part 6

365 16 1
                                    

Dia orang yang telah menghadirkan cinta.
Menyebar ke dalam rasa.
Membuatku jatuh cinta padanya.

------------
Malam Harinya.
Teesa merasa bosan di rumah, untuk mengusir rasa bosanya ia memilih untuk keluar dari Vila dan mencari angin di sana sekedar melepas pengapnya di jiwa, Ia menatap bintang di atas sana satu bintang yang membuatnya ingin menggapainya, itu adalah bintang paling terang di antara yang lainya, Teesa menatapkan wajahnya ke atas langit dan memejamkan matanya.

Teesa pov

Hati ku berkata bahwa itu adalah kau, bintang paling terang itu adalah kau Sammy.

Aku senang bisa melihatmu, kau memberikanku ketenangan,
Sammy aku nerindukanmu.

Kau tau saat ini hati ku sedang gundah, perasaan yang tidak pernah aku harapkan, tiba-tiba datang dan membuatku merasakan kecemburuan sangat dalam.

Sammy apa kau juga akan mengatakan yang sama ? kalau aku mencintainya, Sammy jawab aku kumohon berikan aku petunjuk, aku butuh petunjukmu.

Teesa pov end

Clap Clap..
Setetes demi setetes air hujan menetes menyentuh wajahnya, Teesa membuka matanya

"Sammy, apa kau menangis? bintang itu hilang. Apa kau marah padaku? ku mohon munculah Sammy aku masih ingin melihatmu." namun malah air hujan semakin deras menerpanya.
--------
Brian mengusap wajahnya pelan, berkali - kali ia mencari Teesa ke seluruh ruangan tapi belum juga ia temukan.

"Ya tuhan, Teesa kau dimana? cepat angkat panggilanku." ucapnya saat mencoba menghubungi Teesa
Karena tak ada jawaban  dari Teesa ia memilih keluar mencari Teesa walau hujan semakin deras.
Pikiran buruk mulai menghampirinya.
--
Teesa kedinginan disana, tubuhnya bergetar  ia berjalan menuju Vilanya namun air hujan yang begitu derasnya membuatnya tidak bisa melihat jalan dengan jelas, namun ia melihat seseorang menghampirinya dan memanggil namanya, namun saat itu juga tiba-tiba tubuhnya lemah dan jatuh begitu saja.

"Teesa bangun Teesa." ucap Brian saat mendapati Teesa yang akan terjatuh namun dengan sigap ia menangkapnya .

Setelah ia sampai di Vila nya ia segera membawa Teesa masuk ke kamar, lampu kamar belum ia nyalakan hanya sebuah lampu kuning yang menerangi kamarnya.
Dengan ragu ia memilih untuk membuka pakaian Teesa dan menggantinya. Setelah itu ia juga mengganti pakaianya sendiri, lalu segera ia merebahkan tubuhnya di samping Teesa, tubuhnya masih dingin Brian mencoba menghangatkanya dengan membawanya kedekapanya.

"Dingin, tubuhku terasa dingin." gumam Teesa dan tubuhnya masih bergetar hebat, suhu di tubuhnya semakin panas.

Segera ia menaruh sebuah kompres di keningnya, berkali kali menggantinya namun Teesa masih juga kedinginan dan suhunya masih naik, badanya juga terus bergetar.
"Dingin." gumam Teesa lagi

"Sabarlah Teesa aku akan membuatmu merasa hangat."

Tanpa ada pilihan lain ia menilih  mendaratkan sebuah ciuman di bibir dingin Teesa, dan ajaibnya saat itu juga tubuh Teesa tidak terlalu bergetar lagi, Brian semakin memperdalam ciumanya tanpa mendapat perlawanan dari Teesa.

Setelah itu ia melepaskan ciumanya, lalu menarik kembali tubuh mungil Teesa ke dalam dekapanya, lalu Teesa mulai bisa tertidur di dekapan Brian, Brian tersenyum senang saat tubuh Teesa telah kembali ke semula,

"Tidurlah, Teesa aku akan selalu menghangatkanmu."  ucapnya lalu
setelahnya ia juga  terlelap dalam satu selimut.

---**---

Teesa mengerjapkan matanya perlahan, seketika kepalanya terasa sangat pusing dan mendapati kompres yang menempel di keningnya , namun ia berusaha untuk bangun dan duduk pikiranya menerawang kejadian semalam.

"Kenapa aku berada di kamar? bukanya semalam aku ada..
Oh astaga pakaianku, siapa yang menggantikanya apa jangan- jangan ....."

"Kau sudah bangun, bagaiman keadaanmu apa baikan." ucapnya lalu duduk di tepi ranjang sambil membawa semangkuk bubur.

Teesa meneguk salipanya, tanpa sadar ia semakin menaikan selimutnya sampai di dada.

"Apa dia telah melihatnya? akhh betapa malunya aku, apa dia sudah melihat tubuhku? akkh sialan memalukan." batinya

"Teesa?"

"Eh oh ah iya ada apa?" ucapnya gelagapan.

"Makanlah, setelah ini kau harus minum obat pereda pusing di kepalamu." ucapnya lalu hendak menyuapi Teesa.

"Tidak perlu, aku masih punya tangan biar aku makan sendiri saja." ucap Teesa

"Aaaaa." ucap Brian berusaha memasukan makanan kemulut Teesa.

"Brian , sudah kubilang aku..."

"Aaaaa, Teesa cepat makanlah." potong Brian, Teesa pun memilih diam dan menuruti Brian.

Satu, dua tiga sampai lima suapan telah ia makan,dan suapan kali ini ia menolaknya.

"Aku sudah kenyang."

"Baiklah sekarang minum obat ini." ucapnya sambil memberikan obat itu, lalu segera Teesa meminumnya.

"Sekarang kau istirahatlah."
Ucapnya, lalu membantu Teesa merebahkan nya di tempat tidur, dan menyelimutinya, lalu mencium kening Teesa.

Seketika Teesa menutup matanya merasakan, desiran-desiran hangat di jiwanya itu.

"Tunggu, aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
tahan Teesa saat Brian hendak pergi.

"Apa? katakanlah sayang." ucap Brian tersenyum ke arahnya.

"Apa, hmm kau yang hmm membawaku ke kamar dan hmm menggantikan pakaianku." ucapnya gelagapan, Brian tersenyum kearahnya.

"Iya, aku yang menggantikan pakainmu." Teesa langsung terpelonjok dan lagi-lagi menelan salipanya dengan kasar wajah nya kini sudah memerah.

"Jangan hawatir, aku tidak berbuat hal yang tidak-tidak, lagian aku juga tidak terlalu jelas melihat tubuhmu, karena sengaja aku tidak menyalakan lampunya, aku takut kalau aku nantinya..." pipi Teesa memerah menahan malu, segera ia menutup sebagian wajahnya.

"Cukup, baiklah aku percaya kata-katamu Terimakasih." potongnya lalu dengan segera membaringkan Tubuhnya dan membelakangi Brian.

Sementara Brian hanya tersenyum, melihat reaksi Teesa yang lagi-lagi membuatnya tertawa kecil, dengan reaksi yang sangat menggaskan itu.

Terimakasih sudah menyempatkan waktu kalian untuk membaca cerita gaje inih hhhe salam semua muah muah

My Perfect HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang