Behave, Lee Jihoon!

2.6K 225 66
                                    

Seungcheol × Jihoon

[ Jihoon tidak peduli, ia merasakan kepalanya sangat sakit dan satu-satunya yang harus Seungcheol lakukan adalah memeluknya, bukan memanggilkan dokter. ]

.
.
.
.
.

"Hey Chan, bagaimana tugasmu?" Seungcheol menghampiri Chan setelah mengeringkan semua piring yang sudah ia bersihkan.

"Kalaupun aku bilang tidak bisa, tidak akan ada yang mau membantuku, hyung." Chan menjawab dengan aksen khasnya. Seungcheol tertawa geli dan menepuk-nepuk kepala maknae itu.

"Tidak meminta bantuan Hansol?" Seungcheol bertanya, mengambil satu kursi dan duduk disebelah Chan.

"Malas, dia dan Seungkwan hyung sedang menonton Show Me The Money, mana mau membantuku."

"Kalau Mingyu?"

"Tidak, hyung. Mingyu dan Wonwoo hyung sedang latihan."

"Seokmi—"

"Kau yang mengizinkan Seokmin hyung dan Soonyoung hyung pergi."

"Ah benar juga. Bagaimana dengan Jun? Minghao?"

"Mereka sedang belajar bahasa Korea, hyung. Tidak enak mengganggu."

"Hm.. Junghan, mungkin?"

"Mana mungkin Junghan hyung mengingat materi ini? Dan jangan tanyakan Jisoo hyung, mereka berdua sedang asyik menonton film dikamar."

Seungcheol menatap iba pada maknae mereka. Ia sendiri merasa sangat tidak berguna, well, salah satu hal yang ia benci di dunia ini adalah matematika, dan seorang Lee Chan dipinggirnya ini sedang mengerjakan tugas matematika, yang mana Seungcheol sendiri tidak mengingat bagamana bisa dikalikan dengan b. Leader dari Hip Hop unit itu menghela nafas, hanya ada satu orang lagi yang belum ia tanyakan.

"Tidak meminta bantuan Jihoon? Dia murid yang pintar, loh." Chan menggeleng, mencoba mengingat materi invers yang ia yakin sudah pernah ia catat.

"Jihoon hyung sedang sakit, hyung tidak tahu?" Chan bertanya, membuka beberapa halaman kebelakan mencoba mencari materi rumit itu. Seungcheol yang mendengarnya terkesiap.

"Sakit? Sakit apa?" Ia bertanya, Chan dapat mendengar ada nada khawatir yang sangat kentara disana. Ia memilih untuk melepaskan tatapannya pada buku dan memilih melihat hyungnya.

"Ia mengeluh sakit pada kepalanya, bukankah sesudah makan malam tadi ia bilang padamu?" Chan bertanya, dan dibandingkan menjawab, Seungcheol memilih untuk menggeleng dan segera beranjak dari sisi Chan, menuju kamarnya.

Seungcheol berjalan dengan kecepatan yang lebih dari biasanya. Ia lupa bahwa ia mencuci piring menggantikan Jihoon yang izin pergi ke kamar terlebih dahulu—heol, ia tidak tahu kalau Jihoon sakit.

"Jihoon-ah." Membuka pintu dengan cat cokelat dihadapannya, Seungcheol dapat melihat bagaimana lelaki berambut pink itu tengah telungkup dikasur milik sang leader.

"Ji." Seungcheol menghampiri Jihoon, mendaratkan bokongnya disisi ranjang, menyentuh kening kekasihnya.

"Hyung." Jihoon memanggilnya, lelaki yang lebih muda itu tengah membelakangnginya, by the way.

"Dimana yang sakit, hm?" Seungcheol bertanya dengan lembut, Jihoon berbalik dan memegang tangan Seungcheol yang berada di keningnya. Seungcheol dapat melihat bagaimana Jihoon berkeringat dengan banyak.

"S-sakit hyung." Jihoon menatap Seungcheol dengan ekspresi kesakitan yang kentara.

"Ya Tuhan," Seungcheol yang baru menyadari suhu tinggi Jihoon membelakakan matanya. Ia menyingkirkan poni Jihoon untuk memastikannya kembali. "Kau panas sekali." Ia melanjutkan.

