Jadwal pelajaran Min seonsaengnim hanya satu kali dalam seminggu. Selama tidak ada jam pelajarannya, Yoongi aman dari hukuman. Karena meskipun dia banyak bicara kasar, guru-guru tidak akan sekejam itu menghukumnya. Paling-paling hanya disuruh membersihkan toilet, atau berlari mengelilingi lapangan.
Dia masih dingin padaku saat di sekolah. Saat jam makan siang misalnya. Aku dan Soomi duduk di meja yang berada tepat di depan pintu masuk. Meja ini terlalu panjang untuk ditempati dua orang saja. Tapi selain kami berdua, tidak ada satu pun siswa lain yang duduk di sana. Aku berusaha tidak memedulikannya dan memakan makan siang yang kuambil. Tiba-tiba saja, Soomi menyikut lenganku lalu mengisyaratkan padaku untuk melihat ke depan. Taehyung dan Yoongi datang menghampiri kami.
Saat pandanganku dan Yoongi bertemu, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya, lalu berputar dan duduk di meja lain.
"Yoongi-a!"
Yoongi tidak mengacuhkannya. Taehyung tampak ingin menghampirinya, tapi dia bimbang untuk beberapa saat, lalu ia pun memutuskan untuk mengabaikan dan pergi ke meja kami. Dia duduk di hadapanku.
"Aku duduk di sini," ujarnya tanpa menatap orang yang diajaknya bicara.
Soomi mengetukkan ujung sumpitnya ke wadah makan Taehyung. Pria itu mendongak. "Yoongi kenapa duduk di sana?"
Taehyung menoleh ke belakang sekilas, lantas menggendikkan bahu. "Jangan tanya padaku, aku juga tidak tahu."
Lalu entah bagaimana aku sudah berdiri, sambil membawa tempat makanku, dan dengan dorongan kuat Soomi dari belakang, kakiku pun terayun mendekati meja yang ditempati Yoongi. Aku berhenti di dekatnya. Dia yang akan memasukkan suapan yang entah ke berapa, berhenti hanya untuk melihatku.
"Boleh aku duduk di sini?" tanyaku, tidak memedulikan ekspresi kesalnya.
Ia membanting sendoknya ke atas wadah makanan itu, menimbulkan bunyi berisik yang sanggup menarik perhatian orang-orang di sekitar kami. Detik berikutnya dia mendadak bangkit. Tanpa melihatku dia pun berujar, "duduk saja, ini meja umum." Lalu beranjak ke bagian penampungan wadah makanan kotor, dan pergi meninggalkan kantin. Sekarang tersisa aku sendirian di sini, dipandang banyak orang dengan tatapan bertanya-tanya, seolah aku baru saja membuat seseorang menangis. Aku pun berdehem untuk menghapus rasa maluku, lalu duduk di tempat yang sebelumnya diduduki Yoongi.
Sekarang aku tidak berselera makan.
--
Kepala Yoongi muncul dari balik pintu gerbang begitu aku menekan bel untuk ketujuh kalinya. Dia menatapku sebentar, lalu membuka pintu itu lebar-lebar, membiarkanku masuk.
Lampu ketiga dari pintu gerbang masih padam. Aku berjalan memasuki rumahnya dengan dia di belakangku. Sesampai di ruang makan rumahnya, aku mengeluarkan semua makanan yang kubawa. Dia pergi ke dapur untuk mengambil alat-alat makan. Tidak seperti kemarin, dia hanya membawa dua.
"Kihyun tidak datang ke sini lagi?" tanyaku.
"Dia akan datang setelah les-nya selesai," jawabnya tanpa menatapku.
Aku hanya mengangguk lantas mendorong box nasi ke hadapannya. "Kalau begitu makanlah."
"Kau tidak makan?"
"Aku masih terlalu kenyang," balasku sambil duduk. Mengingat kejadian tadi siang membuat selera makanku lenyap begitu saja. Meski perutku rasanya kosong, aku sama sekali tidak tertarik dengan makanan di hadapanku. Bahkan untuk duduk di sini, memandangnya saja aku sudah enggan sekali.
"Kau marah padaku?"
Aku menatapnya –yang masih tidak mau menatapku. Apa dia bertanya karena tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? Bolehkah sekali saja aku muak pada sikapnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Stereotype (BTS & Monsta X) [Completed]
Fanfiction[SELESAI] [sudah ada sequel Name of Love] "We all use stereotype all the time, without knowing it...." Paul, 1998 RANK: #87 - taehyungbts, #47 - yookihyun (13/05/18)
![Stereotype (BTS & Monsta X) [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/96037586-64-k388766.jpg)