N

1.4K 169 4
                                    

"Aku akan membagi pasukan ini menjadi tiga bagian. Bagian pertama, maju terlebih dulu untuk pengalih perhatian," kata Peter. "pasukan kedua menyerang setelah pasukan pertama. Dan pasukan terakhir merupakan pemanah"

"Sebaiknya sebelum semuanya menyerang, kirim griffin untuk melemparkan batu ke musuh." usul Percy. "Kemudian pasukan pertama terdiri dari centaur dan penunggang kuda"

Peter menoleh pada Percy dengan pandangan meremehkan. "Siapa pemimpin di sini? Kau?"

"Tidak juga. Aku hanya memberi saran." kata Percy sarkastis.

"Aku tidak membutuhkannya"

Percy menggelengkan kepalanya. "Percayalah padaku. Aku sudah membunuh ratusan monster dan aku sudah pernah berada dalam dua perang besar sebelumnya. Kau belum berpengalaman"

Peter sudah hendak menyambar, ketika Annabeth menyela. "Bisakah kalian berhenti? Masalah ini tidak akan selesai kalau kalian terus bertengkar"

Percy terdiam. Begitu pula dengan Peter. Edmund menatap Annabeth takjub. Baru pernah ada orang yang bisa begitu mengintimidasi seperti Annabeth.

"Bagus. Aku akan mengusulkan beberapa strategi. Kuharap kalian bisa diam memerhatikan"

Annabeth mulai menginstruksikan strategi-strategi. Hebatnya, semua mendengarkan. Edmund yang semula tidak memerhatikan menjadi lebih serius.

"Kau benar-benar ahli strategi terbaik, wise girl" celetuk Percy setelah Annabeth selesai berbicara.

"Percy benar. Strategi itu benar-benar tepat"

Annabeth tersenyum. Menurutnya, strategi tersebut hanyalah strategi biasa. Pasukan akan dibagi menjadi tiga, penyerang, penyokong, dan pemanah. Sebelum menyerang, para griffin akan dikirim untuk mengalihkan perhatian.

Annabeth sendiri akan bergabung dengan pasukan penyerang dengan Percy dan Peter. Ia akan menunggangi Porkpie, sementara Peter menunggangi unicorn putih.

"Percy, sebaiknya kau panggil Blackjack"

Percy mengangguk. Ia sedikit menjauh, dan bersiul keras. Sekonyong-konyong, muncul siluet hitam bersayap dari kejauhan. Siluet tersebut membesar, dan kaki-kaki kudanya terlihat.

Blackjack mendarat dan meringkik. Blackjack menyundulkan kepalanya ke tubuh Percy. Percy mengelusnya pelan.

"Lama tidak bertemu, kawan"

Blackjack meringkik. 'Kau memanggilku ke sini, bos? Sulit sekali untuk terbang ke sini'

Percy tertawa. "Ini darurat, Blackjack"

'Apa kau bawakan aku donat?'

"Oh, ayolah. Di sini tidak ada donat"

Blackjack meringkik gusar. Percy melompat ke punggung Blackjack, dan Blackjack langsung membubung di angkasa. Blackjack terbang melewati tebing. Di sana sudah ada pasukan Jadis, berjalan maju dengan cepat.

'Makhluk-makhluk itu buruk rupa sekali'

Percy mengabaikan perkataan Blackjack, dan membawanya kembali. Di base camp, Peter tengah mengumpulkan pasukan dan menyerukan strategi mereka. Blackjack mendarat, dan Percy melompat turun.

"Pevensie! Mereka sudah datang!" seru Percy.

Peter menoleh kaget. Ekspresinya seolah berkata, serius?! Annabeth mendengarnya dan langsung berlari menghampiri Percy.

"Benarkah? Tidak kuduga," Annabeth menghadap pasukan. "kalian semua sudah mengerti, bukan?! Bersiaplah! Ini adalah perang sesungguhnya!"

Dengan instruksi Annabeth, pasukan memecah diri. Para pemanah memosisikan diri di tebing tinggi. Pasukan penyerang bersiap-siap di bawah tebing. Sementara para penyokong menunggu bersama pasukan pemanah.

Annabeth sendiri menaiki Porkpie. Ia dan Percy terbang dan berhenti di depan pasukan penyerang.

"Griffin, maju!" seru Annabeth.

Para griffin terbang membawa batu-batu besar dan menjatuhkannya di tengah pasukan Jadis. Jadis terlihat menebas salah satu di antara mereka, dan mengubah yang lain menjadi batu. Jadis berdiri di sebuah kereta yang ditarik dua makhluk besar berbulu.

Pasukan Jadis terdiri dari minotaur, beruang, dan banyak monster lainnya. Pasukan tersebut dipimpin oleh seekor minotaur besar.

"Pasukan penyerang, maju!" seru Annabeth.

Peter berseru di bawah. Mereka merangsek maju, dan bertemu dengan pasukan Jadis. Percy dan Annabeth terbang menghampiri Jadis. Percy menebas seperti kesetanan, begitu pula Annabeth.

Jadis mendongak, saat Oreus menyerangnya. Terdisorientasi, Jadis langsung mengubahnya menjadi batu. Patung Oreus terjatuh berdebum.

Awalnya, pasukan Jadis unggul, maka Peter berseru untuk mundur. Seluruh pasukan berlari mundur, disertai panah-panah yang menghujani pasukan Jadis. Percy memutar Blackjack dan terbang rendah, hendak menyerang Jadis.

Jadis otomatis mendongak dan menusukkan pisau berburunya ke tubuh Blackjack. Blackjack mendengking dan terjatuh. Percy jatuh tersungkur di tanah.

"Seaweed brain!" Annabeth mengulurkan tangannya pada Percy. Percy meraihnya dan duduk di punggung Porkpie. Jadis menyerangnya, dan pisaunya mengenai pergelangan kaki Percy. Percy mengaduh pelan.

"Percy!" seru Annabeth.

"Aku tidak apa-apa. Cepatlah!"

Annabeth memacu Porkpie dan mendarat di belakang pasukan. Percy mengulurkan tangannya, berkonsentrasi. Ia mengirimkan semburan air raksasa ke pasukan Jadis. Namun semburan tersebut tidak seintens seharusnya, karena konsentrasi Percy buyar. Pergelangan kakinya berdenyut-denyut, sehingga ia tidak bisa konsentrasi. Kemudian ia sadar. Pisau itu bukan pisau biasa. Pisau Jadis membekukan perlahan, dan semakin menyebar.

Di tengah peperangan, Percy mendengar Peter meneriakkan nama Edmund. Menyadari apa yang terjadi, Percy bergegas turun ketika suara tersebut terdengar.

Raungan Aslan. Kakaknya belum benar-benar mati

~#


A/N

I'm back! Maaf karena saya bilang sebelumnya kalau bakal update setelah dua minggu. Tapi ternyata ada banyak kendala jadi baru bisa update. Maaf sekali lagi. Saya usahakan kedepannya lebih cepat.

Keep vote+comment! Merci!

Time And SpaceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang