Pantai Senja Di Sore Hari

327 14 1
                                        

Sepulang kerja aku menjemput Nia ke tempatnya kerja. Meski berbeda bidang pekerjaan, sabtu akhir pekan seperti ini kami kerap pulang bersama-sama. Tapi tidak langsung pulang, kami biasanya singgah di Pantai Senja dan baru pulang ke rumah 20 menit sebelum magrib. Nama sebenarnya bukan pantai Senja, tapi karena kami merasa dunia ini sudah milik kita berdua, kami sering sesukanya jika memberi nama sesuatu termasuk Pantai.

Tak banyak yang dilakukan di sana. Hanya duduk menanti senja, makan kacang , minum es kelapa muda, dia bercerita tentang hari-harinya, aku mendengarnya sesekali ikut bercerita. Jika senja tiba, kami akan melepas alas kaki, menggulung celana, lalu berjalan menyusuri bibir pantai.

"Nanti malam kita kemana ya? Nonton bola tapi Persela mainnya masih lama.."

Dia diam, malah asyik bermain-main dengan ombak. Mengejar ombak yang menjauh, ketika ombak kembali datang, gantian dia yang dikejar. Dia lari sambil tertawa keras dan lepas. Aku tersenyum sendiri melihat tingkah kekanak-kanakannya itu.

"Kamu bukan ABG lagi Mas?" Nia berkata sambil sedikit ngos-ngosan.

"Memangnya kenapa?"

"Udah bukan waktunya lagi Mas sibuk mikirin tujuan malam minggu. Pikirin tuh tujuan hidup. Pikirin juga masa depanmu.."

Aku tersenyum, menatap matanya yang menatapku. Mata yang indah. Begitu indah malah. Sampai sulit aku menilai mana yang lebih indah, matanya dia atau matahari senja di kaki langit sebelah barat sana.

"Setiap hari, Sayang. Setiap hari aku memikirkan masa depanku.."

"Jangan cuma dipikirin, tapi juga harus dikejar!" tegasnya, sambil tangannya sibuk menyingkirkan beberapa helai rambutnya yang tergerai menutupi wajah karena tertiup angin pantai.

Aku membantunya, menyingkirkan rambut dari wajahnya. Rambutnya yang lurus hitam bagus dan lembut itu memang mudah dikibarkan angin.

"Ngapain juga masa depan dikejar?" jawabku kemudian.

"Kok ngapain sih?!!" Nia melotot tidak terima.

"Lha iya ngapain dikejar? Masa depanku kan sudah ada di depanku sekarang..."

"Gombaaaallll!" serunya sambil berusaha meninju lenganku.

Aku lari menghindar. Nia mengejar. Aku berhenti. Menunggunya.

"Dasar kuman kampret..." katanya cemberut setelah berhasil menyusulku. Lenganku kembali ditinjunya pelan. Kali ini aku pasrah saja.

"Kalo bener aku masa depannya Mas, buktiin dong!" cibirnya.

"Boleh. Caranya?"

Dia tampak memikirkan sesuatu. Lalu memandangku tajam.

"Lamar aku!"

"Hah?!" aku tercekat dan langsung terdiam.

"Kita bersama sudah dari 2013, 2014, 2015, 2016 dan sekarang 2017. Lalu sampai duaribu berapa lagi kita akan gini-gini terus Mas?!"

Aku semakin terdiam.

"Emang Mas ga malu sama keong racun?" dia bertanya.

"Malu kenapa? Kenal aja enggak!"

"Tak kasih tau deh Mas. Keong racun itu, baru kenal udah ngajak tidur loh. Nah mas Huda, udah 5 tahun pacaran, ngelamar aja ga berani!"

Jleb! Rasanya seperti terhempas nyungsep ke dalam pasir! Dalem banget nih. Dalem!

Seorang Huda yang kerennya keparat ini ternyata derajatnya masih di bawah keong racun!

"Diem aja sih Mas?"

"Baiklah Beb, aku akan lamar kamu..." kataku tanpa pikir panjang.

Dia kembali menatapku, kali ini dengan sorot lembut dan cukup lama. Aku tau, dia sedang mencari keseriusan atas pernyataanku barusan. Aku berpaling. Tidak kuat walau untuk sedetik lagi. Tatapan seperti itulah selalu meluluhkan hatiku setiap dia meminta sesuatu. Dan sepertinya dia sudah hapal kelemahanku satu ini.

"Udah dong Beb biasa aja natapnya. ini serius, aku akan melamarmu..."

"Kapan Mas?" tanyanya semangat.

"Sekarang!"

"Hah?!"

Gantian dia yang terkejut dan terdiam.

"Haha Rasaiin!!!"

 

×××××
Tunggu Cerita Huda Dan Nia Selanjutnya..

Happy Reading..

Huda dan NiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang