PART 6

5.4K 788 48
                                        




umi memarkirkan motornya di pojok lahan parkir, buru-buru berjalan menuju ruang guru.Semalaman dia tidak bisa tidur, hanya Mentari yang ada di pikirannya, dia sangat ingin menemui Mentari di rumahnya, tapi, reaksi Mentari kemarin membuatnya urung melakukan niatnya. Alhasil, pagi ini dia berangkat lebih pagi ke sekolah, berharap akan menemukan Mentari di sekolah, walau hati kecilnya sempat takut, takut Bulan akan membawa Mentari jauh dari jangkauannya.

"Pagi, Pak Bumi."

Bumi menoleh, menemukan seorang wanita cantik dengan rambut sebahu yang sedang duduk di bangku meja kerjanya.

Bumi tersenyum, "Pagi, Bu Mia. Pagi sekali datangnya?" tanya Bumi pada wali kelas anak kelas satu itu.

Mia balas tersenyum, sejenak melirik ke jam tangannya. "Ini hari Senin, saya memang suka datang pagi kalau hari Senin, lebih siang malah macet. Maklum Jakarta. Bapak sendiri, kok datang pagi sekali? Bukannya hari ini jam mengajar Bapak rada siang ya?"

Bumi berjalan ke meja kerjanya, menaruh tas ranselnya. Mana mungkin dia bilang dia datang pagi gara-gara Mentari. "Saya juga takut kesiangan. Maklum, sudah lama saya nggak di Jakarta."

"Ohh, saya baru ingat, Pak Bumi sudah lama di Yogya ya? Di sana nggak macet kaya di sini ya, Pak?"

"Sama kok, Bu, jalan-jalan utamanya sama aja macetnya kaya di sini. Hanya saja, saya memang tidak di kotanya, jadi lebih lancar. Kalau di sini, hampir di semua tempat macet. Bu Mia sudah lama mengajar di sini?" Bumi balas bertanya sambil merapikan meja kerjanya. Ada beberapa buku murid yang kemarin dikumpulkan dan belum sempat dia periksa.

"Hampir dua tahun. Sejak lulus kuliah," jawab Mia.

"Hahaha, sejak lulus? Wah, saya jadi nggak enak manggil Ibu. Boleh jadi Ibu malah lebih muda dari adik bungsu saya."

Mia mengalihkan pandangannya dari buku-buku anak muridnya, "Memangnya adik Pak Bumi umurnya berapa?"

"Dua puluh enam tahun ini. Tapi masih kaya bocah," jawab Bumi. Teringat sikap Raya yang kekanak-kanakan, untung sekali dia mendapat calon suami seperti Jagad. Kalau tidak, bisa-bisa sampai kapan pun Bumi tidak akan tenang melepasnya menikah dengan seseorang.

"Oh, begitu ya? Apa saya yang kelihatan tua ya, Pak?" wajah Mia cemas.

Bumi tergelak. "Nggak kok, Bu. Eh, Mia aja deh. Biar nggak disangka tua," senyum Bumi terkembang, "adik saya aja yang memang masih kaya anak kecil untuk wanita dengan usia segitu." Bulan, dulu bahkan lebih dewasa dari Raya, padahal dulu usianya belum menginjak dua puluh tahun.

Senyum Mia terkembang, "Jadi, saya manggilnya Kak Bumi aja?"

Bumi balas tersenyum, "Enaknya Mia aja. Tapi, kalau di sini, panggil Bapak-Ibu aja deh. Takut gosip. Kan sayang kalau Mia digosipin sama orang kaya saya."

"Hahaha, saya ngerti. Oke, siap, Bos," jawab Mia.

Bumi kembali tersenyum, hendak mengambil pulpennya, saat dia sadar pulpennya itu tidak ada di dalam ranselnya. Otaknya mulai berkerja, mengingat-ingat di mana terakhir dia menaruh pulpen kesayangannya itu.

"Ahh," Bumi berseru, otaknya sempurna mengingat di mana puplen itu. Dia beranjak dari kursinya dan berjalan keluar ruang guru.

"Mau ke mana, Kak Bumi?" tanya Mia yang menyadari kepergian Bumi.

Bumi berbalik, "Kelupaan pulpenku, Mi, kayanya aku taruh di bagasi motor, mau aku ambil dulu."

"Ohh," Mia kembali menekuni buku-buku muridnya.

HALF SOUL [ REPOST ]Where stories live. Discover now