Daddy dan Mama siang ini berkunjung ke apartmenku. Aku menyiapkan banyak buah-buahan karena Daddy suka sekali makan buah-buahan. Mama membawakan ayam bakar pedas khas Bali, yang aku suka banget. Mama biasanya masak sendiri, pakai resep dari nenekku.
Daddy harus pulang duluan karena ada janji makan bersama kliennya. Sementara Mama menemaniku berberes-beres. Dengan sentuhan Mama pasti apartemenku akan terlihat lebih manis. Kalian pasti tau kemampuan para ibu dalam mempercantik tampilan isi rumah dong.
"Gimana, Nak, hubunganmu dengan Bram?"
Eh iya, aku lupa belum kasih tau orangtuaku. Ahh, feeling seorang ibu emang ga pernah salah deh. Pasti Mama merasa ada yang aneh. Entah pembawaanku atau apalah itu.
"Emm, itu ma... Aku... Aku udah putus sama Bram."
Mama nggak kaget atau pura-pura kaget. Cuma terlihat alisnya yang naik dan sedikit menghembuskan nafas dari hidungnya.
"Oh, gitu ya. Ya, mama sudah melihat sepertinya hubungan kalian agak sedikit dipaksakan. Tapi mama nggak mau melarang kamu. Mama lihat Bram cukup baik, tapi sepertinya gak dalam sebuah hubungan ya Nak. Kamu... Kamu baik-baik saja kan, sayang?"
Mama menghampiriku dan merangkul aku.
"Iya, Ma. Aku gak kenapa-napa."
Mama senyum.
"Mama gak mau bicara tentang Bram. Tapi bersyukurlah kamu sudah diberi tahu oleh Tuhan, bagaimana sifat buruknya. Mama juga nggak mau tahu alasannya, sepertinya kamu sudah bisa menghandlenya. Anak mama kan, yang paling cantik dan kuat," ia mengacak-acak rambutku dan tersenyum. "Terus, kamu ada rencana apa, Nak?"
"Aku cuma mau fokus ngurusin restoran aja, Ma."
"Bagus itu. Kamu bisa expand bisnismu. Tenang, sayang. Orang-orang disekitarmu bisa kamu andalkan."
Aku terharu banget, seneng banget rasanya punya orangtua dan lingkungan yang suportif sekali. Ini adalah bagian dari rezeki.
"Makasih ya, Ma," aku memeluk ibuku. "Om Matthew apa kabar, Ma? Aku kangen juga sama dia."
"Ah, dia sibuk kesana kemari. Sepertinya sih dia emang mau menghabiskan waktunya jalan-jalan disini."
Hmm... Aku juga kangen waktu di rumah Daddy, jam segini mungkin aku bisa ngobrol sama temennya Matthew yang satu itu.
"Teganya, dia gak ngajak aku."
Mama tertawa lepas. Dia inget banget bagaimana waktu itu Matthew bantu dia menjagaku di Jakarta.
"Menurut mama sih, dia pengen menjalani 'perjalanan spiritual' atau apapun itu lah istilahnya," Mama terkekeh sendiri. "Dia kemarin nengokin kamar kamu loh. Lupa kali dia, kalau kamu udah pindah, hahaha."
"Aku nanti telepon dia."
"Iya. Ajak dia makan, Nak."
"Urusan kecil itu ma," kataku, menjentikkan jempol dan telunjukku.
Untuk sejenak aku dan Mama mondar mandir mindahin barang ke tempat yang cocok. Kita berunding, lebih cocok ditaruh di sebelah sini, atau disitu. Sampai jam 5, aku dan Mama mulai merasa kelaparan. Kita masih punya makanan yang Mama bawa dari rumah.
"Nak, kamu sudah samperin Jeff?"
Hah, kok Mama tiba-tiba nanyain dia yah? Ahh, mungkin pikiran sempit aku aja kali.
"Hmm, belum sih Ma. Aku belum tau persisnya dia tinggal dimana. Aku kayak pernah dengar nama hotel tempat dia tinggal itu. Tapi aku lupa-lupa inget."
"Oh, ya, Mama pagi itu lagi cari Jeff, mau tawarin sarapan, tapi kok tiba-tiba, bocah itu hilang. Matt cerita sih sama Mama kalau dia tinggal di hotel sampai nanti dia balik ke US. Mama kira kamu tahu kenapa. Padahal Mama senang banget kalo di rumah kita ada tamu yang nginep."

KAMU SEDANG MEMBACA
"Jeff" - Completed
RomantikSaat bertemu dia, aku masih lugu. Tidak tau apapun, tidak memiliki apapun. Maklum, aku hanya seorang siswi SMA yang baru kenal 'pacaran'. Tapi, sekejap aku lupa segala hal saat ia berkenalan denganku. Kisah kami mulai dari situ.