Minggu pagi yang biasa aja, ga mendung ga cerah ga hujan, Huda dan Nia blusukan ke hutan tempat mereka tersesat dulu. Kali ini mereka bukan mau tersesat di hutan lagi, tapi mau berburu.
Huda berjalan di depan dengan memanggul senjata senapan angin, langkahnya meyakinkan mirip gerilyawan berangkat perang.
Sementara di belakangnya, Nia terlihat sedikit kepayahan. Salah sendiri sih, masuk hutan pake stiletto.
"Tungguin dong, Mas. Jalannya barengan biar cepet sampai..." seru Nia.
Huda menurunkan kecepatan langkahnya. Menunggu Nia.
"Setiap ke hutan ini, aku selalu teringat kamu deh, Sayang," kata Huda kemudian.
"Maksudnya, Mas?" Nia ga ngerti.
Huda nyengir onta.
"Sama-sama lebat, ahihihi...."
"Apaan sih" Nia masih ga ngerti.
"Hutan ini banyak pohonnya.." Huda mengalihkan pembicaraan.
Nia menatap ke sekeliling.
"Iya Mas, banyak pohonnya. Ga asik. Cari hutan lain yuk Mas, yang ada mall-nya gitu..."
Huda diem saja sambil mempercepat langkahnya. Males nanggepin omongan orang stress.
Lokasi berburu masih jauh. Mereka melewati jalan setapak yang mulai bersemak. Soalnya jalan itu jarang banget dilalui orang.
"Yang kita buru apa aja nanti, Mas?"
"Apapun. Rusa, kancil, kijang, kadal rusia, ikan gabus, semut rang rang. Semua ditembak..."
Nia manggut-manggut, lalu kembali bertanya.
"Kalo babi?"
"Mmm... Kalo itu enggak deh.."
"Loh, kenapa babi ga ditembak, Mas? Cieee... Takut ditolak yaa..?"
Huda menoleh ke arah Nia. Tersenyum.
"Ga mungkinlah, Sayang. Masa nembak sodaramu. Kasian..."
"Hehehe iya lupa. Dia kan sodara sepupuku.."
"Hih!" Sungut Huda.
"Susah emang ngobrol sama karet gelang. Ga mau ngalah! Ngalah kenapa sih sama cowok?"
"Kebalik Mas, yang mustinya ngalah itu cowok!"
"Cewek kalik!"
"Cowok tauk!"
"Cewek!"
"Ya cowoklah.."
"Cewek! Pokoknya cewek! Titik!"
"Pokoknya cowok! Titik!"
"Cewok! Ya cewok aja, biar adil.."
Nia tertawa.
"Yaudah, cewek aja yang ngalah gapapa..."
"Hehehe. Cowok deh, cowok. Emang udah kodratnya sih, cowok harus ngalah.."
"Nggak Mas, cewek yang sebenarnya harus ngalah."
"Cowok dong.."
"Cewek ih!"
"Cowok!"
"Cewek!"
Mereka terus berdebat tanpa ada yang rela ngalah, hingga tau-tau perjalanan mereka sampai di sebuah sungai kecil. Untuk menyebrangi sungai itu, mereka harus melalui jembatan kayu yang terlihat sudah lapuk.
"Cewek!"
"Udah, Sayang. Udah. Tahun depan diterusin lagi debatnya," tegas Huda. Nia diam menurut.
"Sekarang, yang perlu kita pikirin adalah menyebrangi sungai ini. Lokasi berburunya di sebrang sungai."
"Emm... Sayang nyebrang duluan ya?"
Mata Nia sedikit terbelalak.
"Kok aku sih, Mas?"
"Lah... Kan cowok harus ngalah, Sayang? Kalo aku yang nyebrang duluan, dan kamu ditinggal di sini sendirian, nanti kalo dari belakangmu ada harimau gimana? Kan kasian harimaunya, dapat daging kurus.."
"Tapi jembatannya Mas, jembatannya. Lihat deh, udah keropos di seribu tempat! Nanti pas lagi enak-enak jalan tiba-tiba ambruk, trus aku jatuh..."
"Ya jatuh paling-paling ke bawah kan, Sayang? Lagian Sayang udah punya pengalaman jatuh dari khayangan. Ayo dong.." bujuk Huda
"Kita nyebrang sama-sama aja, Mas?" Nia memberi usul.
"Ini dilewati satu orang aja belum tentu kuat loh, Sayang. Apalagi berdua?"
"Aduh, Mas. Jangan menilai sesuatu cuma dari luarnya. yang kelihatannya rapuh, belum tentu aslinya rapuh, bisa saja dia itu kuat. Begitupun jembatan ini..."
Huda memandang Nia takjub.
"Tumben ngomongnya..."
"Kita nyebrang bareng, aku ga bisa jauh darimu, Mas. Kalo selamat, selamat berdua. Andai jatuh, ya jatuh bersama-sama."
"Tapi aku masih ga yakin sama jembatan ini sih, Beb?" kata Huda, seraya memperhatikan kondisi jembatan dengan seksama dan dalam tempo yang agak lama.
"Makanya kita coba dulu. Kalo cuma ngobrol gini terus kapan kita sampai ke seberang? Segala sesuatu itu harus dicoba dulu, supaya..."
"Kok ngomongnya gitu sih, Sayang? Aku ga suka!" potong Huda.
"Kamu berubah. Sekarang jadi bijak. Jangan kebanyakan nonton Mario Teguh deh..."
Lanjut Huda, yang lebih suka Nia tampil error kayak biasanya.
"Baiklah, kita nyebrangnya barengan," Huda akhirnya setuju.
Setelah berdo'a cukup lama dan bersalaman berma'af-ma'afan, merekapun bersiap-siap menyeberang.
Sebelum menyebrang, mereka menengok kanan kiri, takut ada mobil lewat. Dan dengan bergandengan tangan yang erat, mereka mulai menapaki jembatan selangkah demi selangkah. Jantung mereka deg-degan. Kaki mereka sedikit bergetar. Takut kayu jembatannya tiba-tiba ambruk tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Akhirnya, setelah 5 menit yang mendebarkan, mereka sampai di seberang dengan selamat.
"Hiaaaa! Benar kan Mas ga apa-apa, segala seuatu musti dicoba dulu..." seru Nia kegirangan.
"Iya. Kamu bener, Beb."
"Yaudah yuk, kita nyebrang kembali ke tempat yang tadi."
Huda melongo dan mengernyitkan dahi. Ga ngerti.
"Lha tadi kan cuma nyoba, jembatan masih kuat atau ga. Ternyata masih,"
jelas Nia, kemudian meraih tangan Huda dan menariknya kembali menyebrang.
Huda ngikut saja, meski ia merasa seperti sesuatu ada yang salah. Begitu sampai di seberang.
"Nah, sekarang baru nyebrang yang beneran, Mas. yuk ah, keburu sore.."
"I.. iya, Sayang. Sekarang baru nyebrang yang beneran..."
Merekapun menyebrang sekali lagi. Karena sudah yakin jembatannya masih kuat, kali ini langkah mereka lebih ringan dan tidak sehati-hati tadi. Dan, menjelang mendekati tengah-tengah jembatan, tiba-tiba....
BRAAAKKK!!!
Kemudian...
BYUURRRR!!
Jembatan kayu yang sebenarnya memang sudah rapuh itu patah! Akibat tidak kuat menahan beratnya cinta Huda dan Nia.
Semoga mereka ga apa-apa.
×××××
Tunggu Cerita Huda Dan Nia Selanjutnya..
Happy Reading..
KAMU SEDANG MEMBACA
Huda dan Nia
HumorHuda, sosok pemuda ganteng yang di kenal sangat pelit, menjalin asmara dengan Nia, gadis lugu yang suka sekenanya kalau bicara. Bagaimana hubungan asmara mereka, yuk baca keseruan ceritanya. Instagram: @hudabaper
