O

1.8K 196 8
                                    

"Kita harus menemui Mr. Tumnus!" kata Lucy girang.

"Tunggu dulu" Peter menolehkan wajahnya pada Edmund. "A little liar, huh?"

"Pete, sudahlah" Susan menepuk bahu Peter.

"Say apologize"

Edmund mengedikkan kepalanya. "Sorry" gumamnya.

"Yeah, tak apa" kata Lucy girang. "Ayolah, temui Mr. Tumnus!"

"Tunggu. Kita tidak bisa pergi dengan pakaian seperti ini" Peter kembali ke dalam lemari dan keluar membawa setumpuk mantel, lalu membagikannya.

"Aku tidak perlu, terima kasih" tolak Percy sambil tersenyum. Peter menaikkan alisnya.

"Oh, baiklah" ia memberikan mantel tersebut pada Edmund.

"Tapi ini mantel perempuan!" protesnya.

"Yeah, aku tahu"

~#~

"Rumah Mr. Tumnus ada di sini" kata Lucy. Mereka mendaki bukit kecil. Di kejauhan, terlihat sebuah pondok yang telah rusak.

"Apa kau yakin, Lu?" tanya Susan.

Tanpa berkata apapun, Lucy berlari ke dalam pondok tersebut.

"Lucy!" mereka mengikuti Lucy ke dalam pondok tersebut.

"Oh tidak.."

Peter memungut sebuah pigura yang memuat foto seorang pria berkaki kambing. Ia mengernyitkan dahi.

"Jadi, ini Mr. Tumnus?" tanyanya. Semuanya mendekat dan melihat foto tersebut.

"Ia seorang satyr?"

"Satyr? Apa itu? Mr. Tumnus adalah seorang faun" koreksi Lucy.

"Bertemu mitologi Romawi lagi, wise girl.." Percy menyenggol bahu Annabeth.

"Seaweed brain.." tegur Annabeth. Percy hanya nyengir.

"Lihat ini" kata Edmund. Ia tampak memegang selembar kertas.

"Apa isinya?" tanya Susan. Edmund menyerahkannya pada Peter dan Peter membacanya.

 Edmund menyerahkannya pada Peter dan Peter membacanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Warrant of Arrest
by order of her majesty

The faun Tumnus is hereby charged with high treason against his imperial Majesty
Jadis, Queen of Narnia, for comforting her enemies and humans

Signed, Maugrim. Captain of the secret police

LONG LIVE THE QUEEN" bacanya.

"Kita seharusnya tidak di sini" kata Susan.

"Tapi kita harus menolong Mr. Tumnus!" protes Lucy.

"Kita harus meminta bantuan polisi" usul Peter.

"Apa kau sudah gila? Yang membuat surat itu adalah kepala polisi di sini" kata Annabeth, membuat Peter berjengit.

"Kalau begitu, benar kata Susan. Kita harus kembali"

"Tidak!" jerit Lucy. "Apa kau tidak mengerti?! Manusia yang ia selamatkan adalah aku!"

Mereka saling pandang sejenak. Terdengar suara ketukan di jendela. Mereka menoleh dan melihat seekor burung kecil. Tatapannya seolah mengisyaratkan mereka untuk keuar.

"Ayo kita lihat" mereka keluar dari pondok. Ada seekor berang-berang di sana.

"Kemarilah, binatang kecil.." Peter menjentikkan jarinya di depan wajah berang-berang tersebut.

Berang-berang tersebut menatapnya sejenak. "Apa kau mau aku menggigit jari-jarimu? Lagipula aku punya nama. Briever"

Peter tersentak kaget. Percy bertatapan dengan Annabeth. Seumur hidupnya memang dipenuhi dengan keanehan, namun tidak seaneh dunia di dalam lemari, atau hewan-hewan yang berbisara. Oh, kecuali kuda-kuda yang bisa ia pahami, tentu saja.

Berang berang tersebut menoleh pada Lucy. "Lucy Pevensie?"

"Ya?" Lucy maju dengan ragu-ragu. Briever mengulurkan sebuah sapu tangan putih.

"Tumnus menitipkannya padaku sebelum ia ditangkap. Oh, sungguh faun yang malang"

"WIse girl, aku benar-benar bingung" bisik Percy.

"Kau pikir aku tidak?"

Saat Annabeth mengatakannya, seekor rubah oranye menghampiri mereka. Briever langsung merangsek maju dengan tersulut.

"Hadapi aku, pengkhianat! Kau telah mengkhianati Aslan yang agung!" serunya.

"Haah.. Selalu kemiripan yang menyebalkan" rubah itu mendesah. "Aku ada di pihak Aslan. Aku akan menyampaikan kabar bagus pada kalian semua"

"Kabar apa?" tanya Briever.

"Aslan tengah mengumpulkan pasukannya, di dekat Chair Paravel" sontak saja mata Briever melebar.

"Itu berarti--"

Sebelum Briever menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara lolongan serigala.

"Mereka ke sini! Cepat sembunyi!" instruksi rubah.

"Tapi di mana?" tanya Susan panik.

"Sembunyi di atas pohon!"

Mereka semua berebut untuk naik. Begitu naik, beberapa ekor serigala muncul. Mereka menuding rubah yang menatap serigala-serigala itu tanpa ekspresi.

"Di mana para manusia itu?!" serunya.

"Aku tidak tahu" alibi rubah. Salah satu serigala menggigitnya.

"Katakan!" geramnya.

"Mereka pergi ke utara" kata rubah itu dengan suara tercekik.

"Ayo!" serigala itu melempar rubah dan berlari ke arah utara.

"We're safe right now"

~#~


A/N

Sorry for late update! Saya tahu, ini sedang liburan. Tapi saya benar-benar sedang buntu ide. Jadi baru sekarang bisa update. Saya usahakan kedepannya akan lebih cepat. Maaf juga kalau ceritanya terlalu pendek karena alasan yang sama. Oh ya, kalau ada yang bingung dengan jalan ceritanya, ini beda dengan di film. Memang alurnya sama, hanya saja di beberapa bagian saya ubah.

Keep vote+comment guys!

Time And SpaceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang