Aku gak tau apa yang aku harus lakukan ketika aku melihat Jeff dan Bram masuk ke dalam mobil, menaruh tas yang gak seberapa besar dan banyak itu di bagian belakang. God, this is so weird. Pikirku dalam hati. Aku cuma bengong.
"Hey. Cutie pie," ujar Jeff, cuek dan agak nyeleneh.
Aku terbangun dari lamunan kosongku.
"Eh? Iya."
Jeff tersenyum meledek. Waktu aku mendekat ke pintu kursi pengemudi, dia mencolek daguku. "Aku cuma iseng. Eh, kamu dengar."
Mukaku memerah, banget. Aku nunduk, nggak enak kalau dilihat Bram.
"Iseng banget, deh."
Jeff terkikik. Dia turun, lalu membukakan pintu belakang untukku bertepatan dengan waktu Bram berjalan ke arah mobil.
"Kamu duduk di belakang?"
Posisi Bram saat itu literally berhadap-hadapan dengan Jeff, dan aku sudah duduk di kursi belakang.
"Iya. Kamu di depan aja ya."
"Hmm," mukanya keliatan males banget.
Aku males berdebat dan adu mulut sama Bram. Di saat-saat kayak gini, dia bakal lebih banyak diam. Entah kenapa, mungkin dia ngambek. Ah, kupikir lagi, kenapa sih dia gak berkelakukan sesuai umurnya? Aku paham, dia gak suka pergi sama Jeff, itu udah pasti. Tapi dia gak perlu terlalu nunjukkin itu. Aku jadi gak enak dan cenderung malu sama Jeff dan Om-ku. Kalo sama orangtuaku, aku udah tau kalau mereka sih gak terlalu peduli. Mereka akan membalikkan semua pilihan aku ke aku.
"Hey, bro. Hope it would be a great trip today," ujar Jeff sambil memukul pelan pundak Bram.
"Sure," tanggap Bram.
"You'll be my co-pilot. Cool?"
"Cool."
"Alright."
Sejujurnya aku belum tau Jeffrey akan membawa kita semua ke mana. Aku suka surprise, dan dia tau itu. Dia cuma bilang ke aku untuk membawa peralatan diving.
Jeffrey menyalakan pemutar musik di mobil tua milik Daddy dan kelihatannya CD itu sudah dia persiapkan. Seketika lagu rock milik Led Zeppelin berjudul Dazed and Confused berputar di udara. Seretan gitar yang menyayat itu ngingetin aku waktu dulu Jeff berada di rumah Matthew di Jakarta. Waktu mereka berdua sibuk membenahi motor-motor jantan milik mereka itu, di garasi terputar keras lagu ini.
"Kamu tau kita mau pergi kemana?" ujarku, basa-basi ke Bram.
"Heh, enggak sih."
Aku menaikkan sebelah alisku.
"Kamu bisa diving kan?"
"Bisa kok," Bram bergumam sambil mengeluarkan handphonenya dari kantong. "Jadi mau pergi diving?"
"Yes, we are," sambung Jeff.
Suasana yang lumayan kaku dan gak enak ini sejujurnya bikin aku agak malas melanjutkan perjalanan ini, dan lokasi kita kebetulan lumayan jauh. Mungkin sekitar satu setengah jam. Duh, mau ngapain coba dalam waktu satu setengah jam ada di tengah dua orang yang saling gak suka ini?
"Cassie, kamu sudah ada plan awal tahun depan?"
Awal tahun depan? Hmm.. Tinggal 4 bulan lagi yaa. Cepat juga waktu berjalan.
"I don't reckon. Kenapa, Jeff?"
"Oh, nggak kenapa. Sepertinya itu waktu yang pas kamu datang ke Indiana."
"Indiana?" sambar Bram.
"Iya. I asked her if she wants to visit my hometown. She'd like to."
"Kenapa gak tanya gue dulu?" Bram langsung mengarahkan kepalanya ke arahku.

KAMU SEDANG MEMBACA
"Jeff" - Completed
RomanceSaat bertemu dia, aku masih lugu. Tidak tau apapun, tidak memiliki apapun. Maklum, aku hanya seorang siswi SMA yang baru kenal 'pacaran'. Tapi, sekejap aku lupa segala hal saat ia berkenalan denganku. Kisah kami mulai dari situ.