PART 2

6.7K 734 27
                                        


Laki-laki itu mendesah, bangun dari kursi kerjanya. Berdiri ke arah jendela besar yang menampilkan pemandang lapangan sebuah sekolah dasar. Hiruk-pikuk anak-anak yang bermain selepas jam sekolah tak dapat membuat perhatiannya teralih dari bayangan sosok gadis kecil itu. Gadis manis yang menyita perhatiannya pada saat memperkenalkan diri-nya kemarin.

Siapa Gadis kecil itu? Kenapa hari ini gadis itu tidak datang? Kemana gadis itu?

Laki-laki itu memandang ke luar jendela, merasakan hembusan angin membelai wajahnya, sudah lama dia tidak merasakan udara perkotaan. Kalau saja bundanya tidak memaksanya pulang ke sini, mungkin sampai saat ini dia lebih memilih tinggal di desa, mengabdikan dirinya untuk pendidikan anak-anak di sana. Setidaknya, dengan begitu dia merasa hidupnya masih berarti, masih berguna bagi orang lain.

Perlahan matanya tertutup, wajah gadis kecil itu kembali menghiasi benaknya. Siapa gadis itu? Kenapa gadis kecil itu mengingatkanku akan 'dia' yang terlarang unuk kuingat? kenapa wajahnya sangat mirip dengan wajah wanita itu? Apa wanita itu sudah menikah lagi? Apa gadis itu anak wanita itu?

Perasaan benci sekaligus rindu menyusupi tubuhnya seketika. Dulu, dia sudah belajar memendam semua perasaan tentang wanita itu. Dulu, dia berusaha melupakanya, hampir bisa melakukannya. Istrinya sempurna, membantunya menyembuhkan luka yang di tinggalkan wanita itu, itu dulu.

"Nak Bumi."

Laki-laki itu menoleh, mencari asal suara yang menggangu lamunannya. "Ya, pak Aga." Di depannya berdiri sosok laki-laki yang walau usianya sudah memasuki setengah abad, masih terlihat berkharisma.

"Gimana mengajarnya? Sepertinya banyak anak-anak yang suka dengan bapak," ucap Pak Aga. Duduk di kursi depan meja Bumi.

Bumi tersenyum, "Saya senang kalau saya bisa diterima di sini."

Pak Aga balik tersenyum, "Keputusan bundamu memanggilmu kembali ke sini sepertinya tidak salah. Aku senang kamu bergabung dengan kami di sini."

Bumi tersenyum canggung, Pak Aga memang kenalan lama bundanya. Bundanya jugalah yang memintanya membantu di sekolah yang di miliki Pak Aga. "Mmm ... pak," Bumi terlihat ragu. Menimbang-nimbang apakan akan menanyakan hal yang menggangunya sedari tadi atau tidak.

"Kenapa Nak? Ada yang menganggumu?" tanya Pak Aga,

"Apa saya boleh tahu data-data murid kelas satu Pak?" tanya Bumi hati-hati.

Pak Aga mengerutkan keningnya, matanya memandang wajah Bumi dengan bingung. "Untuk apa? Kamu kan bukan wali kelas anak kelas satu?"

Bumi menelan ludah, dia tak pernah pandai berbohong. "Aku hanya ingin kenal, dengan murid-murid yang kuajar," Bumi berkilah.

Sejenak Pak Aga menatap Bumi dengan penasaran. "Kamu kan juga mengajar kelas tiga dan enam. Kenapa hanya ingin tahu kelas satu saja?"

Bumi salah tingkah, buru-buru menambahkan, "Bukan seperti itu, saya juga ingin melihat anak kelas tiga dan enam. Tapi saya tanya dulu, apakah boleh melihat data-data pribadi mereka."

Pak Aga terdiam sejenak, kemudian tersenyum tipis. Dia bangkit dan menepuk pundak Bumi dengan sayang. "Saya bangga dengan Nak Bumi."

Bumi terlonjak kaget, merasakan perutnya mual karena kebohongannya malah disalah artikan oleh Pak Aga.

"Sudah jarang guru-guru yang mau memperhatikan anak-anak muridnya seperti kamu nak. Ayo, bapak tujukan data anak-anak itu," Pak Aga bangkit melambaikan tangannya pada Bumi, menyuruh Bumi mengikutinya.

Bumi berjalan mengikuti Pak Aga, memasuki ruangan Kepala sekolah yang hanya berjarak sekitra lima Meter dari ruang guru. Di dalam ruangan itu sebuah lemari kaca memamerkan jumlah piala dan medali yang telah diraih sekolah itu sejak berdiri.

Bumi berdecak kagum, kata-kata bundanya memang benar. Sekolah swasta yang di kepalai oleh Pak Aga, memang salah satu sekolah terbaik di sini. Dengan semua fasilitas mendukung dan guru-guru terbaik, membuat sekolah ini pasti menjadi incaran banyak orang tua murid untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Ahh ... andai dia juga punya anak, pasti dia akan menyekolahkan anaknya itu di sekolah terbaik seperti ini.

"Nak, Bumi. Ini data-data anak kelas satu, tiga, dan enam," Pak Aga menyerahkan setumpuk berkas data-data siswa.

Bumi mengambil berkas-berkas itu, sengaja memulainya dari anak kelas tiag, agar pak Aga tidak curiga dengannya. Tangannya dengan cepat membulak-bali data-data pribadi siswa. Sekali-kali Bumi mencoba tersenyum, bersandiwara di depan pak Aga yang memandangnya dengan tatapan bangga, sekali-kali Pak Aga memeberitahukan informasi tambahan, saat Bumi menunjuk salah satu anak kelas tiga dengan asal.

Bumi belas tersenyum secukupnya menanggapi pak Aga, tangannya membulak-balik dengan asal berkas-berkas yang ada di depannya. Sampailah dia pada berkas-berkas itu, berkas-berkas anak kelas satu.

Tangannya begetar saat membuka data-data murid kelas satu. Matanya mencari cepat ke huruf M. Seketika jantungnya berdegup kencang, Mentari Myiesha. Nama itu tertera dengan jelas di sana, lengkap dengan semua data diri gadis cantik itu.

Amarah menguasai Bumi, wanita itu harus menjelaskan semuanya. Semuanya tentang Mentari padanya.

... .... ....

Bulan berusaha berkonsetrasi dengan dokumen-dokumen di depannya, berusaha mengenyahkan kata-kata anaknya semalam. Apa mungkin yang dikatakan anaknya itu benar? Apa mungkin 'dia' ada di sini? Dan yang lebih parahnya lagi, sudah bertemu dengan putrinya, walau Bulan yakin, itu tidaklah disengaja. Kalau Bulan tahu, dia menjadi guru di sekolah putrinya, mana mungkin Bulan membiarkan Mentari bersekolah di sana.

Bulan mendesah, menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi kerjanya, berusaha membuat dirinya nyaman. Tapi, semua itu sepertinya sia-sia, bayangan wajah marah laki-laki itu selalu menggangu benaknya, membuatnya tak bisa tenang.

Apa aku harus kembali ke luar negeri? Tidak! Bulan menggeleng cepat, berusaha mengenyahkan pikiran itu. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memperkenalkan Mentari pada tanah kelahirannya, bukankah memang sejak Mentari lahir, dia tidak pernah berbohong pada malaikat kecilnya itu. Malaikatnya tahu semua kisah hidupnya, malaikatnya tahu siapa laki-laki itu baginya.

Mentari laksana cahaya yang hadir dalam kegelapan hidupnya, Mentari adalah hadiah terindah dari kesalahan masa lalunya, tidak! Mentari bukan kesalahan baginya. Mungkin bagi laki-laki itu, Mentari adalah kesalahan. Tapi bagi Bulan, Mentari adalah kepingan jiwanya yang lain.

Hari ini Bulan meminta Mentari tidak datang ke sekolah. Egois memang, tapi Bulan ingin semunya jelas, bukan menerka-nerka dari cerita Mentari. Tapi, bagaimana dia bisa membuktikan kebenaran cerita Mentari? Untuk memikirkannya saja, membuat dada Bulan sesak. Terlebih dia sudah berjanji pada laki-laki itu untuk tidak menganggunya lagi.

Aku harus mencari tahunya, secepatnya. Aku tidak akan menganggu kebahgiannya, aku hanya butuh tahu, apa itu benar-benar dia.

Bulan buru-buru meraih gagang teleponnya, baru hendak memanggil sekretarisnya, saat suara gaduh itu terdengar dari balik ruang kerjanya.

Tak lama kemudian pintu ruang kerja Bulan terbanting keras, membuat Bulan terhenyak kaget di kursinya. Bayangan-bayangan wajah penuh amarah itu seolah nyata di hadapannya, laki-laki itu memandangnya dengan marah, siap memuntahkan semua amarah-nya.

Bulan terdiam mematung, merasakan seluruh tubuhnya kaku seketika, suaranya tertahan di tenggorokan. "Bu, Bumi."

.... .... ....

HALF SOUL [ REPOST ]Where stories live. Discover now