Jihoon tidak menjawab, ia hanya diam dan Seungcheol melihat bagaimana kekasih kecilnya itu menahan rasa sakit.

"Aku akan memanggil Junghan, tunggu sebentar, ya." Dengan satu kecupan pada kening Jihoon, Seungcheol segera memanggil Junghan.

Tidak sampai satu menit, tiga orang tertua dalam grup itu kembali, melihat Jihoon yang kini sudah menangis.

"Jihoon-ah, kau kenapa?!" Junghan segera mendudukkan dirinya disebelah Jihoon, mengecek suhu tubuh Jihoon dan menghela nafas setelahnya.

"Kau meriang lagi." Ia memeluk Jihoon setelahnya, menenangkan lelaki yang lebih muda.

"Seungcheol, ambil beberapa selimut milik member lain, Jisoo, ambilkan air dingin dan lap kompres. Juga obat milik Jihoon." Dan kedua lelaki yang diperintahkan itu segera menjalankan tugas, Junghan kini sudah ikut berbaring, memeluk Jihoon dan memberikan beberapa pijatan pada kepala produser itu.

"Ssh, jangan menangis. Sakitnya akan segera hilang, kok." Junghan memberikan beberapa kalimat penenang, yang mana sama sekali tidak manjur—biasanya Jihoon akan lebih tenang.

"Sakit hyung…" Jihoon berkata dalam tangisnya, Junghan mengecup puncak kepalanya, ia dapat merasakan Jihoon mengigil dalam pelukannya.

"Ini selimutnya." Seungcheol datang dengan beberapa selimut ditangannya—termasuk selimut dengan motif polkadot pink putih milik Seungkwan ("Hyung! Mau dibawa kemana selimut cantikku?!" "Pinjam sebentar, Jihoon sakit dan jangan ribut!)

Junghan melepaskan pelukannya terhadap Jihoon perlahan, dan menyelimuti Jihoon setelahnya. Memerintahkan Seungcheol untuk menurunkan suhu AC dikamar itu—dan segera Seungcheol lakukan. Tidak lama setelah itu, Jisoo kembali. Seungcheol membantu Jihoon meminum obatnya dan Junghan dengan apik memberikan kompres pada Jihoon yang masih menggigil.

"Apa kita memerlukan dokter?" Seungcheol bertanya, ia berada disisi kanan Jihoon (Junghan disisi kiri) dan menggengam tangan kekasihnya. Ia dapat mendengar bagaimana Jihoon berteriak "Tidak mau!".

"Kita tunggu sampai jam sepuluh nanti, kalau demamnya belum turun, kau boleh memanggil dokter Kim." Junghan berucap, membuat Jihoon mengerang. Ia benci dokter, jujur saja!

"Jangan nakal, Lee Jihoon!" Dan Jihoon lebih membenci bagaimana Junghan-hyung menjadi sangat galak saat mengurusi orang sakit.

"Hyung…" Jihoon menatap Seungcheol, meminta bentuan yang mana hanya mendapatkan gelengan dari sang leader.

"Junghan benar, aku tidak mau kau sakit besok. Kita sudah berjanji untuk membeli ice cream, kan?" Seungcheol kini merebahkan badannya, kasur kecil—yang sudah biasa mereka berdua tempati ini, terasa lebih hangat.

Jihoon tidak menjawab lagi, ia memiringkan badannya menghadap Seungcheol dan memeluk kekasihnya—tidak mempedulikan saat lap kompres yang ada dikeningnya jatuh.

"Jihoon—" Junghan yang hendak mengomel berhenti ketika Jisoo menepuk pundaknya, membisikkan "biarkan saja," melihat bagaimana Jihoon memeluk Seungcheol dengan erat.

Seungcheol tertawa, ia tahu kalau seseorang demam suhunya bisa menurun jikalau dipeluk seseorang yang lainnya—dan menularkan pada orang yang dipeluknya. Ia membalas pelukan Jihoon dan mengisyaratkan pada Junghan dan Jisoo untuk meninggalkannya berdua.

"Kurasa kita tidak bisa memakan ice cream besok." Seungcheol berucap, Jihoon tidak peduli, ia merasakan kepalanya sangat sakit dan satu-satunya yang harus Seungcheol lakukan adalah memeluknya, bukan memanggilkan dokter.

Our Little MomentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang