Vomment:v
----------Luna POV
Tidurku kali ini bagaikan surga yang tidak akan pernah kutinggalkan. Bahkan hanya sekedar untuk bangun saja aku tak rela. Alarm yang dengan lancangnya berbunyi sedari tadi benar-benar membuatku muak. Jelas dia mengganggu tidurku.
Aku tahu, ini bukanlah diriku yang sesungguhnya. Pasalnya, aku pasti selalu menanti pagi dan langsung bangun tepat saat alarmku berbunyi. Namun, sekarang kebalikannya.
Mungkin aku lelah dan butuh istirahat sebentar.Aku semakin mengeratkan pelukanku pada gulingku, atau seseorang?
Tunggu.
Seseorang?
Mataku terbuka lebar saat mengetahui aku tidur bersama Harry.
Astaga, apa yang telah kami lakukan? Dengan takut, kuintip badanku yang bersembunyi dibalik selimut tebal.
Oh, syukurlah. Piyama longgarku masih melekat ditubuhku. Perasaan lega menghampiriku. Aku melirik Harry dari bulu mataku. Jujur saja, dia tampan. Mungkin aku tidak salah pilih orang.Pasti Jelena a.k.a Jeline dan teman-temannya akan iri padaku. Melihat aku mempunyai pacar yang tampan, bahkan hampir sempurna, batinku. Aku bahkan tertawa mendengar suara batinku sendiri.
Saat aku tersadar ada sepasang mata yang memperhatikanku, aku reflek menengok keatas. Terlihatlah sepasang mata hijau yang memang benar memperhatikanku dengan intens nya.
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal, suatu kegiatan jika aku merasa risih atau gugup.
"Apa yang kau lihat, Harry?" Merasa benar-benar risih, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya mengapa ia melihatku seperti itu.
"Tidak. Aku hanya bingung, sedang apa kau disini?"
Eh?
Aku memperhatikan sekitarku dan membulatkan mataku, dua kali lipat dari sebelumnya.
"U-uh. Maaf Harry. Mungkin penyakitku kambuh lagi.."
Dia mengernyitkan dahinya, "penyakit apa?"
"Aku terkadang memang suka tidur sambil berjalan dan bisa keluar masuk ruangan manapun. Aku tidak sengaja, sungguh!" Jawabku sambil memberikan puppy face ku.
Semoga saja dia tidak jijik.Aku hanya takut dia akan risih lagi kepadaku, hanya karena masalah ini. Aku takut dia tidak bisa menerimaku, meskipun aku yang membayarnya.
Omong-omong, kalian mendapatkan fakta baru dari diriku.
-Aku suka tidur berjalan dan
-Aku sangat suka bergantung kepada orang lain.Memang itu perilaku yang jelek, hanya saja sangat susah untuk menghilangkannya dari diriku.
Dulu aku sudah terlalu terbiasa dengan dua hal itu, karena pasti ada satu penjaga yang berjaga di luar kamar tidurku, sehingga aku tidak akan kemana-mana saat kebiasaanku itu kambuh.Dan soal bergantung kepada orang lain, aku dulu selalu bergantung kepada papa. Minta uang sama papa. Antar sekolah sama papa. Makan sama papa. Semuanya sama papa. Sehingga aku menjadi manja dan beginilah aku sekarang.
Memang benar kata pepatah, yang mengatakan bahwa hal yang dahulu kita tanam akan kita petik kedepannya.
Hal kecil yang kulakukan dulu berdampak buruk bagiku.
"Mengapa melamun? Kita harus sekolah bukan?" Harry mengangkat alisnya kepadaku.
Aku melirik kearah alarm Harry.
A S T A G A. KAMI TELAT!!
*****
"Kau tau kan, apa yang aku lakukan kepada murid-murid yang telat? Apalagi murid yang telat 30 menit sepertimu, Ms. Johanna," ujar Mr. Ed saat aku baru saja memasuki kelasku.
Aku hanya bisa menunduk meratapi nasibku. Lagi-lagi aku telat. Di kursi murid, mereka hanya menontonku dengan mata yang sinis. Aku sedih. Bagaimana jika beasiswaku diberhentikan? Sudah dua tahun aku berusaha untuk mempertahankannya.
"Permisi.." aku menoleh kesebelahku, dan melihat Harry, berdiri disana.
"Oh, kau Mr. Styles, anak baru itu bukan?," tanya Mr. Ed. Jika kalian bingung, bagaimana Harry memasuki sekolah ini, jawabannya adalah, aku yang membiayainya.
Aku memohon pada ayah agar ia bisa menyekolahi Jarry, dengan alasan, 'Harry pernah menolongku saat aku hampir kecelakaan'. Sangat klasik, tapi hebatnya ayahku percaya padaku.
Aku memang anak bejad. Kalian boleh membullyku seperti yang dilakukan Jeline dan sebentar lagi Jane.
"Yes. Tapi maaf, mengapa Luna tidak masuk?," dia bertanya pada Mr. Ed. Tentu saja gara-gara aku terlambat. Mengapa Harry sangatlah bodoh?
"Dia terlambat Mr. Styles. Dan aku tidak akan memberikan izin masuk kepada murid-murid yang terlambat dikelasku," jawab Mr. Ed ketus dan melirik sinis kearahku. Aku semakin menundukkan kepalaku takut-takut.
"Tapi, maaf sekali lagi sir, tapi Luna terlambat karena tadi dia harus mengantarku ke bengkel terlebih dahulu. Kami tadi bertemu di jalan dan dia menolongku yang sedang kesulitan lantaran mobilku mogok. Dan sesampainya di sekolah, dia mengantarkanku ke ruang kepala sekolah dulu," tungkas Harry dengan lancarnya.
Dasar lelaki. Pintar sekali ia berbohong.
Mr. Ed mengangguk-anggukkan kepalanya dan mengizinkanku masuk.
Huft, terimakasih Harry. Kau sudah menolongku, meskipun dengan cara yang tidak semestinya.
----
Ada yang nungguin cerita ini gak?:v
Maaf ya jarang update.. malah lama banget ya?
Gak ada waktu buat nulis guys:' kelas 9 emang bener bener padet :'

KAMU SEDANG MEMBACA
Rental Boyfriend 📌 H.S (COMPLETED)
Fanfic[STYLES II] Rental Boyfriend, tempat dimana semua lelaki tampan berada. Tempat bertingkat dua yang menyerupai rumah, sehingga tidak ada yang tau apa isi tempat itu. Hanya orang-orang tertentu saja yang tau. Luna, gadis manis yang ingin mendapatkan p...