika mengetahuinya."

Eh? Apa yang kau coba ingin katakan, Jongdae-ya?

Suara Jongdae melemah dan bergetar. Ia memejamkan matanya, bibirnya tersenyum namun aku bisa melihat matanya basah. Alisnya berkerut, ia menarik nafas berkali kali namun suaranya tak kunjung keluar.

"Ah, sepertinya kau akan lebih senang kalau bukan aku yang mengatakannya. Jadi tunggulah, mungkin ini kejutan terakhir yang bisa ku persiapkan untukmu." Jongdae mengusap matanya yang basah, lalu meraih kantong almamaternya, mengeluarkan setangkai bunga tulip berwarna biru cerah. Bunga itu disematkannya pada lemari abu milikku.

 Bunga itu disematkannya pada lemari abu milikku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Happy birthday," bisiknya lirih.

Dan seketika air mataku meluncur. Dia masih ingat, Kim Jongdae masih ingat hari ulang tahunku yang bahkan aku sendiri sudah melupakannya.

Aku menggeleng kuat kuat. Seharusnya Jongdae tidak perlu melakukan ini semua. Seharusnya ia tidak perlu datang kemari hari ini. Seharusnya aku mengikuti Kyungsoo seharian ini. Atau seharusnya aku tidak menyakiti teman terbaikku dengan menceritakan perasaan konyolku. Begitu banyak 'seharusnya' yang memang seharusnya tidak perlu terjadi.

Kutatap sekali lagi wajah Jongdae yang masih saja terpaku pada fotoku, maaf, lirihku. Maaf karna aku tak bisa menjadi teman yang baik untukmu, Kim Jongdae.

-

-

-

Hola hola! Welcome back! So sorry for make you waiting this long. Maaf juga karna mungkin story line nya akan berubah karna udah lupa dengan ide awal. Tapi akan diusahakan endingnya gak akan begitu berubah jauh dari awal.

Oh ya, artinya tulip biru itu "Ketenangan dan Kedamaian".

Kira kira kejutan apa yang akan Kim Jongdae kasih ke Kim Yoojung? Stay tuned terus ya, jangan lupa vote dan comment nya yaaaaaa :)

EarthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang