[Luna]
Saat ini aku sedang berbaring di tempat tidurku. Aku berfikir, mengapa tidak ada yang istimewa saat disekolah tadi? Apa karena aku yang belum mengonfirmasi hubunganku dengan Harry?
"Lihatlah lelaki itu!"
"Siapa dia?"
"Mengapa ia dekat-dekat dengan Luna? Kurang kerjaan sekali dia!"
"Dia.." "Hei! Dia yang tadi membela Luna saat gadis jelek itu terlambat kan?" Temannya langsung memotong ucapan gadis sebelumnya.
"Apakah Luna pembantu baru Harry?" Kudengar, Jeline berbicara pada Jane, sedangkan mantan sahabatku itu mengedikkan bahunya sambil menyeringai kearahku.
Ada apa dengan Jane? Apa dia sedang menyembunyikan sesuatu padaku?
Ya memang, disekolah tadi banyak yang membicarakanku dengan Harry. Tapi, diantara semua omongan sampah orang-orang itu, tak ada yang membicarakan hubungan spesialku dengan Harry.
Bahkan ada yang menganggap aku dan Harry hanyalah sebatas pembantu dengan majikannya.
Argh, ini semua membuatku pusing.
"Ada apa?," Harry berjalan kearahku dengan kerutan di dahinya.
Aku menoleh kearahnya, "mengapa tidak ada yang menebak jika kita berpacaran?"
Dia mengedikkan bahunya, "entahlah. Lalu apa rencanamu selanjutnya?"
"Menurutmu apa?," Tanyaku balik kepadanya. Aku berfikir, apa aku harus mengubah diriku layaknya princess dulu agar siswa-siswi sekolahku tidak memandangku dengan sebelah mata?
Tidak. Sepertinya itu adalah suatu ide yang buruk bagiku.
Dia mengendikkan bahunya, "nope. Menurutku mungkin kita jalani saja untuk sekarang ini. Kuharap sih berjalan lancar," ucapnya.
Mungkinkah?
"Ayolah, jangan difikirkan begitu! Lebih baik sekarang kita jalan-jalan, bagaimana?"
•••
Sudah 1 minggu lewat 5 hari, tepatnya sudah 11 hari, Harry menginap di apartementku dan menjadi pacar pura-puraku. Aku frustasi. Semua tidak berubah, semua berjalan dengan kacau. Oh, astaga!
"Hei Harry," tegurku sambil menoel pipinya. Dia tampak terganggu dengan sentuhanku, sehingga ia menutup buku sains yang sedang ia baca, kemudian menoleh kearahku.
"Ada apa?" Cih, cuek sekali.
"Apa aku tidak cantik?," tanyaku sambil meliriknya. Pipiku terasa panas akibat menahan malu. Mau tak mau, aku harus menanyakannya pada Harry. Siapa tau dia bisa membantu kan?
Dia mengernyitkan dahinya, "apa maksudmu?," tanyanya.
Halah, tinggal bilang iya atau tidak. Ribet banget.
"Tidak. Aku hanya bingung, mengapa mereka semua menghinaku? Mengapa mereka semua menganggapku hanya sebutir telur busuk? sebegitu jeleknya-kah aku?"
Harry mengangkat alisnya kepadaku, "tidak, kau tidak jelek. Kau c- kau annoying! Ya, kau annoying! Itulah yang membuatmu dibenci satu sekolah. Kau aneh"
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Berubah. Berhentilah bersikap sok akrab."
Begitukah? Aku aneh? Aku orang yang aneh? Aku annoying? Aku-
Aku berdiri dari sofa yang tadinya kududuki lalu berjalan menuju kamarku. Cukup. Aku harus merenung sejenak. Aku harus berfikir, apa yang harus kulakukan setelah Harry dengan jujurnya menyebutku gadis annoying nan aneh.
"Dengar Luna, aku tidak bermaksud menghinamu! Jangan terlalu terbawa perasaan. Bagaimana kau mau punya banyak teman, jika kau saja begini? Mungkin itu pula alasan mengapa ayahmu tidak betah dirumah! Kau sangat merepotkan, manja, dan terlalu terbawa perasaan!"
Oh
Mungkin Harry benar. Aku memang harus berubah.
"Harry," panggilku tanpa berbalik padanya. Aku tau, ia sedang berdiri sekarang.
"Pulanglah. Kerjamu sampai disini saja. Don't bother me," ujarku, lalu berlari kekamarku, menikmati desiran angin yang bahkan dengan mudahnya membuat airmataku perlahan menetes.
Aku buruk.
-----
Maap pendek:v niat sih..
Maap makin hari makin ngawur, ide gue terlalu melimpah ampe bingung gimana nuanginnya. Kaga punya temen si:'

KAMU SEDANG MEMBACA
Rental Boyfriend 📌 H.S (COMPLETED)
Фанфик[STYLES II] Rental Boyfriend, tempat dimana semua lelaki tampan berada. Tempat bertingkat dua yang menyerupai rumah, sehingga tidak ada yang tau apa isi tempat itu. Hanya orang-orang tertentu saja yang tau. Luna, gadis manis yang ingin mendapatkan p...